Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Djadjat Sudradjat
SEPTEMBER ialah bulan baik bagi Indonesia-Malaysia. Di bulan ini perseteruan kedua negara, yang berkonfrontasi sejak 1961, pada 1 September 1967 diakhiri. Mereka resmi membuka hubungan diplomatik.
Lembaran baru sahabat lama pun dibuka. Rasa saling percaya ditumbuhkan dan saling curiga dilumpuhkan. Kedua negara beda penjajah ini bersepakat menatap ufuk masa depan.
Kabar gembira itu diumumkan di Kuala Lumpur bertepatan 10 tahun kemerdekaan Malaysia. Tentu ada perasaan lega yang tak tertahankan. Hari-hari saling memaki dan benar sendiri menjadi bagian dari masa silam yang harus dikuburkan. Kedua negara, bahkan kemudian mempelopori berdirinya perhimpunan negara Asia Tenggara alias ASEAN.
Bung Karno memimpin langsung aksi 'Ganyang Malaysia' itu. Pidatonya yang menggelegar pada 27 Juli 1963 merupakan genderang perang yang tengah ditabuh. Meski terjadi puluhan tahun silam, ia semacam simpanan gelora nasionalisme yang kapan saja bisa diambil dan dinyalakan.
'Ganyang Malaysia' bermula karena ambisi Malaysia berupaya menggabungkan Singapura, Brunei, Sarawak, dan Sabah dalam Federasi Malaya. Itu yang disebut Bung Karno neokolonialisme atau kolonisasi baru. Bung Karno dengan tegas mendukung hak Brunei untuk merdeka. Bahkan, Kapten Azahari, perwira pejuang kemerdekaan Brunei, semula perwira Indonesia yang belajar militer di Yogya.
Bagi Republik Indonesia, yang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 menolak penjajahan di atas muka bumi, upaya Malaysia itu bagian dari penjajahan baru.
Sebenarnya Soekarno tak mengapa, asal pembentukan Federasi Malaya melalui plebisit yang dimotori PBB, terutama untuk mengetahui keinginan rakyat Kalimantan bagian utara.
Namun, Inggris yang sesungguhnya di belakang ambisi Federasi Malaya itu tak mengindahkan lagi plebisit PBB. Federasi itu bahkan akan memberikan hak kepada Kerajaan Inggris untuk melanjutkan penempatan pangkalan militer mereka yang bisa digunakan bila diperlukan untuk memeliharta perdamaian di kawasan Asia Tenggara.
Itulah yang membuat Bung Karno murka. "Malaysia tidak akan menjadi tetangga yang baik," demikian ia berkonklusi. Alangkah bahayanya Malaysia. 'Ganyang Malaysia' pun terus digemakan. Ia juga tersimpan di dalam kesadaran kita yang bisa digunakan setiap dibutuhkan. Padahal, kini kedua negara berupaya sekuat tenaga membangun dan menjaga hubungan yang lebih berkedalaman.
Beberapa hari setelah dilantik, misalnya, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad memilih Indonesia sebagai negara pertama lawatannya. Mahathir ialah pengagum Bung Karno. Ia pun mendapat predikat 'Soekarno Kecil'.
Pemimpin politik Anwar Ibrahim, yang dulu menjadi seteru 'Dr M'-–demikian Mahathir dipanggil--dan kini bersekutu dengan Mahathir, malah tak terbilang kali mengunjungi Indonesia. Di Indonesia, ia mempunyai banyak sahabat, seperti tanah airnya yang kedua.
Konfrontasi belum usai. Reaksi kita atas pesilat Malaysia Mohd Al Jufferi, yang merusak fasilitas Asian Games di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah, 27 Agustus lalu, karena dikalahkan pesilat Indonesia Komang Harik Adi Putra, juga memunculkan konfrontasi laten itu. Jufferi merasa juara dunia pencak silat tiga kali dan Komang belum sebesar dirinya. Ia menuduh wasit berbuat lancung. Jufferi atlet bereputasi besar, tapi ia bermental kerdil.
Akhirnya lembaran lama dibuka kembali. SEA Games 2017 di Malaysia, misalnya, Indonesia dicurangi berkali-kali. Bahkan, bendera Indonesia pun dipasang terbalik di buku panduan. Namun, tak ada destruksi dari kita. Indonesia menghormati keputusan wasit meski tersimpan rasa sakit.
Jatuhnya Pulau Sipadan dan Ligitan ke tangan Malaysia lewat putusan Mahkamah Internasional, Den Haag, pada 2002, juga kerap memunculkan simpanan frasa 'Ganyang Malaysia'. Terlebih begitu banyak klaim Malaysia atas produk kesenian kita. Beberapa kasus perlakuan kasar aparat Malaysia terhadap WNI di Malaysia juga kerap menjadi faktor pembuka catatan lama: 'Ganyang Malaysia.
Memperingati setengah abad lebih hubungan diplomatik Indonesia-Malaysia agaknya butuh relasi yang lebih kultural, tanpa harus kehilangan semangat kompetisi sebagai dua bangsa. Agar semangat 'Ganyang Malaysia' benar-benar melesap.
.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved