Fokus lagi Bekerja

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
05/9/2018 05:30
Fokus lagi Bekerja
()

PESTA besar baru saja selesai. Para atlet nasional telah bekerja dan memberikan kemampuan terbaik untuk Indonesia. Karena prestasi tinggi mereka dan penyelenggaraan yang baik, kita dipuji setinggi langit oleh masyarakat dunia. Kita memiliki modal baik untuk bisa terbang lebih tinggi.

Presiden Komite Olimpiade Internasional, Thomas Bach, mengingatkan Indonesia untuk bisa menjaga momentum yang baik ini. Kalau sikap pantang menyerah, berusaha mencapai hasil yang terbaik, dan mencoba melewati batas ini bisa dipertahankan, Indonesia akan mampu menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

Berulang kali kita sampaikan, kita harus mampu membangun kultur baru. Kultur untuk bersikap positif dan penuh optimisme. Kultur untuk menghargai upaya yang dilakukan bangsa sendiri. Kultur untuk menghargai karya anak bangsa kita sendiri.

Apalagi, kalau kita bisa melanjutkan untuk membangun kultur disiplin dan etos kerja yang tinggi. Disiplin pada tatanan aturan yang sudah kita sepakati bersama. Misalnya, naik motor harus pakai helm, tidak melawan arus, dan tidak melanggar lampu merah. Kemarin di Asian Games, kita bisa begitu disiplin untuk mau mengantre, tidak saling serobot, dan tidak membuang sampah sembarangan.

Kalau kita bisa menjaga barang milik publik dengan baik, kita akan menjadi bangsa yang memiliki peradaban tinggi. Kita harus seperti bangsa Jepang yang mau membersihkan lingkungan sekitar, tidak merusak fasilitas umum, dan tidak mengambil apa yang bukan menjadi miliknya.

Sosiolog Samuel L Huntington mengatakan bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu menanamkan sikap disiplin dari rakyatnya, membangun etos kerja dan menghasilkan produk. Dengan kreativitas dan inovasi produk itu mampu direproduksi menjadi barang yang mempunyai nilai tambah lebih tinggi.

Tiga ras kuning, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok sudah membuktikan itu. Mereka menjadi bangsa unggul karena menciptakan masyarakat disiplin dan etos kerja yang tinggi. Tidak ada kata berpuas diri dan mereka terus bekerja untuk memacu diri meraih hasil lebih baik.

Kita pun tidak boleh terlena dan berpuas diri dengan keberhasilan Asian Games XVIII. Kita harus kembali bekerja keras untuk meraih pencapaian lebih tinggi. Masih banyak kelemahan dan kekurangan yang harus kita perbaiki dan itu menuntut kerja keras dari kita semua.

Berhari-hari ini kita melihat semua negara berkembang menghadapi guncangan ekonomi. Krisis yang terjadi di Turki dan sekarang ke Argentina membuat pasar bergejolak. Semua nilai tukar mata uang negara berkembang tertekan dalam, tidak terkecuali Indonesia.

Semua ini memang bukan terjadi sesaat. Era dolar Amerika Serikat yang murah sudah berakhir sejak Bank Sentral AS melakukan tapering off, mengurangi secara bertahap dana bail out yang mereka kucurkan akibat krisis ekonomi 2008. Dana US$700 miliar yang dikucurkan untuk menyelamatkan perekonomian Amerika melimpah masuk ke seluruh dunia, terutama negara berkembang.

Arus modal itu ibaratnya sedang kembali ke rumahnya, apalagi perekonomian AS terus menunjukkan pemulihan. Ketika angin dari depan (headwind) menerpa kita mulai 2014, pengelolaan anggaran negara kita tidak terlalu hati-hati. Ekspektasi penerimaan pajak yang terlalu ambisius membuat anggaran belanja berlebihan dan akibatnya kita harus menutup defisit dengan utang.

Penyakit laten, yakni defisit neraca transaksi berjalan tidak kunjung kita tangani. Perekonomian yang terbuka tidak diikuti dengan upaya membangun industri manufaktur yang kuat. Kita biarkan arus barang impor masuk dan masyarakat pun suka menggunakan barang impor yang memang lebih murah.

Apalagi, di tengah ekonomi yang bertumbuh, pasokan energi kita justru menurun. Impor bahan bakar minyak setiap hari mencapai 800 ribu barel, sedangkan investasi di industri minyak dan gas bumi terus menurun. Tidak usah heran apabila kita mengalami defisit perdagangan, yang mengimbas kepada neraca pembayaran dan di kuartal II 2018 defisit neraca transaksi berjalan mencapai US$8 miliar.

Beruntung Fitch tidak menurunkan rating kita sehingga tekanan ketidakpercayaan bisa dikurangi. Sekarang ini, terutama pejabat negara, janganlah membuat pernyataan yang tidak perlu. Waktu kita tidak banyak untuk mendinginkan perekonomian ini. Marilah kita fokus bekerja dan mendorong masyarakat untuk memproduksi sendiri barang yang menjadi kebutuhan bangsa ini.

Kalau kita mempunyai kemampuan produksi yang tinggi dan kecintaan kepada produk dalam negeri, kita akan bisa seperti Jepang. Nilai tukar yen boleh berfluktuasi dari 70 yen sampai 120 yen per dolar AS, tetapi masyarakat Jepang tidak harus panik seakan besok kiamat. Perekonomian mereka tetap tumbuh dan bahkan semakin kukuh.

 



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima