Menempa Besi Panas

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
30/6/2018 05:30
Menempa Besi Panas
()

PEPATAH mengajari kita menempa besi ketika masih panas membara. Itulah momentum paling tepat untuk membentuk besi seperti yang kita inginkan. Pesan moralnya, janganlah kita menunda-nunda pekerjaan.

Tidak lama setelah Lebaran, Presiden Joko Widodo mengundang Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso untuk melakukan pertemuan koordinasi. Salah satu keputusan yang diambil ialah upaya mendorong ekspor untuk menahan tekanan terhadap pelemahan nilai tukar rupiah.

Keputusan Komite Pasar Terbuka Federal Reserve AS untuk menaikkan tingkat suku bunga acuan dan mandeknya perundingan perdagangan AS dan Tiongkok membuat nilai tukar mata uang dunia kembali bergejolak. Tidak terkecuali rupiah yang ikut tertekan. Sebelum Rapat Dewan Gubernur BI kemarin mengambil keputusan, nilai tukar rupiah mengarah ke angka 14.500 per dolar AS.

Seperti langkah kebijakan ahead the curve yang dilakukan akhir Mei lalu, BI harus melakukan respons untuk mengendalikan pergerakan nilai tukar rupiah. Seperti berulang kali disampaikan Gubernur BI, bank sentral akan menstabilkan pergerakan nilai tukar rupiah karena dampaknya langsung terasa terhadap perekonomian.

Ketika nilai tukar berfluktuasi tinggi, pedagang kesulitan menetapkan harga. Biasanya muncul spekulasi untuk menetapkan secara sepihak dengan nilai tukar tertinggi. Akibatnya, masyarakat harus menanggung kenaikan harga karena banyak kebutuhan sehari-hari yang memang harus kita impor.

Namun, kebijakan moneter bukanlah obat manjur yang bisa menyembuhkan segala penyakit. Penaikan kembali 7 days repo rate hanya obat sementara lebih untuk mengendalikan psike masyarakat. Persoalan yang lebih mendasar harus kita perbaiki ialah mengendalikan neraca transaksi berjalan.

Seperti hasil pertemuan koordinasi setelah Lebaran, kita harus mendorong kegiatan di sektor riil. Kita harus mendorong dunia usaha untuk lebih aktif melakukan kegiatan bisnis dan mendorong ekspor. Bahkan, yang tidak kalah penting ialah melakukan substitusi impor, khususnya kepada produk yang kita bisa hasilkan sendiri.

Pemerintah sudah mulai melakukan dengan menurunkan tarif pajak untuk usaha mikro, kecil, dan menengah. Tarif pajak yang sebelumnya ditetapkan 1% dari omzet, diturunkan menjadi 0,5%. Harapannya, dengan penurunan itu, masyarakat menjadi lebih bergairah berbisnis dan penerimaan negara pun meningkat karena kenaikan kegiatan bisnis akan mengompensasikan penurunan tarif.

Cara berpikir seperti itu seharusnya bisa diterapkan untuk jenis pajak yang lain. Misalnya, pajak pertambahan nilai (PPN) diturunkan dari 10% menjadi 7,5% atau 5%. Kebijakan ini tidak melanggar undang-undang karena penetapan PPN dalam undang-undang dikatakan maksimum 10%. Artinya, nilai di bawah 10% diperbolehkan.

Apakah penurunan PPN akan mengurangi penerimaan negara? Belum tentu. Bahkan, berdasarkan pengalaman di Rusia dan juga AS sekarang ini, penurunan tingkat pajak justru meningkatkan penerimaan negara. Sebabnya, dengan tarif pajak lebih rendah, justru kegiatan bisnis meningkat tajam dan itu akan mengompensasi penurunan tarif pajak.

Sekali lagi, yang kita perlukan dalam menghadapi ketidakpastian perekonomian global sekarang ini ialah mendorong sebanyak mungkin kegiatan ekonomi masyarakat. Kita harus membuat warga bangsa ini mempunyai kegiatan produktif sehingga terus terbangun akan adanya harapan.

Apabila masyarakat bergairah berinvestasi dan melakukan kegiatan bisnis, tugas pemerintah tinggal mengarahkan cara investasi dan kegiatan bisnis ditujukan untuk mengurangi impor di satu sisi serta menambah devisa negara melalui peningkatan ekspor di sisi yang lain.

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membuat arah ekonomi ini menjadi lebih positif. Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Anwar Nasution memberikan contoh soal banyaknya warga yang pergi haji dan umrah setiap tahun. Agar devisa tidak hanya keluar, pemerintah bisa mewajibkan semua perjalanan haji dan umrah menggunakan semua perlengkapan haji mulai kopiah hingga sandal buatan Indonesia. Bukan seperti sekarang. Mulai kopiah, sajadah, dan tasbih, semuanya buatan Tiongkok.

Satu lagi yang pemerintah bisa lakukan segera untuk mengendalikan neraca transaksi berjalan ialah penggunaan biofuel atau gas untuk transportasi. Daripada devisa habis untuk mengimpor 800 ribu barel minyak setiap hari, lebih baik sebagian dialihkan untuk menyerap biofuel dari dalam negeri. Bahkan, negara mendapatkan manfaat lain, yakni berputarnya bisnis minyak kelapa sawit dan biofuel di dalam negeri.

Perbaikan neraca transaksi berjalan memang tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Namun, itu bisa dimulai dari yang segera bisa kita lakukan. Dalam jangka menengah dan panjang, baru kita mengarahkan pembangunan industri, pariwisata, dan jasa yang menjadi keunggulan kita.

Kita membutuhkan cara berpikir out of the box. Tidak mungkin kita menyelesaikan persoalan dengan cara-cara yang biasa. Bukan saatnya lagi kita business as usual. Kadang kita harus bergaya seperti Presiden AS Donald Trump yang penuh kejutan dalam memperbaiki perekonomian mereka.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima