Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PESTA telah usai dan Indonesia 'telah kembali'. Asian Games pun serupa genta raksasa yang ditabuh sebagai tanda jalan pulang, jalan yang bersimpang-simpang, bahwa Indonesia telah kembali pada jalannya sendiri. Jalan penuh kehormatan diri.
Asian Games membuat kita bangkit. Bahwa mengukir prestasi bukanlah selalu jalan lempeng, melainkan jalan panjang dengan banyak simpang. Justru karena tak mudah, fokus dan kesungguhan tak bisa ditawar. Merekalah para tunas muda, pemilik masa depan negeri ini. "Terus fokus satu titik, hanya itu titik itu," kata sebaris lirik lagu Meraih Bintang, lagu resmi Asian Games kali ini.
"Baru kali ini kami benar-benar bangga menjadi bangsa Indonesia. Kami bangga menyaksikan sejarah besar Asian Games digelar di Indonesia dengan acara pembukaan yang penuh daya pukau. Kami bangga karena atlet-atlet kita menunjukkan prestasi tinggi. Indonesia tidaklah seperti yang kita sangka," kata seorang jurnalis senior. Secara umum begitulah suara yang menggema.
Pesta memang sudah usai dan tetamu mulai kembali ke negeri masing-masing. Akan tetapi, kita tak sedang berbincang tentang orang per orang. Bukan juga tentang medali semata yang berkali lipat jumlahnya.
Namun, tentang kehormatan dan harga diri bangsa. Kita pun mampu menyisihkan segala prasangka yang kerap menggoreskan luka.
Pujian pun datang dari banyak pihak. Seperti Presiden Komite Olimpiade Internasional Thomas Bach, Presiden Dewan Olimpiade Sheikh Ahmad al-Fahat al-Sabah, dan pemilik Alibaba.com Jack Ma. "Di antara negara-negara di Asia Tenggara, menurut saya, Indonesia menjadi salah satu yang terbaik untuk menyelenggarakan Olimpiade," kata Bach. Presiden Jokowi memang telah mengajukan sebagai tuan rumah Olimpiade pada 2032.
Maka, ketika para atlet berlaga dengan semangat baja, ketika mereka larut dalam doa dengan keyakinan yang berbeda-beda, ketika dalam satu tim ada yang berhijab dan yang berkalung salib saling menguatkan demi prestasi, itu bukti sebagai warga tengah merawat negerinya.
Ketika antusiasme penonton datang dari segala penjuru angin, ketika mereka rela antre panjang dengan segala penat dan letihnya, ketika mereka jadi hening saat pertandingan tengah genting, ketika air mata bercucuran setiap Indonesia Raya dikumandangkan, ketika batas menjadi nisbi dan semua menjadi pelintas batas, itu tanda bangsa ini siuman dari sakit panjangnya. Itu tanda negeri ini tengah bangkit.
Asian Games ialah hikmah tersembunyi dari Vietnam yang berkeberatan di tengah jalan. Maka, waktu jadi tak normal sebab hanya dalam waktu dua setengah tahun Indonesia harus membangun banyak sarana olahraga kelas dunia. Di banyak negeri biasanya minimal butuh waktu lima tahun untuk persiapan. Kita hanya separuhnya, tapi hasilnya penuh daya pukau.
Pesta telah usai dan obor telah pula dipadamkan, tetapi api semangat harus terus dinyalakan. Lagu resmi Asian Games 2018, Meraih Bintang, akan terus dinyanyikan. Momentum kebangkitan harus terus digemakan.
Dengan raihan 31 medali emas, Indonesia berada di urutan ke-4 setelah Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. Posisi yang teramat tinggi sepanjang sejarah. Posisi negara-negara ASEAN lainnya bertebaran di urutan belasan. Kebangkitan olahraga kita harus dibuktikan di SEA Games Filipina (2019), Olimpiade Jepang (2020), dan tentu Asian Games di Hangzhou, Tiongkok (2022).
Lagu Meraih Bintang ciptaan Pay Siburian dan Rastamanis yang dinyanyikan Via Vallen sewaktu pembukaan Asian Games sebaiknya terus kita dengar. Lagu yang inspiratif untuk terus berprestasi. Ini sepenggal liriknya. Agar tak terlena dengan segala sanjungan.
Setiap saat setiap waktu
Keringat basahi tubuh
Ini saat yang kutunggu
Hari ini ku buktikan
Ku yakin aku kan menang
Hari ini kan dikenang
Semua doa kupanjatkan
Sejarah kupersembahkan
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved