Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
INI 'perjuangan melawan lupa' tentang palang pintu pelintasan kereta api. Perkara yang mungkin dianggap sederhana, tetapi selama berpuluh tahun dibiarkan utuh. Padahal, lima tahun terakhir sekitar 5.000 orang mati terbunuh--ribuan lain terluka--di pelintasan serupa itu. Setiap hari tiga 'syuhada jalan raya' gugur karena sepur nahas di pelintasan.
Kenapa kekejaman itu terus dibiarkan?
Itu sebabnya ketika halaman pertama Media Indonesia edisi Jumat (10/7) memuat foto kereta api yang melewati pelintasan tak berpalang pintu di Kemijen, Semarang, satu di antara 395 pelintasan tak berpalang pintu di Daops IV Semarang, saya segera mengingat bahaya itu.
Segera terngiang, meski sudah lama berselang, terjadinya peristiwa maut--menewaskan beberapa orang--di sebuah pelintasan kereta api di Bandar Lampung.
Menteri Perhubungan Hatta Rajasa ketika itu sontak berjanji, pihaknya segera memasang palang pintu tak hanya di Lampung, tetapi juga di tempat-tempat lain di Indonesia.
Menurut PT KAI, ada 12 ribu pelintasan, 10 ribu tak berpalang pintu, 350 di antaranya pelintasan liar. Data lain, ada sekitar 6.000 pelintasan polos.
Lidah memang tak bertulang. Seorang petinggi berjanji berulang-ulang setiap ada tragedi, meski bukan solusi. Jawaban yang 'jujur' justru terlontar dari pejabat di bawah menteri. Katanya, pemerintah tak cukup dana membangun palang pintu sebanyak itu.
"Pintu pelintasan otomatis butuh sekitar Rp800 juta, manual Rp200 juta. Untuk manual, setiap pelintasan butuh delapan orang berjaga bergantian selama 24 jam."
Menurut logika itu, selama tak ada dana, jangan harap keselamatan itu terjamin. Memang ada solusi kecil penambahan palang pintu, pembuatan jembatan layang, dan pelintasan bawah, tetapi amat terbatas.
Di musim mudik ini, sekitar 27 juta manusia di seluruh Tanah Air akan bergerak dan sekitar 2 juta kendaraan dari Jakarta--belum lagi dari kota-kota lain--tumpah ruah di Pulau Jawa, juga Sumatra.
Saya membayangkan ribuan pelintasan kereta api polos itu. Bukankah di pelintasan berpalang pintu saja kerap terjadi kecelakaan karena alat tak berfungsi karena kurangnya perawatan, petugas lalai, dan pemakai jalan menyerobot?
Kini 'euforia' kita memang Tol Cipali yang diharapkan jadi solusi di jalur pantura. Itu baik meski kurang dipikirkan kecepatan pelayanan di pintu tol dan perbaikan jalan setelah keluar pintul Tol Pejagan, Brebes.
Jutaan kendaraan pasti akan menyebar melewati pelintasan kereta api, termasuk yang tak berpalang pintu. Para pemudik, pahlawan devisa bagi desa-desa, selamat menikmati perjalanan.
Saksamalah menghadapi pelintasan sepur, termasuk yang berpalang pintu itu. Bersabarlah meski negara belum menganggap pengamanan di pelintasan kereta itu penting.
Saya belum mendengar Menteri Perhubungan 'Jenderal' Ignatius Jonan, yang dinilai berhasil ketika menjadi Dirut PT KAI, memaparkan rencana aksinya, kecuali mengatakan, "Pemerintah tengah mencari upaya serius mengatasi kecelakaan kereta api di pelintasan."
Jonan yang ketika menjadi menteri menerapkan kebijakan seragam dengan pangkat bintang di pundaknya, seperti galibnya para pembesar TNI dan Polri, mestinya malu dengan 'pangkat jenderalnya' jika urusan palang pintu tetap jadi locus maut ribuan orang yang berulang.
Kita berharap kepada 'sang jenderal sipil'.
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved