Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Joko Widodo pekan lalu meresmikan Bandar Udara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat. Bandara kedua terbesar di Indonesia itu akan mulai dipakai untuk penerbangan komersial pada saat mudik Lebaran nanti. Sebagai provinsi terbesar, Jabar sepantasnya memiliki bandara yang representatif.
Selama ini bandara yang dipergunakan untuk keluar-masuk Jabar ialah Hussein Sastranegara di Bandung. Bandara itu bukanlah bandara umum karena milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara dan berada di dalam pangkalan udara TNI-AU.
Dengan statusnya yang 'menumpang', memang tidak banyak yang Lalu bisa dilakukan. Bandara Hussein Sastranegara bukan hanya kecil ruang tunggunya, tetapi terbatas juga untuk 'tinggal landas maupun pendaratan'. Padahal jumlah penerbangan maupun penumpang, baik dalam maupun luar negeri, terus meningkat.
Tidak keliru apabila pemerintah mempercepat pembangunan Bandara Kertajati karena permintaan yang tinggi. Pekerjaan selanjutnya yang harus segera diselesaikan ialah segera menyelesaikan koneksi antara Majalengka dengan kota-kota lain di sekitarnya. Jangan sampai terjadi ketersumbatan baru karena orang kesulitan untuk datang dan keluar dari Bandara Kertajati.
Pembangunan infrastruktur merupakan sesuatu yang harus dilakukan pemerintah. Selama 20 tahun terakhir kita membiarkan infrastruktur tidak diperbaiki dan dibangun yang baru. Ingar-bingar reformasi hanya ramai di mulut, tidak pada karya yang pantas dibanggakan. Akibatnya, tidak hanya kualitas infrastruktur kita tertinggal jauh, bahkan biaya logistik menjadi mahal.
Tiga tahun terakhir ini derap pembangunan infrastruktur terasa meningkat. Kita seharusnya bersyukur, setelah di era Orde Baru, sekarang kita mulai kembali menggenjot pembangunan infrastruktur. Inilah yang bisa menjadi modal bagi kita untuk mempercepat pembangunan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sayangnya, karena kepentingan politik jangka pendek, mulai muncul komentar-komentar miring tentang pembangunan infrastruktur. Dimulai dari isu utang luar negeri yang membengkak, sekarang mulai dilontarkan pandangan bahwa pembangunan infrastruktur dianggap sebagai salah satu penyebabnya. Mulai ramai dilemparkan ide untuk meninjau ulang pembangunan infrastruktur yang sedang dilakukan.
Seperti biasanya, dicarilah pembenaran atas pandangan tersebut. Salah satu yang sekarang dipinjam untuk pembenaran adalah langkah yang dilakukan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad. PM Malaysia itu berniat untuk mengkaji ulang pembangunan kereta Malaysia-Singapura karena dibiayai utang dan utang Malaysia dianggap sudah terlalu tinggi.
Langkah Mahathir merupakan sesuatu yang wajar karena utang luar negeri Malaysia sudah di atas 65% dari produk domestik bruto mereka. Kedua, penundaan pembangunan infrastruktur tidak terlalu bermasalah karena Malaysia sudah memiliki infrastruktur yang memadai. Panjang ruas jalan tol di Malaysia sudah seratus kali jumlah panjang jalan tol di Indonesia.
Oleh karena itu, aneh jika Indonesia diminta untuk mengikuti langkah yang diambil Malaysia. Kita justru harus mempercepat pembangunan infrastruktur karena sudah sedemikian kurang dan buruk kualitasnya. Indonesia akan semakin jauh tertinggal oleh negara-negara ASEAN lain apabila tidak mempercepat pembangunan infrastruktur di dalam negeri. Orang semakin tidak akan pernah mau masuk ke Indonesia, apabila infrastrukturnya masih buruk seperti ini.
Memang membangun infrastruktur itu berat dan juga 'menyakitkan'. Tetapi, itulah yang dikatakan sebagai growing pain. Ibarat gigi yang hendak keluar dari gusi, memang rasanya menyakitkan. Tetapi, ketika gigi itu sudah tumbuh, manfaatnya akan jauh lebih besar.
Jangan lupa, membangun infrastruktur bukan sekadar membangun fisik semata, melainkan sekaligus membangun manusia. Inilah kesempatan bagi ahli-ahli teknik Indonesia untuk unjuk kemampuan. Berbagai proyek infrastruktur yang ada akan memberi pengalaman dan kalau kita cerdas, akan membuat kita mampu menguasai teknologi dan bahkan mengembangkannya.
Kita bisa belajar dari apa yang dilakukan bangsa Tiongkok. Pembangunan infrastruktur yang dilakukan di negeri itu membuat para insinyur Tiongkok mampu membuat 'sejarah' baru. Karya terakhir yang membuat dunia tercengang ialah pembangunan jembatan terpanjang di dunia yang menghubungkan Hong Kong-Zuhai-Makau.
Sudah saatnya kita meninggalkan cara berpikir irasional dan pesimistis. Kita harus tinggalkan penggunaan isu pembangunan infrastruktur untuk kepentingan politik jangka pendek. Pembangunan infrastruktur harus kita lihat sebagai pembangunan jangka panjang dan wajib dilakukan siapa pun yang kelak akan memimpin negeri ini.
Kasihan bangsa ini kalau yang lebih ditonjolkan selalu kepentingan politik semata. Ketika seorang presiden tidak melakukan pembangunan infrastruktur, kita kecam tidak bekerja. Ketika seorang presiden gencar membangun infrastruktur, kita kecam terlalu menghambur-hamburkan uang. Padahal tidak pernah ada negara yang maju dan besar tanpa memulai dengan pembangunan infrastruktur.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved