Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
TOKOH utama Jurnalisme Baru itu meninggal di Manhattan, AS, 14 Mei lalu, dalam usia 88 tahun. Umur yang tergolong panjang buat seorang jurnalis. Joseph Pulitzer pergi dalam usia 64. Mochtar Lubis 82, Rosihan Anwar 89.
Jurnalisme Baru (New Journalism) ialah kebebasan untuk menggunakan peranti sastra ke dalam karya jurnalistik. Dialog tampil komplet, tidak sepotong-sepotong seperti dalam jurnalisme tradisional. Jurnalis merajut kejadian demi kejadian, seperti dalam film.
Dalam jurnalistik lama, fakta mendeterminasi struktur dan nada laporan. Jurnalis seperti 'clerk of fact', kerani fakta.
Dalam Jurnalisme Baru, berbagai sudut pandang dijahit. Tidak seperti jurnalisme lama, bercerita dari perspektif tunggal. Jurnalisme Baru memberi perhatian pada detail penampilan dan perilaku. Hasilnya pembaca lebih dalam terbawa kepada peristiwa.
Jurnalisme Baru bergaya fiksi, tapi bukan fiksi. Kata Tom Wolfe, "Kedatangan tiba-tiba gaya baru jurnalistik, dari dunia antah-berantah, telah membuat panik komunitas sastra."
Tom Wolfe yang melahirkan manifesto Jurnalisme Baru. Menurut dirinya, Jurnalisme Baru lahir di AS pada 1965. Tapi baru akhir 1966 orang mulai membicarakannya sebagai sebuah genre. Tahun-tahun itu AS mengalami perubahan, antara lain gerakan hak sipil kulit hitam.
Selain Tom Wolfe, tokoh Jurmalisme Baru lainnya ialah Gay Talese, Jimmy Breslin, Dick Schaap, dan Terry Southern, yang menjadikan majalah Esquire dan The New York Herald Tribune bukan hanya sebagai media, melainkan sebagai rumah Jurnalisme Baru.
Dalam jurnalisme lama yang terbaik, yang tegak lurus kepada fakta, publik media umumnya terpikir tentang surat kabarnya (New York Times, St Louis Post-Dispatch, dan Christian Science Monitor, misalnya), bukan wartawannya.
Sebaliknya, dalam Jurnalisme Baru, orang lebih merujuk kepada sang wartawan daripada medianya. Orang lebih ingat Tom Wolfe dan Gay Talese daripada Esquire, Jimmy Breslin dan Pete Hamill daripada New York Post. Bahkan, ketika orang terpikir tentang Jurnalisme Baru, bukan hanya tulisannya yang datang dalam pikiran, melainkan siapa mereka, who they are, sang jurnalis.
Dalam hal Tom Wolfe, contohnya, orang terbayang pakaiannya. Jas putih pertama dibelinya untuk dipakai di musim panas (1962). Tetapi terlalu tebal. Kemudian ia mengenakannya di musim dingin. Hal itu menimbulkan sensasi, yang biasa dipakai di musim panas dikenakan di musim dingin.
Sensasi itu diabadikannya, menjadi ciri dirinya. Tom Wolfe memakai setelan jas putih, bersepatu dua warna, sampai akhir hidupnya. Dalam kostum demikian, dia sendiri membahasakan dirinya, 'seperti manusia dari Mars'.
Salah satu karya Tom Wolfe yang cemerlang ialah The Right Stuff (1979). Buku itu tentang pilot angkasa luar, hasil riset yang intensif Tom Wolfe. Ia mewawancara pilot-pilot uji coba, astronaut, dan juga istri mereka. Pada 1983, karya itu diflimkan sepanjang 3 jam 13 menit.
Astronaut Scott Kelly, salah seorang narasumber, suatu hari dari angkasa luar menelepon Tom Wolfe. Dalam percakapan itu ia bertanya, bagaimana Tom menulis. Apakah pakai laptop? "I use a pencil." Pakai pensil? Sang astronaut mengulanginya karena tidak yakin ada seluruh isi buku ditulis dengan pensil.
Tom Wolfe meraih gelar doktor dari Universitas Yale (1957). Sebelum menyelesaikan tesisnya, ia menjadi reporter umum surat kabar Springfield Union (Massachusetts). Pada 1962, dia pindah menjadi reporter koran New York Herald Tribune.
Ia bekerja dengan unik. Setiap hari, mengenakan jas dan sepatu trademark dirinya, ia berangkat kerja di lantai bawah, masih di dalam unit apartemen kediamannya di New York. Di situlah ia menulis dengan pensil sebanyak 10 halaman. Tidak lebih, tidak kurang. Bila 10 halaman itu selesai pada pukul 3 siang, dia berhenti bekerja. Sebuah disiplin dan kemewahan berkreativitas yang menggiurkan.
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved