ISEI

15/7/2015 00:00
ISEI
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

DI antara organisasi profesi, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) merupakan salah satu yang berbobot. Buah pemikirannya selalu menjadi masukan bagi pemerintah dalam mengelola perekonomian negara. Tradisi itulah yang coba dipertahankan ISEI ketika menyelenggarakan dialog dengan Presiden Joko Widodo di Jakarta, pekan lalu.

Baik Ketua Umum ISEI Darmin Nasution maupun Presiden sama-sama mengakui kondisi ekonomi yang kita hadapi tidaklah menggembirakan. Bahkan, Presiden menuntut kerja keras karena tidak pernah ada 'simsalabim' dalam pembangunan ekonomi.

Semua pihak menyadari perekonomian kita sedang dalam grafik menurun. Ahli ekonomi Agustinus Prasetyantoko mengatakan kondisi itu normal karena ekonomi selalu bergerak dalam siklus naik dan turun. Yang harus dilakukan, ketika siklus sedang menurun, pemerintah menggunakan kekuatan anggarannya untuk mencegah penurunan lebih dalam.

Presiden sendiri menjelaskan pemerintah sedang dan akan melakukan serangkaian langkah kebijakan. Berbagai program pembangunan sudah dipersiapkan. Dengan penggunaan anggaran yang lebih baik pada kuartal III dan IV, Presiden yakin pertumbuhan akan membaik pada semester II.

Kita tidak menutup mata terhadap potensi perbaikan yang kita miliki. Hanya, itu tidak cukup untuk menggairahkan sektor riil yang sedang melesu.

Ancaman pengurangan jam kerja yang berpotensi pemutusan hubungan kerja membutuhkan stimulus yang lebih riil. Tidak bisa lagi stimulus disampaikan tanpa besaran dan target yang jelas.

Darmin menyebutkan paradoks yang terjadi, di satu sisi pemerintah ingin mendorong bergeraknya kegiatan usaha masyarakat, tetapi di sisi lain menaikkan penerimaan pajak dengan besaran fantastis, sekitar 44%.

Peningkatan penerimaan pajak seharusnya tidak dilakukan dengan mencari-cari kesalahan wajib pajak. Seharusnya pemerintah membuat model penerimaan pajak dari setiap bidang usaha. Caranya bisa menggunakan tenaga ahli untuk menganalisis model bisnis.

Dari sana bisa dibuat patokan pajak dan hanya perusahaan yang membayar pajak di bawah patokanlah yang dikejar untuk membayar kekurangannya.

Dengan adanya aturan main jelas, semua akan merasa mempunyai kepastian. Persoalan kepastian hukum dan keamanan merupakan hal yang paling krusial di Indonesia. Pelemahan rupiah yang di bawah nilai riil disebabkan kedua faktor itu.

Presiden selalu mengatakan perizinan akan dibuat lebih mudah. Pada kenyataannya, perizinan baik untuk memulai usaha, melanjutkan usaha, maupun pertanahan tetap saja tidak lebih mudah.

Di lapangan pengusaha tetap dipingpong dan dibuat frustrasi ketika mengurus izin. Dengan kondisi seperti itu, puluhan miliar dolar rencana investasi tidak pernah bisa direalisasikan.

Benar kata Presiden, Indonesia merupakan tujuan investasi yang menarik. Namun, jika pemerintah tidak mampu memberikan kepastian hukum, jangan salahkan apabila investor memilih Tiongkok atau Vietnam.

Faktor keamanan membutuhkan penanganan segera. Bagaimana misalnya, para pengusaha kelapa sawit dihadapkan pada pencurian yang luar biasa. Aparat keamanan tidak berdaya menghadapi pencurian dan akhirnya membiarkan. Kalau negara tidak mampu memberikan rasa aman, bagaimana kita berharap ekonomi ini akan bisa tumbuh normal?

Apabila kita mampu menyelesaikan persoalan itu, banyak hal bisa tuntas. Nilai tukar akan menguat bila banyak modal masuk. Dengan itu, swasta tidak perlu pusing membayar utang mereka yang naik 30% dari utang awal akibat pelemahan yang terus terjadi.

Sekarang tidak perlu lagi banyak seremoni. Pasar menunggu bukti, bukan janji. Terlalu banyak janji manis merupakan bumerang bagi kita sendiri.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima