Air Mata untuk Indonesia

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
14/8/2018 05:05
Air Mata untuk Indonesia
()

DI tengah palagan politik yang riuh rehatlah sejenak. Tataplah lapangan sepak bola. Di sana ada oasis yang membasahi kita. Di medan politik yang membelah-belah dan membuat kita lelah, sepak bola terus merekatkan dengan caranya. Ia serupa magnet: penonton berdatangan, berkumpul, dan bersatu demi menebar energi kemenangan bagi tim yang didukungnya.

Meminjam amsal John F Kennedy, "Jika politik kotor, puisi yang membersihkannya," saya izin mengubahnya menjadi, "Jika politik riuh dan keruh, biarlah sepak bola menyatukannya dan menjernihkannya."

Yang terbaru ialah performa timnas Indonesia U-16 di final Piala AFF 2018 di Stadion Delta Sidoarjo, Jawa Timur. Tim yang dilatih Fakhri Husaini itu tampil mengalahkan Thailand lewat adu penalti. Sejak fase grup, total 'Garuda Muda' mengoleksi 23 gol plus 4 gol adu penalti.

Inilah juara untuk pertama kalinya bagi timnas U-16 di level Asia Tenggara. Kini mereka bersiap untuk berlaga di Piala Asia 2018 yang hasilnya sebagai pintu masuk Piala Dunia 2019 U-17 di Peru.

Lewat televisi, saya selalu menonton timnas U-16 berlaga di AFF 2018. Bukan berarti ini tim sempurna, tapi saya terpesona akan permainan mereka yang cepat, padu, terampil mengolah bola, dan punya naluri mencetak gol berkelas. Mereka juga piawai melakukan transisi negatif, yakni usai menyerang menjadi bertahan. Emosi mereka pun terjaga sehingga sedikit menerima kartu. Kesuksesan adu penalti ialah bukti kematangan emosi mereka.

Selalu saya perhatikan timnas menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum laga. Tak ada skuat begitu khidmat menyanyi lagu kebangsaan selain timnas Indonesia. Mereka menyadari betul, atas nama Merah Putih, 'tugas negara' harus ditunaikan dengan memberikan suguhan terbaik, sebagai kado terindah bagi Indonesia yang bulan ini berulang tahun ke-73.

Tak jauh dari para pemain, juga begitu para penonton di tribune. Begitu khidmatnya mereka bernyanyi. Ada sekian banyak tulisan yang intinya dukungan setia. Salah satunya, 'Menang Kita Sanjung, Kalah Kita Dukung'. Inilah ikrar kesetiaan penuh dari para suporter. Para pemain pun selalu memuliakan penonton, 'pemain ke-12' itu, dalam setiap selebrasi seusai mencetak gol.

Wajarlah tangis para pemain pun pecah tak tertahankan ketika kemenangan diraih. Di tribune, juga tak berbeda; selain sorak-sorai kemenangan, tak sedikit para lelaki bersimbah air mata. Kemenangan sebuah timnas selalu diidentikkan bahwa negara telah merebut sesuatu yang amat berharga.

Saya menyebutnya nasionalisme dalam sepak bola, terutama yang direpresentasikan penonton sebagai nasionalisme autentik. Mereka menjaga dan memuliakan Indonesia dengan membiayai diri sendiri, kesadaran sendiri. Bandingkan dengan para elite negara yang mendapat privilese tinggi, tapi masih korupsi juga. Merekalah para perobek tenun keindonesiaan yang senyatanya.

Benarlah Jan Michael Kotoewski dalam Reflection on Football, Nasionalism, and National Identity, ada tiga aspek keterkaitan sepak bola dan nasionalisme: sebagai ekspresi atau refleksi identitas nasional; bagian dari praktik nasionalisme dan politik, dan pembawa gagasan kebangsaan (lihat saja ketika Piala Dunia 2018 dihelat di Rusia, betapa lekat identitas nasional diperlihatkan).

Memang, kompetisi kelompok usia, terlebih U-16 dan U-17, bersifat pembinaan. Yang menjadi ukuran tetaplah performa tinmas senior, yang sepanjang Piala AFF belum pernah meraih juara meski berulang kali masuk final. Menjadi juara kelompok usia muda pastilah bonus yang membanggakan dan bisa menaikkan gairah sepak bola di kalangan remaja dan menjadi pemasok timnas senior di kemudian hari.

Saya setuju pendapat Fakhri Husaini, Indonesia tak kurang pemain berbakat. Namun, yang menjadi soal ialah bagaimana membuat pemain berbakat menjadi pemain hebat. Ia butuh keseriusan berlipat. Demi menampung anak-anak berbakat, PSSI mestinya membuat setiap provinsi menggelar kompetisi U-16 secara rutin. Dari sini tim nasional dipasok.

Sudah terang, betapa sepak bola menjadi oasis di tengah krisis kebersamaan. Timnas U-16 baru saja membuktikannya. Juga U-19 yang mengukirnya pada 2013. Beruntunglah sebuah negeri yang rakyatnya mencintai tim nasionalnya. Jangan disia-siakan potensi oasis kebangsaan ini.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.