Transaksi Berjalan

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
09/6/2018 05:30
Transaksi Berjalan
()

LANGKAH Bank Indonesia mengambil kebijakan 'Mendahului Kurva' mampu mengendalikan nilai tukar rupiah agar tidak bergerak liar. Namun, kebijakan untuk menaikkan lagi suku bunga acuan, BI Rate bukan obat mujarab yang selamanya bisa dipakai untuk menyembuhkan penyakit.
        
Persoalan terbesar yang menjadi penyebab mudahnya perekonomian kita terpapar gejolak eksternal ialah defisit neraca transaksi berjalan. Defisit perdagangan dan juga jasa membuat kita selalu kekurangan devisa. Akibatnya, kita selalu membutuhkan pembiayaan luar negeri untuk membiayai pembangunan yang hendak kita lakukan.
        
Tidak ada jalan lain apabila kita menginginkan perekonomian yang lebih stabil dan nilai tukar tidak bergejolak, kita harus memperbaiki neraca transaksi berjalan. Caranya ialah dengan meningkatkan produksi dalam negeri, menggenjot ekspor, mengurangi impor, dan memperbaiki kemampuan penanganan jasa seperti angkutan laut.
        
Memang ini bukan persoalan yang bisa diselesaikan dalam jangka pendek. Namun, kita harus memulai dari sekarang untuk memperbaiki kondisi ini. Kita harus mengubah paradigma dari negara importir menjadi negara eksportir. Itu hanya bisa terjadi apabila kita mampu mendorong para pengusaha nasional menggerakkan sektor riil dan mengajak masyarakat untuk mencintai produk dalam negeri.
         

Terlalu banyak devisa kita yang keluar sekarang ini karena mulai dari kebutuhan pangan, bahan baku industri, barang modal, energi, alat transportasi, hingga gaya hidup semua kita impor. Kemampuan putra-putra Indonesia memenuhi kebutuhan bangsanya harus kita dorong. Kita harus menjadi bangsa unggul dan tidak kalah dari bangsa lain.
         
Kita mempunyai kemampuan untuk itu. Hanya saja tidak pernah mendorong dengan sungguh-sungguh dan tidak pernah mau memberi kesempatan kepada putra-putra Indonesia untuk menunjukkan kemampuan mereka. Kita lebih suka mencela karya anak Indonesia dan mengagungkan karya bangsa lain.
         
Sikap untuk mencari mudahnya membuat kita tidak menjadi bangsa yang tangguh. Kita tidak segera mencari jalan untuk menghadapi setiap tantangan. Lihat saja cara kita memenuhi kebutuhan energi dari bangsa ini. Kita biarkan produksi minyak terus menurun dan tidak terusik sama sekali ketika impor minyak serta bahan bakar minyak yang sudah mencapai 800 ribu barel per hari.
         
Dengan harga minyak dunia yang mencapai US$70 per barel, setiap hari kita harus keluar devisa US$56 juta atau sekitar Rp784 miliar. Setahun berarti lebih Rp280 triliun devisa yang harus kita keluarkan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Inilah salah satu yang ikut memberi tekanan terhadap meningkatnya defisit neraca transaksi berjalan.
         
Apabila kita ingin mengurangi tekanan itu, yang pertama harus dilakukan ialah mendorong eksplorasi minyak baru. Hanya dengan penemuan cadangan minyak baru, kita bisa meningkatkan produksi dan dengan itu otomatis mengurangi impor. Cara kedua dengan mengganti penggunaan BBM dengan gas atau biofuel yang produksinya melimpah di Indonesia. Kalau saja truk-truk angkutan tidak lagi menggunakan solar, otomatis impor minyak berkurang.
        
Tentu yang paling penting dilakukan ialah membangun kembali industri manufaktur. Kita pernah mempunyai keunggulan pada industri tekstil dan produk tekstil, industri kayu lapis, industri kertas, dan bubur kertas. Sayang beberapa terpuruk dan akibatnya kita kehilangan produk ekspor unggulan.
         
Kita tentu bisa bangkitkan kembali industri-industri itu. Apalagi sekarang kita memiliki unggulan baru seperti kelapa sawit. Kita bisa mendorong industri petrokimia seperti yang dilakukan PT Chandra Asri. Kementerian Perindustrian sendiri sudah menetapkan lima kelompok industri yang akan dijadikan unggulan seperti makanan dan minuman, tekstil dan produk tekstil, otomotif, elektronika, dan kimia.
         
Satu lagi yang perlu kita perbaiki yakni di bidang jasa. Sebagai negara maritim, kita membutuhkan angkutan laut yang kuat. Sekarang ini biaya angkutan yang mencapai US$12 miliar per tahun dibuang devisanya, karena tidak ada armada laut kita yang mampu mengangkut hasil ekspor keluar negeri. Lemahnya sektor jasa Inilah yang membuat defisit neraca transaksi berjalan semakin dalam.
         
Sekarang tinggal bagaimana membuat semua sumber daya yang ada difokuskan untuk memperbaiki kelemahan yang ada. Kebijakan moneter dan juga fiskal harus diarahkan untuk membuat bagaimana industri manufaktur dan jasa kita kembali bangkit karena hanya dengan itulah kemudian kita bisa meningkatkan ekspor.
         
Kebijakan fiskal yang kita perlukan tentu tidak hanya urusan aturan kemudahan perizinan ataupun perpajakan, tetapi pendidikan yang mendukung lahirnya lulusan siap pakai. Kalau sekarang jumlah sarjana teknik hanya 19%, harus ada kebijakan afirmatif yang menyetop mahasiswa ilmu sosial dan mendorong lebih banyak mahasiswa untuk menekuni bidang teknik.
          
Cara berpikir yang terintegrasi dan mengarahkan kepada pembangunan Indonesia sebagai negara industri harus ada pada semua jajaran kabinet. Tidak mungkin kita membangun Indonesia yang hebat ketika para menterinya berpikir sektoral dan hanya mementingkan dirinya sendiri seperti sekarang. Tanpa ada perubahan dalam paradigma, kita akan terus berputar pada upaya stabilisasi nilai tukar rupiah karena gejolak perekonomian global.

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.