Indonesiaku!

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
29/8/2018 05:30
 Indonesiaku!
()

DI tengah sikap sekelompok orang yang menempatkan ‘aku dan kamu’ secara diametrikal, kita melihat pemandangan luar biasa di ajang Asian Games XVIII. Antusiasme penonton begitu luar biasa, bukan hanya terlihat dari orang berbondong-bondong datang untuk menyaksikan pertandingan, melainkan juga memberi dukungan terutama kepada atlet Indonesia.

Suasana keindonesiaan begitu kuat terasa di arena pertandingan. Kita tidak tahu siapa yang duduk di kiri dan kanan kita, tetapi kita meneriakkan kata yang sama, “Indonesia... Indonesia...”

Sebuah kultur baru kita ciptakan di ajang Asian Games kali ini. Masyarakat mau datang ke pertandingan dengan membeli tiket dan tertib untuk antre masuk. Mereka menikmati pertandingan dengan sikap yang sangat simpatik dan penuh keadaban.

Khusus soal ketertiban penonton paling nyata kita rasakan pada saat menyaksikan nomor lari maraton. Selama dua hari, Sabtu dan Minggu, jalan dari Sudirman hingga Glodok ditutup dua arah selama empat jam. Luar biasa pertandingan bisa berjalan begitu tertib karena tidak ada satu pun orang yang mencoba untuk menyeberang jalan sehingga mengganggu lari atlet yang sedang berlomba.

Masyarakat berdiri rapi di sepanjang jalan. Padahal, nyaris tidak ada pagar pembatas yang dipasang panitia. Namun, semua tetap berdiri di pinggir jalan untuk memberikan dukungan. Sampai-sampai ada yang bergumam, “Kita sedang menyaksikan lomba maraton Boston atau Asian Games?”

Modal yang baik, yakni kebersamaan sebagai bangsa dan sikap menghargai sebuah tontonan perlu kita terus pupuk ke depan. Kalau kita bisa membuatnya sebagai kebiasaan, inilah kunci bagi kita untuk menjadi bangsa yang besar.

Berulang kali kita sampaikan, ajang seperti Asian Games atau Olimpiade merupakan kesempatan bagi sebuah bangsa untuk naik kelas. Korea Selatan baru 24 tahun setelah kita menyelenggarakan Asian Games IV menjadi tuan rumah pesta olahraga bangsa-bangsa Asia. Namun, dari sanalah Korea melompat menjadi negara industri baru.

Persis seperti kita, bangsa Korea sempat terhuyung ketika terkena krisis ekonomi 1997. Bangunan ekonomi Korea pun ambruk ketika para chaebol terbelit utang yang tidak mampu dibayar. Namun, pelajaran pahit itu dijadikan pengalaman bersama untuk menata ekonomi dengan lebih baik dan berhati-hati.

Korea tidak larut dalam sikap mencari kambing hitam, tetapi membangun kembali perekonomian mereka yang terpuruk. Dengan kebersamaan yang mereka bangun, Korea kembali menjelma sebagai kekuatan ekonomi dunia. Produk-produk Korea pun mampu menembus pasar dunia yang lebih besar.

Lima tahun setelah krisis, Korea sudah bangkit lagi dengan menjadikan Busan sebagai tuan rumah Asian Games XIV. Bahkan, empat tahun lalu, untuk ketiga kalinya Korea menjadi tuan rumah pesta olahraga empat tahunan itu dengan memperkenalkan Incheon sebagai kota baru Korea.

Sikap no nonsense itu yang harus juga bisa kita tanamkan. Sebenarnya tidak ada yang tidak bisa kita lakukan sebagai bangsa. Yang terpenting bagaimana energi yang ada pada setiap diri kita dipakai untuk hal-hal yang produktif. Jangan terus-menerus kita terbenam dalam urusan perpolitikan dan lupa untuk membesarkan negara ini.

Kita tidak menutup mata banyak hal yang harus kita perbaiki sebagai bangsa. Namun, janganlah kekurangan itu membuat kita menjadi pesimistis. Sikap kritis itu harus disalurkan menjadi energi positif dengan memberikan alternatif solusi. Lebih baik dari sekadar mengkritik, kita membuat karya yang bisa menginspirasi banyak orang untuk berbuat yang sama.

Kita pantas belajar kepada para penonton Asian Games sekarang ini. Mereka begitu suportif mendukung para atlet kita yang sedang berjuang. Kekalahan tidak harus dicemooh, tetapi diberi kepercayaan diri untuk bangkit memperbaiki kekurangannya.

Paling fenomenal kita lihat pada nomor lari 10 ribu meter pada Minggu lalu. Dua atlet Indonesia Roby Sianturi dan Welman David Pasaribu tertinggal dari atlet Bahrain dan Oman. Bahkan, mereka sempat dua kali dilewati atlet-atlet dari Timur Tengah itu. Akan tetapi, ketika Roby dan Welman masuk garis finis para penonton tetap memberikan penghormatan dan tepuk tangan kepada dua atlet Indonesia.

Seperti itu keadaban yang perlu terus kita bangun. Kepada sesama anak bangsa jangan hanya kejelekannya saja diungkap. Kita beri juga penghargaan kepada perjuangan untuk memberikan yang terbaik bagi negeri ini. Kalau kita mampu membangun ‘kekamian’, yakin negeri ini akan cepat bisa meraih kemajuan.

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.