TAHUN ini mudik benar-benar menemukan daya maginya. Di tengah ekonomi yang lunglai, jantur mudik justru membuktikan kekuatannya. Ia meningkat pesat dibandingkan tahun silam. Ada nujum sekitar 27 juta manusia, 2 juta kendaraan, bergerak serupa tawaf raksasa mengitari bumi Indonesia, terbanyak di Jawa.
Memang mudik di Indonesia dikritik tak punya pijakan kultural. Namun, apa pun analisis historisnya, mudik ialah realitas mencengangkan. Karena itu, cemooh, penghadangan, dan pandangan negatif jadi serupa gumam. Sekalipun suatu saat desa-desa menjadi pusat-pusat pertumbuhan baru.
Agaknya hanya mereka yang memahami masyarakat Indonesia secara utuh--yang penuh paradoks itu--bisa melihat mudik dengan kearifan penuh. Bagaimana menjelaskan di tengah keterpurukan ekonomi, pemudik justru meningkat; kemacetan parah justru diklaim sebagai kenikmatan; dan kematian di jalan raya tak menyurutkan pulangnya manusia-manusia urban dengan melintasi jarak ratusan, bahkan ribuan kilometer? Kalau bukan sebuah 'sihir' atau 'magi', kekuatan apa yang bisa menarik pergerakan manusia yang setara seluruh penduduk negara tetangga itu, Malaysia?
Maka, pertanyaan para pemudik setelah sampai ke tiuh (kampung halaman) ialah, "Kena macet berapa jam?" Jawaban yang menunjukkan kemacetan paling lama, rasa letih paling memudarkan orientasi, pegal-linu yang paling menyiksa tubuh, seolah menjadi bukti derajat mudik paling tinggi.
Namun, saya sepakat mudik harus terus dikritik, diperbaiki, agar ia menjadi oasis manusia-manusia urban dengan risiko sekecil mungkin. Khususnya kematian 'para syuhada' mudik atau mulang tiuh, menurut orang Lampung. Terlalu mahal mudik yang bertujuan beroleh keasyikan spiritual justru menjadi duka nestapa.
Saya menghargai para pengkritik yang juga benar argumentasinya. Ada yang mengatakan mudik ialah fenomena masyarakat yang kalah. Yang teraniaya di kota-kota dan di jalan raya. "Pembangunan yang timpang akan menjadikan mudik sebagai pengalihan dan pembenaran," kata Sunoto dari Cirebon ketika saya membedah editorial di Metro TV dengan judul "Transformasi Mudik" sehari sebelum Idul Fitri.
Ansyari dari Medan mengungkapkan catatan Bank Indonesia sekitar Rp150 triliun terdistribusi ke desa-desa selama arus mudik, sesungguhnya angka semu. "Angka itu tak membekaskan apa-apa. Setelah para pemudik balik ke kota, desa-desa kembali merana," katanya.
Mungkin ada benarnya. Karena uang yang mengalir ke desa-desa habis dibelanjakan untuk konsumsi. Selama 15 hari musim mudik dan balik, uang menghambur di banyak tempat, tapi tak bermanfaat lama. Misalnya, jadi investasi yang menarik dunia kerja.
Namun, di luar itu, kini muncul banyak paguyuban keluarga dalam level kecil yang menjadi semacam penawar rindu akan hubungan kekerabatan yang memudar karena bergegasnya kehidupan modern. Meski ada satu-dua unsur 'ria', ini bisa menjadi ruang tukar informasi: pendidikan, pekerjaan, dan segala macam.
Tinggallah tugas pembimbing umat, ulama dan cerdik pandai, mengingatkan tujuan puasa sesungguhnya melatih diri menjadi insan kamil. Manusia yang menghargai proses, yang tabah dan tak loba, tak korup. Manusia yang menjaga titik seimbang antara hubungan dengan Sang Illahi dan sesama manusia.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima