Siapa Komandan Penentuan Cawapres?

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
12/7/2018 05:30
Siapa Komandan Penentuan Cawapres?
()

BERKOALISI itu urusan memberi dan menerima. Betul? Tidak selalu. Di dalamnya ada perkara besar, yaitu urusan persamaan kesempatan dalam  persaingan politik.

Perkara itulah yang terkandung di dalam ancaman PKS menarik dukungan dari Prabowo bila Partai Gerindra tidak mengabulkan permintaan PKS untuk menjadikan kadernya sebagai cawapres pendamping Prabowo.

PKS tidak ingin menjadi pelengkap. "Kalau kami disuruh dukung-mendukung saja, mungkin kita lebih baik jalan masing-masing," kata anggota Majelis Syuro PKS Tifatul Sembiring.

Dalam konteks cawapres, PKS sebagai pelengkap itu terjadi pada Pilpres 2014. Hatta Rajasa dari PAN yang menjadi cawapres mendampingi capres Prabowo. Kira-kira Tifatul Sembiring mau bilang, harus ada persamaan kesempatan, sekarang giliran kader PKS yang menjadi cawapres.

Bagi PKS, dalam hal cawapres kohesivitas koalisi telah sampai di batas 'memberi' kesempatan kepada mitra koalisi, kini giliran 'menerima' kesempatan bagi kadernya.

Dalam politik bertepuk bisa sebelah tangan, pertandanya muncul ketika bahkan Prabowo sendiri yang bilang bahwa Anies Baswedan layak menjadi cawapres. Maka, meluncurlah ujaran ngeri-ngeri sedap ala PKS, yang diluncurkan Tifatul Sembiring.

Ancaman PKS itu berisi senjata substantif. Gerindra tidak cukup besar untuk bisa sendirian mengusung capres, juga tidak cukup besar untuk  menjadi kekuatan yang memerintah dan menentukan sendiri di dalam koalisi. Jika PKS menarik dukungan, Gerindra kiranya tidak lebih mudah bergandengan dengan PAN yang boleh jadi menginginkan Amien Rais menjadi capres.

Pilihan lain pun membawa keruwetan tersendiri. Berkoalisi dengan Partai Demokrat, misalnya, berarti bersedia menjadikan AHY sebagai cawapres yang sekaligus juga berarti menggusur permintaan PKS.

Demikianlah, PKS bergerak rasional di percaturan politik yang realistis dengan berani menunjukkan sikap bahwa sesungguhnya dan senyatanya tidak ada partai yang berkedudukan memegang komando dalam koalisi yang dapat sendirian memutus pencalonan presiden dan wakil presiden.

Klaim kedudukan pemegang komando dalam koalisi mana pun sebetulnya berpotensi menjadi perkara besar, termasuk di kubu Jokowi. Contoh,

bila PDI Perjuangan menganggap dirinya sebagai komandan dan mengira dirinya sendiri sebagai penentu cawapres untuk mendampingi Jokowi pada Pilpres 2019, klaim sebagai komandan itu bisa menimbulkan gesekan karena mengabaikan kohesivitas.

Dalam pengertian superioritas, PDI Perjuangan pun belum partai besar untuk bisa sendirian mencalonkan presiden dan mendikte penentuan cawapres.

Kiranya perlu pula dibaca apa makna politik pertemuan Ketua Umum Partai Demokrat SBY dengan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto karena gabungan kedua partai itu lebih dari cukup untuk mengusung capres dan cawapres. Apakah Golkar bakal meninggalkan Jokowi demi AHY dan demi ambisi Airlangga? Maaf, itu pertanyaan tidak enak didengar dalam keadaban publik.

Hemat saya, dalam koalisi Jokowi, gesekan atau ancaman keluar koalisi terhindarkan bila dalam penentuan cawapres yang superior ialah kearifan untuk menyerahkan keputusan itu kepada Jokowi, sang komandan.

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.