Indonesia-Malaysia

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
07/9/2018 05:30
Indonesia-Malaysia
()

Djadjat Sudradjat

 

SEPTEMBER ialah bulan baik bagi Indonesia-Malaysia. Di bulan ini perseteruan kedua negara, yang berkonfrontasi sejak 1961, pada 1 September 1967 diakhiri. Mereka resmi membuka hubungan diplomatik.

Lembaran baru sahabat lama pun dibuka. Rasa saling percaya ditumbuhkan dan saling curiga dilumpuhkan. Kedua negara beda penjajah ini bersepakat menatap ufuk masa depan.

Kabar gembira itu diumumkan di Kuala Lumpur bertepatan 10 tahun kemerdekaan Malaysia. Tentu ada perasaan lega yang tak tertahankan. Hari-hari saling memaki dan benar sendiri menjadi bagian dari masa silam yang harus dikuburkan. Kedua negara, bahkan kemudian mempelopori berdirinya perhimpunan negara Asia Tenggara alias ASEAN.

Bung Karno memimpin langsung aksi 'Ganyang Malaysia' itu. Pidatonya yang menggelegar pada 27 Juli 1963 merupakan genderang perang yang tengah ditabuh. Meski terjadi puluhan tahun silam, ia semacam simpanan gelora nasionalisme yang kapan saja bisa diambil dan dinyalakan.

'Ganyang Malaysia' bermula karena ambisi Malaysia berupaya menggabungkan Singapura, Brunei, Sarawak, dan Sabah dalam Federasi Malaya. Itu yang disebut Bung Karno neokolonialisme atau kolonisasi baru. Bung Karno dengan tegas mendukung hak Brunei untuk merdeka. Bahkan, Kapten Azahari, perwira pejuang kemerdekaan Brunei, semula perwira Indonesia yang belajar militer di Yogya.

Bagi Republik Indonesia, yang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 menolak penjajahan di atas muka bumi, upaya Malaysia itu bagian dari penjajahan baru.

Sebenarnya Soekarno tak mengapa, asal pembentukan Federasi Malaya melalui plebisit yang dimotori PBB, terutama untuk mengetahui keinginan rakyat Kalimantan bagian utara.

Namun, Inggris yang sesungguhnya di belakang ambisi Federasi Malaya itu tak mengindahkan lagi plebisit PBB. Federasi itu bahkan akan memberikan hak kepada Kerajaan Inggris untuk melanjutkan penempatan pangkalan militer mereka yang bisa digunakan bila diperlukan untuk memeliharta perdamaian di kawasan Asia Tenggara.

Itulah yang membuat Bung Karno murka. "Malaysia tidak akan menjadi tetangga yang baik," demikian ia berkonklusi. Alangkah bahayanya Malaysia. 'Ganyang Malaysia' pun terus digemakan. Ia juga tersimpan di dalam kesadaran kita yang bisa digunakan setiap dibutuhkan. Padahal, kini kedua negara berupaya sekuat tenaga membangun dan menjaga hubungan yang lebih berkedalaman.

Beberapa hari setelah dilantik, misalnya, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad memilih Indonesia sebagai negara pertama lawatannya. Mahathir ialah pengagum Bung Karno. Ia pun mendapat predikat 'Soekarno Kecil'.

Pemimpin politik Anwar Ibrahim, yang dulu menjadi seteru 'Dr M'-–demikian Mahathir dipanggil--dan kini bersekutu dengan Mahathir, malah tak terbilang kali mengunjungi Indonesia. Di Indonesia, ia mempunyai banyak sahabat, seperti tanah airnya yang kedua.

Konfrontasi belum usai. Reaksi kita atas pesilat Malaysia Mohd Al Jufferi, yang merusak fasilitas Asian Games di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah, 27 Agustus lalu, karena dikalahkan pesilat Indonesia Komang Harik Adi Putra, juga memunculkan konfrontasi laten itu. Jufferi merasa juara dunia pencak silat tiga kali dan Komang belum sebesar dirinya. Ia menuduh wasit berbuat lancung. Jufferi atlet bereputasi besar, tapi ia bermental kerdil.

Akhirnya lembaran lama dibuka kembali. SEA Games 2017 di Malaysia, misalnya, Indonesia dicurangi berkali-kali. Bahkan, bendera Indonesia pun dipasang terbalik di buku panduan. Namun, tak ada destruksi dari kita. Indonesia menghormati keputusan wasit meski tersimpan rasa sakit.

Jatuhnya Pulau Sipadan dan Ligitan ke tangan Malaysia lewat putusan Mahkamah Internasional, Den Haag, pada 2002, juga kerap memunculkan simpanan frasa 'Ganyang Malaysia'. Terlebih begitu banyak klaim Malaysia atas produk kesenian kita. Beberapa kasus perlakuan kasar aparat Malaysia terhadap WNI di Malaysia juga kerap menjadi faktor pembuka catatan lama: 'Ganyang Malaysia.

Memperingati setengah abad lebih hubungan diplomatik Indonesia-Malaysia agaknya butuh relasi yang lebih kultural, tanpa harus kehilangan semangat kompetisi sebagai dua bangsa. Agar semangat 'Ganyang Malaysia' benar-benar melesap.
.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima