Nilai Tambah Inalum

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
18/7/2018 05:30
Nilai Tambah Inalum
()

PT Inalum dan PT Freeport Indonesia akhir pekan lalu menandatangani head of agreement (HoA) rencana akuisisi saham PT Freeport Indonesia dan Rio Tinto. Dengan kesepakatan akuisisi tersebut, PT Inalum akan menjadi pemegang saham mayoritas tambang tembaga dan emas yang ada di Grasberg, Papua.
        
Penguasaan lebih 51% saham PT Freeport Indonesia merupakan bagian dari perintah Undang-Undang Mineral dan Batu Bara. Freeport yang sudah beroperasi 50 tahun di Indonesia diharuskan mengalihkan kepemilikan sahamnya kepada perusahaan Indonesia.
        
Selama ini Indonesia maksimal baru memiliki 20% saham Freeport. Bahkan setelah terjadi krisis ekonomi 1997, kita menjual kembali sebagian saham kepada Freeport McMoran sehingga kepemilikan Indonesia sampai saat ini hanya 9,38%.
        
Pihak Freeport McMoran akhirnya bisa memahami keinginan Indonesia untuk menjadi pemegang saham mayoritas. Sepanjang 3,5 tahun terakhir terjadi negosiasi intensif tentang cara pembelian saham. Akhirnya, dalam HoA yang disepakati akhir pekan lalu, Inalum mengambil alih 40% participating interest Rio Tinto serta sebagian saham Freeport McMoran sehingga perusahaan tambang Indonesia tersebut bisa menguasai 51,83% saham PT Freeport Indonesia.
          
Untuk pengambilalihan saham tersebut, Inalum akan membelinya dengan harga US$3,85 miliar. Dalam waktu satu atau dua bulan ke depan diharapkan transaksi bisa diselesikan sehingga resmi Inalum menjadi pemegang saham mayoritas Freeport.
         
Aksi korporasi yang dilakukan Inalum sebenarnya merupakan sesuatu yang biasa. Inalum melihat potensi pendapatan masa mendatang yang besar karena cadangan mineral di tambang bawah tanah Grasberg masih mencapai 2,1 miliar ton.
         
Sayang, isu yang berkembang sejak penandatanganan head of agreement terlalu politis. Dari pihak pemerintah dan pendukungnya selalu menggunakan isu nasionalisme dan seakan-akan bisa menundukkan pihak Amerika Serikat. Akibatnya, kelompok oposisi menyerang balik mengatakan kita mengikuti kehendak pihak asing karena negara harus membayar US$3,85 miliar atas aset yang merupakan milik bangsa Indonesia.
          
Kalau kita mau lebih jernih melihat persoalan, perjalanan Freeport di Papua merupakan bagian dari perjalanan Indonesia. Setelah krisis politik 1965, Indonesia membutuhkan modal untuk membangun perekonomian Indonesia yang morat-marit. Pemerintah Orde Baru mencoba menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia layak sebagai tujuan investasi. Freeport merupakan perusahaan asing pertama yang masuk Indonesia pada 1967.
           
Dibutuhkan waktu sekitar 7 tahun bagi Freeport untuk bisa mengolah tambang yang berada di Ertsberg. Karena menggebunya ingin mendapatkan investor asing, kontrak karya I yang diberikan kepada Freeport sangat menguntungkan pihak asing.
        
Ketika Freeport hampir selesai menambang di Erstberg dan menemukan tambang baru di Grasberg, kontrak karya II yang dikeluarkan pada 1991 mulai memperhatikan kepentingan Indonesia. Bahkan masuk ke kontrak keharusan Freeport McMoran untuk mendivestasikan sahamnya sampai 30% dalam periode 20 tahun.
         
Krisis multidimensi 1997 membuat kita alpa untuk mengambil alih saham Freeport. Semua konsentrasi lebih tertuju kepada upaya memulihkan kondisi yang sempat mengalami kontraksi sampai minus 17%. Setelah 20 tahun krisis berlalu, wajar apabila kita mulai memikirkan kembali hak kepemilikan kita di banyak perusahaan. Apalagi sekarang kita memiliki Undang-Undang Nomor 4 tentang Minerba yang dikeluarkan pada 2009 dan kita pun masuk 20 negara ekonomi besar dunia.
        
Seperti dikatakan mantan Presiden BJ Habibie, rencana akuisisi saham Freeport merupakan hal yang baik bagi Indonesia. Hanya saja ia mengingatkan, sebagai pemegang saham mayoritas, bukan hanya potensi penerimaan yang semakin besar, melainkan juga tanggung jawabnya.
        
Sebagai pemegang lebih 51% saham, Inalum otomatis harus menanamkan modal sebesar kepemilikan sahamnya untuk pengembangan usaha. Kita tahu untuk pengembangan tambang bawah tanah dibutuhkan investasi sampai US$20 miliar, sementara dalam pembangunan pengolahan mineral yang harus selesai dalam 5 tahun ke depan minimal dibutuhkan investasi US$2 miliar.
       
Untuk itu, menurut Habibie, manajemem Inalum harus lebih profesional. Hanya dengan manajemen yang lebih baik maka investasi yang ditanamkan bisa kembali dan seperti harapan kita semua, penerimaan untuk Indonesia akan semakin besar.
       
Kehadiran Inalum harus menjamin tidak ada lagi pemogokan tenaga kerja. Gangguan keamanan seperti penembakan oleh kelompok bersenjata tidak terjadi lagi. Pencurian dengan membobol pipa konsentrat bisa dicegah. Tidak ada lagi isu lingkungan yang menghambat produksi. Tidak ada lagi kebijakan pelarangan ekspor. Kalau itu bisa dilakukan, kehadiran Inalum benar-benar memberi nilai tambah dan kita bisa berharap penerimaan Indonesia akan lebih besar.

 



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima