PBB (tidak) Memberatkan

Suryopratomo, Dewan Redaksi Media Group
21/7/2018 05:30
PBB (tidak) Memberatkan
(MI/Tiyok)

KEPUTUSAN Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menaikkan nilai jual objek tanah menimbulkan kegelisahan masyarakat. Kebijakan tersebut menambah beban masyarakat karena menyebabkan pajak bumi dan bangunan yang harus mereka bayarkan menjadi naik.

Kewenangan untuk menaikkan PBB berada pada pemerintah daerah karena berkaitan dengan penerimaan daerah. Banyak daerah mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat dalam menetapkan NJOP. Mereka tidak mau pengenaan PBB membuat warga 'terusir' dari tempat tinggal.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, misalnya, sudah memutuskan tidak akan menaikkan PBB di kotanya. Ia tahu kondisi ekonomi masyarakat tidak memungkinkan untuk menanggung beban kenaikan PBB sekarang ini.

Jakarta sejak zaman Gubernur Basuki Tjahaja Purnama menaikkan NJOP secara gila-gilaan. Kenaikan NJOP pernah mencapai 300% dengan alasan kawasan sudah berkembang sehingga nilainya harus disesuaikan. Alasan itu pulalah yang sekarang dipakai Wakil Gubernur Sandiaga Uno untuk menyesuaikan NJOP.

Bagi pengembang atau mereka yang berbisnis rumah, penaikan NJOP merupakan sesuatu yang penting dan diharapkan. Pebisnis tentu senang apabila harga tanah dan bangunan lebih mahal karena dengan itu mereka bisa meraih keuntungan lebih besar. Namun, bagi penghuni yang tidak berniat berbisnis, kenaikan NJOP menjadi beban.

Lihatlah mantan-mantan pejabat yang semula tinggal di kawasan Menteng. Keluarga Jenderal Besar Abdul Haris Nasution harus tersingkir karena tidak sanggup membayar PBB. Padahal, rumah itu mempunyai nilai sejarah karena putrinya, Ade Irma Suryani, dan Kapten Pierre Tendean tertembak ketika terjadi peristiwa G30S/PKI.

Mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta dan mantan Gubernur DKI Ali Sadikin kalau tidak mendapat pengampunan PBB dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pasti kehilangan rumah bersejarah. Keluarga mantan Wakil Presiden Adam Malik pun tidak sanggup mempertahankan rumah orangtua di Jalan Diponegoro.

Pemerintah provinsi kiranya harus mempertimbangkan kembali penetapan NJOP dan PBB. Ada pemikiran, seharusnya untuk rumah pertama, pemerintah tidak mengenakan PBB sebab PBB ibarat membuat warga harus menyewa rumah dari rumah sendiri.

Saat menjadi menteri agraria dan tata ruang, Ferry Mursyidan Baldan pernah berencana memperbaiki cara penetapan PBB. Ketika itu bahkan penetapan PBB berdasarkan pendapatan penghuni rumah dipikirkan. Jangan sampai pensiunan yang susah payah mendapatkan tempat tinggal harus tergusur dari rumahnya hanya karena tidak sanggup membayar PBB.

Tidak bosan kita mengingatkan agar pengenaan pajak seyogianya jangan sampai membebani kehidupan masyarakat. Pemerintah tentu harus mengambil pajak untuk membiayai pembangunan. Namun, ibarat ayam petelur, jangan sampai kita membuat ayam mati hanya demi mendapatkan telur lebih banyak.

Sekarang pemerintah sepertinya menjadikan target penerimaan pajak sebagai tujuan. Seharusnya pajak itu cerminan dari berputarnya kegiatan ekonomi. Kita harus mendorong ekonomi berputar lebih cepat agar penerimaan pajak bisa meningkat seperti diharapkan.

Kita bisa belajar dari Presiden AS Donald Trump. Ia menurunkan pajak korporasi dari 25% menjadi 21% agar perekonomian negaranya berputar lebih cepat. Trump mengambil risiko penurunan penerimaan negara dan membengkaknya defisit anggaran.

Namun, kita bisa melihat perekonomian AS sekarang menggeliat kencang. Pertumbuhan ekonomi sudah mendekati 3%. Angka pengangguran di AS mencapai titik terendah dalam 54 tahun terakhir. Semua negara kini menghadapi masalah karena dolar ibarat kembali ke rumahnya dan mata uang dunia termasuk rupiah terdepresiasi dalam.

Kecerdasan seperti itulah yang kita butuhkan sekarang. Kita membutuhkan perekonomian yang berputar lebih cepat. Kalau kemudian pajak hanya berorientasi pada penerimaan, bukan pertumbuhan tinggi yang kita dapatkan, melainkan kegiatan ekonomi masyarakat terganggu.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak bisa menganggap enteng keluhan masyarakat berkaitan dengan naiknya PBB yang harus dibayarkan warga. Apalagi ini berkaitan dengan urusan tempat bernaung. Salah-salah perekonomian Jakarta akan terkejar oleh Jawa Timur dan Surabaya karena pemimpin daerah lebih paham kehidupan masyarakat.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima