Setelah 21 Tahun

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
23/5/2018 05:30
Setelah 21 Tahun
(ebet)

DUA hari lalu kita memperingati 20 tahun reformasi. Pada 21 Mei 1998 Presiden Soeharto menyatakan meletakkan jabatannya sebagai kepala negara dan juga kepala pemerintahan. Gejolak ekonomi yang diikuti gejolak sosial membuat Presiden Soeharto tidak kuasa menahan tekanan rakyat yang memintanya untuk mundur setelah 32 tahun berkuasa.

Terutama kondisi ekonomi membuat Presiden Soeharto merasa tidak mungkin untuk bisa bertahan. Nilai tukar rupiah bergejolak hingga sempat mencapai 17 ribu per dolar AS. Penarikan secara besar-besaran uang dari perbankan membuat suasana terasa chaotic. Suku bunga perbankan pun melonjak sampai 80%.

Presiden Soeharto sempat berupaya untuk meredam gejolak nilai tukar dengan mematok nilai tukarnya. Namun, tekanan dari Presiden Amerika Serikat Bill Clinton yang sedang mengekspor demokratisasi membuat rencana itu tidak bisa berjalan. AS mengancam tindakan yang lebih keras apabila Presiden Soeharto menjalankan kebijakan tersebut.

Itulah yang kemudian membedakan Indonesia dan Malaysia dalam menghadapi krisis keuangan yang melanda Asia Timur dan Asia Tenggara. Perdana Menteri Mahathir Mohammad mendapat 'perlindungan' dari Inggris untuk bisa menutup perekonomian Malaysia sehingga ringgit tidak lagi diperdagangkan di pasar uang. Kebijakan itulah yang membuat ringgit selamat dari spekulasi, sementara rupiah 'dipermainkan' para spekulan dunia seperti George Soros.

Dengan nilai tukar rupiah yang terpuruk begitu dalam, para pengusaha besar pun tiba-tiba mengalami kesulitan likuiditas. Mereka tidak sempat lagi menegosiasikan utang dengan para kreditor karena pemerintah mengambil alih utang tersebut. Pemerintah kemudian meminta para pengusaha menyerahkan semua aset untuk menutup kewajiban utang yang ditalangi pemerintah.

Ibarat istana pasir yang dibangun dengan susah payah, konglomerasi Indonesia pun begitu mudah untuk bertumbangan. Indonesia yang sempat dijuluki sebagai macan baru Asia tiba-tiba menjadi paria. Kejadian yang berlangsung begitu cepat membuat kita tidak bisa berpikir lagi apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Semua tidak ada yang peduli karena ada satu tujuan besar yang dicapai, yakni lengsernya Presiden Soeharto. Harapannya perubahan sistem politik dari autokrasi menjadi demokrasi akan membawa Indonesia menjadi negara maju seperti negara-negara Barat yang menerapkan kebebasan.

Sekarang tentunya kita pantas bertanya, apakah perubahan besar sistem politik membuat Indonesia menjadi lebih baik? Kalau dilihat dari sisi kebebasan, kita merasakan bahwa sekarang lebih baik. Kita bisa bebas melakukan apa saja, termasuk mengolok-olok pemegang kekuasaan.

Hanya, ketika kebebasan dipakai untuk sekadar kebebasan dan lupa tujuan berbangsa dan bernegara, kita sebenarnya tidak sedang membangun Indonesia yang lebih baik. Kesejahteraan umum yang seharusnya menjadi tujuan utama kita tertinggal di belakang. Survei Indo Barometer menemukan hal yang dirasakan tidak lebih baik dari Orde Baru ialah bidang ekonomi.

Di saat kita memperingati 20 tahun reformasi, kita melihat bagaimana rupiah semakin terpuruk. Bahkan sempat nilai tukar rupiah menyentuh 14.200 per dolar AS. Memang faktor luar, khususnya perbaikan ekonomi AS, membuat hampir semua mata uang dunia melemah. Namun, faktor dalam negeri tidak kalah berperannya terhadap pelemahan nilai tukar rupiah.

Kalau kita melihat data ekonomi yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan, semua menunjukkan keadaan yang tidak terlalu menggembirakan. Mulai neraca perdagangan baik barang, migas, maupun jasa, semuanya negatif. Demikian pula dengan neraca transaksi berjalan, neraca pendapatan primer, dan neraca pembayaran.

Belajar dari pengalaman masa akhir Orde Baru, seharusnya kita lebih menjaga perekonomian kita. Terutama tekanan terhadap rupiah harus dijaga bersama-sama. Bagaimana caranya? Pertama dengan pengendalian devisa bebas. Negeri seperti AS tidak memperbolehkan adanya keluar-masuk uang dalam bentuk kontan dalam jumlah besar. Semua pergerakan uang harus jelas transaksi yang dilakukannya.

Hal lain yang bisa kita lakukan ialah penempatan hasil devisa ekspor di dalam negeri. Kita tidak pernah meminta pengusaha untuk ikut menjaga nilai tukar rupiah. Kita memperbolehkan semua orang untuk bebas menempatkan hasil usaha mereka di mana saja. Padahal, negara lain mewajibkan hasil devisa ekspor disimpan di perbankan dalam negeri.

Alasan yang selama ini dipakai ialah sistem perbankan kita tidak menunjang pembayaran luar negeri yang harus dilakukan perusahaan. Perbaikan sistem pembayaran perbankan itulah yang harus kita lakukan sehingga tidak ada alasan hasil devisa ekspor disimpan di perbankan luar negeri.

Kalau kita ingin memperbaiki Orde Baru, bukan sekadar bisa menyalahkan. Seharusnya kita mempertahankan yang sudah baik dan memperbaiki kelemahan yang dulu ada. Salah satu kelemahan yang membuat kita menjadi ajang spekulasi ialah penerapan sistem devisa bebas. Kita bukan mengusulkan agar kita menutup diri, tetapi saatnya kita menerapkan sistem devisa bebas terkontrol.

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.