Damai

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
16/5/2018 05:30
Damai
()

SEPEKAN terakhir ini suasana yang kita hadapi terasa kelabu. Dimulai aksi pendudukan Markas Komando Brigade Brimob di Kelapa Dua, Depok, oleh narapidana terorisme yang dititipkan di sana. Lima anggota Detasemen Khusus 88 gugur secara mengenaskan. Mereka meninggal setelah disiksa dan dianiaya penjahat terorisme yang sudah dijatuhi hukuman oleh pengadilan.
        
Belum lagi rasa kaget dan sedih kita atas gugurnya anggota polisi hilang, Minggu, kita dikagetkan lagi oleh tindakan bom bunuh diri yang dilakukan enam anggota dari satu keluarga--ayah,ibu, dan empat orang anak--di tiga gereja yang berbeda di Surabaya. Bukan hanya enam pelaku yang tewas, melainkan juga jemaat yang hendak berdoa di gereja menjadi korban.
        
Pada malam harinya, terungkap lagi aksi pembuatan bom di sebuah rumah susun di Sidoarjo dan pelaku tewas ketika hendak melawan petugas polisi. Senin pagi penyerangan dengan bom bunuh diri terjadi lagi di Kantor Kepolisian Resor Kota Surabaya yang menewaskan empat pelakunya.
         
Sejauh ini tercatat 28 korban jiwa, dengan 16 di antaranya merupakan pelaku aksi teror. Jumlah korban luka jumlahnya jauh lebih banyak dan negara sudah menyatakan menanggung semua biaya pengobatan bagi mereka.
         
Kita belum tahu motif dari rangkaian teror ini. Presiden Joko Widodo sudah memerintahkan Kepala Kepolisian Republik Indonesia untuk mengusut dan menindak keras pelaku sampai ke akar-akarnya. Kita harus memberikan respons yang cepat dan tegas agar pelaku teror tidak bertindak semena-mena.
         
Saatnya bagi kita untuk menunjukkan kembali kebersamaan. Sama seperti kita lakukan ketika rangkaian aksi teror melanda negeri ini di awal 2000-an. Setelah Bom Marriot, kita tampil untuk menunjukkan kita tidak takut terhadap aksi terorisme tersebut.
        
Pengalaman semua negara, aksi teror harus dihadapi dengan kebersamaan. Jangan sampai kita terjebak dalam sikap saling menyalahkan dan hanya mengecam. Di banyak negara, mereka bahkan menggunakan istilah perang melawan terorisme. Oleh karena perang, ada totalitas dalam menghadapinya.
        
Amerika Serikat sejak serangan teror 2001 membentuk kementerian keamanan dalam negeri. Mereka tidak hanya menugaskan aparat polisi untuk menghadapinya, tetapi juga tentara. Bahkan perlakuan terhadap tersangka pelaku teror tidak menggunakan hukum pidana, tetapi hukum perang.
         
Memang terjadi ekses dalam penerapan kebijakan tersebut. Tetapi, demi menyelamatkan jiwa warga negara yang lebih banyak dan menciptakan keamanan serta ketertiban di negaranya, pemerintah AS tidak ragu menjalankan kebijakan tersebut. Demi kepentingan bangsa yang lebih besar, rakyat Amerika pun menerima pendekatan yang keras dan tegas tersebut.
        
Kita pun tidak boleh ragu ketika yang dipertaruhkan ialah kepentingan bangsa dan negara. Presiden perlu mengundang para pemimpin partai politik dan tokoh masyarakat untuk bersama-sama menghadapi ancaman terorisme ini. Kebersamaan komponen bangsa harus dilakukan dan jangan dilihat sebagai kepentingan politik praktis, karena ini demi kelangsungan negara dan bermanfaat bagi siapa pun yang terpilih pada 2019 nanti.
        
Tidak bosan kita ingatkan, Indonesia dibangun bukan untuk tujuan perebutan kekuasaan. Mereka yang terpilih sebagai presiden hanya mendapatkan amanah untuk memimpin. Tugas utamanya ialah menjaga  kelangsungan Republik, menciptakan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
        
Tugas menciptakan kesejahteraan umum di dalam konstitusi ditegaskan dengan memberikan lapangan pekerjaan yang layak kepada seluruh warga bangsa. Sementara tugas mencerdaskan kehidupan bangsa ditegaskan dengan kewajiban untuk memberikan pendidikan yang baik. Yang lebih luar biasa, para pendiri bangsa mewajibkan negara untuk memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar.
        
Semua tugas yang mulia itu hanya bisa dijalankan apabila kita bisa menciptakan kedamaian. Hanya dengan suasana yang damai, seluruh warga bisa menjalankan kegiatan yang produktif. Semua bekerja untuk membuat negara ini maju dan kemudian kemajuan itulah yang akan membawa kita mencapai masyarakat yang adil dan makmur.
        
Sekarang kita semua diuji untuk menunjukkan kesetiaan kepada Republik. Inilah momentum untuk mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi. Caranya dengan melakukan apa yang selama ini menjadi tanggung jawab kita. Yang menjadi pengusaha, teruslah berusaha dan mengembangkan bisnisnya. Yang menjadi profesional, bekerjalah dengan penuh profesionalisme. Kerjakan yang terbaik sesuai profesi dan keahlian masing-masing.
         
Masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan. Apalagi dalam era persaingan yang begitu ketat sekarang ini. Tidak bisa kemajuan itu dicapai hanya dengan berwacana. Apalagi dengan sikap yang destruktif untuk mengoyak rasa damai. Kita perlu bekerja keras. Jangan pernah kita kehilangan kecintaan kepada saudara sebangsa dan setanah air. Indonesia merupakan rumah kita bersama yang harus kita rawat.

 



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima