Kardus, Baper, Mulut Comberan

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
13/8/2018 05:05
Kardus, Baper, Mulut Comberan
()

DI tengah drama penentuan cawapres untuk Pilpres 2019, muncul sedikitnya tiga predikat yang tidak enak. Dua predikat disematkan kepada dua jenderal, satu untuk seorang sipil.

Jenderal yang satu disebut jenderal kardus, yang satu lagi disebut jenderal baper (bawa perasaan). Orang sipil yang memberi sebutan jenderal kardus juga diberi gelar yang tidak enak. Ia disebut mulut comberan.

Seorang prajurit sampai ke pangkat jenderal tentu punya sejumlah kualitas. Di antaranya berani mati di medan tempur. Bermental kardus dan baper kiranya tidak sampai bertabur bintang di bahu.

Namun, politik rupanya bisa bikin kualitas orang terjungkir balik. Kenapa? Dalam pertempuran jelas siapa lawan. Dalam percaturan mendapatkan posisi cawapres, yang ada ialah semua kawan di dalam koalisi, sekaligus rupanya semua juga lawan.

Keruwetan itu terekspresikan dalam dua bentuk. Yang satu berhamburan predikat tidak enak, yang kemudian resmi menghasilkan kejutan, yaitu pasangan capres-cawapres berasal dari satu partai. Semua itu terjadi, menurut yang disebut sebagai mulut comberan, karena ada transaksi.

Yang satu lagi petahana dengan pasangan yang tidak terduga. Sebuah nama berinisial yang sama, yang semula seperti hampir pasti menjadi cawapres, ternyata keliru. Pada menit terakhir publik pun diberi kejutan.

Kejutan terpokok dari penetapan dua cawapres kali ini ialah semuanya tidak masuk daftar cawapres yang menurut hasil survei lembaga kredibel mana pun sebagai cawapres yang punya efek elektoral yang bagus bagi tiap calon presiden.

Demikianlah, tidak satu pun cawapres ditetapkan dengan memakai hasil survei. Sepertinya semuanya ditetapkan lebih berdasarkan kecocokan batin sang calon presiden, dengan keyakinan bersamanya bakal menang. 'Keyakinan', bukan berbasiskan temuan hasil survei.

Dari mana keyakinan itu datang? Tidak jarang keputusan menentukan merupakan hasil renungan yang instingtif. Dia melampaui tenunan logika.

Setelah pasangan capres dan cawapres didaftarkan di KPU, kiranya tidak penting lagi 'kisah' lahirnya tiap keputusan. Post factum analisis tentu terbuka untuk dipaparkan, tetapi semua itu lebih untuk menghibur intelektualisme.

Juga kiranya tidak penting lagi bersikutat memperpanjang tiga sebutan, apakah itu jenderal kardus, jenderal baper, atau pun mulut comberan. Semua itu tidak lagi punya makna kepublikan untuk urusan pemilihan presiden pada 17 April 2019.

Sebutan yang dimaksudkan untuk merendahkan, mendiskreditkan ketokohan seorang prominen--di kubu capres mana pun dia berada--rasanya tidak elok untuk dipelihara dan diterus-teruskan penggunaannya. Semua sebutan itu menjadi pembicaraan lucu-lucuan di tengah warga, tapi tidak memperkaya keadaban publik.

Demokrasi bukan dagelan. Pilpres bukan pula ajang kardus, tempat baper, ataupun kancah mulut comberan. Di situ suara rakyat, hak konstitusional rakyat, dipertaruhkan dengan penuh hormat.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima