Pungli

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
12/5/2018 05:30
Pungli
(ebet)

PERTEMUAN Presiden Joko Widodo dengan pengemudi truk di Istana Negara membuka mata Presiden tentang masih maraknya pungutan liar di jalan raya. Bahkan para sopir menyampaikan jumlahnya semakin banyak dan memberatkan mereka. Pelakunya bukan hanya preman jalanan, melainkan juga aparat berseragam, baik petugas dinas perhubungan darat maupun polisi.
         
Sebenarnya kita tidak perlu bertanya kepada sopir truk untuk mengetahui masih maraknya praktik pungli yang terjadi di sekitar kita. Dengan kasatmata kita bisa melihat apabila berkendaraan di jalan raya. Pungli mudah ditemukan di mana-mana.
        
Wakil Ketua Umum Asosiasi Peritel Indonesia Tutum Rahanta dalam program Economic Challenges pernah menunjukkan bagaimana pungli itu dilakukan. Truk-truk yang tidak mendapatkan stempel di bak belakangnya seakan sah untuk dipungli. Agar tidak capek untuk dicegat di tengah jalan, sopir-sopir truk harus mendapatkan stempel. Namun, untuk itu juga harus ada uang yang dibayarkan.
         
Masalah pungli ini memang pernah membuat gemas Presiden pada 2016. Presiden ketika itu mengeluarkan peraturan presiden tentang pemberantasan pungli. Bahkan tidak tanggung-tanggung dibentuk Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar yang dipimpin Inspektur Pengawasan Umum Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia.
         
Salah satu yang membuat kita sulit menjadi negara besar ialah soal konsistensi. Sikap dan cara kerja kebanyakan kita hanya ramai di awal. Setelah itu semua kembali seperti semula, business as usual. Nenek moyang kita menangkap fenomena itu sehingga muncul pepatah 'hangat-hangat cirit ayam'.
         
Pemberantasan pungli pun seperti itu. Setelah keluar peraturan presiden, sempat dibentuk desk khusus yang menangani sapu bersih pungli. Bahkan kepada masyarakat disampaikan tata cara mengadukan apabila menghadapi pungli.
         
Pada awalnya, langkah penindakan pun ramai dipublikasikan. Tidak sedikit aparat polisi yang ditindak atasannya karena melakukan pungli. Namun, seperti sudah diduga, belum dua tahun penyakit sosial itu kembali muncul dan bahkan dikatakan para sopir truk semakin marak.
         
Pertanyaannya, cukupkah Presiden merasa kaget? Perlukah Presiden lalu mengeluarkan lagi peraturan tentang pemberantasan pungli? Kalau pesan pentingnya pemberantasan korupsi itu tidak ditangkap esensinya oleh aparat, kita tidak pernah bisa memperbaiki tatanan sosial yang sudah karut-marut ini.
          
Kita tidak bisa hanya kaget. Yang harus ditanamkan kepada aparat penegak hukum ialah pungli ini sama dengan korupsi. Akibat pungli ini bukan hanya terjadi inefisiensi, melainkan juga kekacauan dalam data ekonomi kita karena semakin memperbesar ekonomi bawah tanah.
          
Selama ini kita merasa hebat karena produk domestik bruto sudah di atas US$1 triliun. Namun, kita kaget ketika rasio pajak kita tidak pernah bisa lebih dari 13%. Pemerintah pun gencar mengejar-ngejar pajak karena merasa penerimaan pajak di bawah potensi yang seharusnya.
          
Salah satu yang bisa menjawab rasio pajak rendah ialah besarnya ekonomi bawah tanah tadi. Praktik korupsi dan juga pungli membuat kelompok yang diuntungkan mempunyai penerimaan yang tinggi. Oleh karena cara mendapatkannya mudah, maka cara membelanjakannya pun mudah. Namun, ekonomi bawah tanah ini sulit untuk bisa dijangkau pajak.
          
Hal itu akan terkonfirmasi oleh besarnya pajak penghasilan yang diterima negara. Kalau konsumsi itu berasal dari kegiatan produktif yang nyata, pasti pajak penghasilan pribadi akan tinggi. Akan tetapi, sekarang ini pajak penghasilan terbesar yang diterima negara berasal dari badan atau perusahaan. Pajak penghasilan pribadi hanya menyumbangkan sekitar 40%.
         
Karena kita menutup mata kepada korupsi dan pungli, arah kebijakan yang ditempuh menjadi keliru. Selama ini kita selalu membuat anggaran pendapatan dan belanja negara yang tinggi karena merasa bisa memperoleh penerimaan pajak tinggi. Namun, karena basis pajaknya rendah, yang dikejar pajak ialah pengusaha itu-itu saja. Akibatnya, pengusaha itu bukan semakin besar, melainkan justru semakin kecil.
         
Dampak lanjutannya kita rasakan sekarang ini. Tingkat pertumbuhan ekonomi tidak pernah bisa di atas 5% karena ibaratnya ayam petelur yang diharapkan bertelur emas itu justru merasa stres. Ketika dunia usaha merasa tidak nyaman, mereka pun memindahkan kekayaannya keluar. Terutama kekayaan dalam bentuk surat berharga dilepas untuk ditukarkan ke valuta asing. Inilah yang membuat rupiah terpuruk sampai di atas 14.000 per dolar AS.
         
Oleh karena itu, Perdana Menteri Tiongkok Xi Jinping tidak main-main dalam memberantas korupsi dan juga pungli. Tidak tanggung-tanggung pelakunya dihukum mati karena mereka tidak hanya dianggap mencuri uang rakyat, tetapi juga merusak rencana pembangunan nasional. Kita pun tidak boleh setengah hati memberantas korupsi dan pungli kalau ingin membuat Indonesia menjadi negara maju.
)



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.