Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
INILAH pesta olahraga sarat makna. Asian Games ini tak semata melahirkan banyak bintang peraih medali, tapi juga merekatkan tokoh bangsa yang berseteru. Itulah yang dilakukan pesilat Hanifan Yudani Kusumah. Ia meraih medali emas sekaligus menorehkan sejarah: menyatukan Joko Widodo dan Prabowo Subianto dalam satu pelukan hangat. Ia serupa kanak-kanak yang cemas melihat 'kedua orangtuanya' terus berseteru.
Pesilat berusia 20 tahun itu tak semata cakap menundukkan lawan, tapi mafhum ihwal bangsa yang terbelah. Rabu (29/8) lalu, ia melakukan tugas yang muskil dilakukan para tokoh mana pun di negeri ini. Ia melakukan tugas seorang 'negarawan'. Ia bukan sekadar bintang, melainkan divo, adibintang.
Saya menyaksikan pertarungan seru Hanifan melawan pesilat Vietnam, Thai Linh Nguyen, lewat layar televisi. Baku serang ganti berganti sejak awal. Terlihat jelas serangan Hanifan lebih dominan. Namun, aksi tricky berkali-kali dilancarkan lawan. Berulang kali pula protes diajukan pelatih kedua kubu. Nilai Hanifan kerap dikurangi. Padahal, kemenangan telak sudah di depan mata. Namun, tim juri menilai ia menyerang bagian tubuh yang pantang.
Karena itu, ketika wasit menyatakan dirinya menang, Hanifan pun jadi sangat emosional. Ada perasaan kemenangan di depan mata hendak digagalkan. Ia berteriak nyaring dengan air mata berderai. Dengan tubuh berselubung bendera, ia berselebrasi dengan rasa bangga. Ia bersujud beberapa saat, bersyukur pada Sang Ilahi.
Lalu, ia berlari ke atas tribune kehormatan. Di deretan depan ada Wakil Presiden Jusuf Kalla, Presiden Ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, Presiden Joko Widodo, dan Ketua Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia Prabowo Subianto. Dengan spontan ia memeluk kedua calon presiden itu dengan wajah berlawanan arah. Jadilah wajah kedua tokoh itu yang terlihat bersatu menghadap ke penonton. Ada kecerdasan spontan Hanifan agar kedua tokoh itu bersatu.
Tempik sorak pun menggema. Ada perasaan sesak di dada seperti terbebaskan. Ada gairah bersama yang dihunjamkan ke dalam sukma bangsa ini. Di situ kecemasan berganti harapan, kerinduan bersua kenyataan. Hanifan jadi oasis paling menyejukkan.
"Saya hanya ingin melalui pencak silat, bangsa ini bisa bersatu. Terutama karena pencak silat adalah budaya bangsa," kata Hanifan seusai memeluk kedua tokoh itu. Ini pernyataan sarat makna: aktual, kultural, dan amat terasa sublimasinya.
Pencak silat memang lahir dari dari Bumi Nusantara. Cabang olahraga yang baru dipertandingkan di Asian Games 2018 ini memang paling berjaya mendulang emas. Ia menangguk 14 emas dari 16 emas yang ada; atau emas ke-30 yang diperoleh kontingan Indonesia tiga hari menjelang penutupan. Inilah medali emas paling melimpah Indonesia sepanjang sejarah Asian Games.
Sebentar lagi pesta olahraga ini segera usai. Layaklah prestasi itu memompakan gairah berkompetisi dengan penuh percaya diri dan saling menghargai. Hanifan, anak muda itu, setidaknya telah mengajarkan kapan saat bersaing dan kapan harus bersanding.
Di hari-hari persaingan politik yang akan kian memanas, saya membayangkan gambar Hanifan mendekap Jokowi dan Prabowo akan terus menjadi bergerak hidup dalam setiap kesadaran kita. Bahwa keduanya akan bertarung untuk sama-sama memuliakan Indonesia. Hanya cara mencapai yang ditawarkan yang berbeda.
Karena itu, ganjil dan abnormallah jika kita mengalami defisit persaudaraan dalam proses meyeleksi dan memilih kedua tokoh itu. Sungguh malu pada Hanifan, sang divo olahraga yang berjiwa 'negarawan' itu.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved