Pasar Keuangan

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
28/4/2018 05:30
Pasar Keuangan
(ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

TIDAK semua orang peduli dengan gejolak yang tengah terjadi di pasar uang dan pasar modal.

Bagi banyak warga, bisa melanjutkan hidup merupakan persoalan yang lebih penting untuk dipikirkan.

Hanya kelompok elite yang peduli dengan naik-turunnya indeks harga saham gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah.

Hanya, karena kelompok elite ini mempunyai akses terhadap informasi, pemerintah harus memberikan respons.

Sebabnya, ketika pemerintah diam dan tidak berbuat sesuatu, interpretasinya bisa melebar ke mana-mana.

Kalau keadaannya menjadi tidak terkendali, seluruh warga akan terkena akibatnya.

Sekarang ini saatnya pemerintah memberikan panduan sebab pelemahan terus berlangsung dan nilai tukar rupiah sudah mendekati Rp14 ribu per dolar AS.

Memang, tingkat depresiasi rupiah relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan mata uang negara-negara tetangga.

Namun, kita tidak bisa tenang-tenang karena pemburukan bisa semakin cepat apabila tidak ada respons yang memadai.

Faktor psikologis masyarakat sangat sulit untuk diukur dan dikendalikan, apalagi apabila ada 'tangan-tangan kotor' yang mencoba mengail di air keruh.

Pengalaman 1998 orang seperti George Soros bisa memurukkan perekonomian Indonesia.

Kita harus tambahkan, nasionalisme kita masih dangkal. Pada saat negara membutuhkan soliditas nasional, justru ada yang ingin melemahkan.

Mereka tidak peduli pada yang namanya kepentingan nasional.

Apalagi, sekarang kita sedang berada dalam saat-saat menjelang pemilihan umum.

Momentum seperti ini bisa dipakai untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

Beda dengan bangsa Jepang, misalnya.

Kepentingan nasional mereka tempatkan di atas kepentingan pribadi.

Mereka boleh berbeda kepentingan politik, tetapi cara berpolitik mereka tidak menggunakan 'teori katak' yang memakai dua tangan dan dua kaki untuk menekan ke bawah hanya supaya bisa melompat.

Sekarang ini yang perlu kita lakukan ialah menggerakkan perekonomian dalam negeri.

Bagaimana kita mendorong semua aktivitas yang dilakukan warga menjadi kegiatan yang produktif.

Semua harus bisa memberikan nilai tambah karena itulah yang akan memberikan manfaat baik bagi kita sebagai pelaku maupun kepada negara.

Kita tidak cukup mengatakan, secara makro kondisi ekonomi kita baik.

Memang, cadangan devisa kita masih bisa mengamankan kebutuhan yang mendesak untuk waktu enam bulan.

Peringkat kredit juga terus membaik. Defisit neraca transaksi berjalan masih terjaga.

Namun, di sisi mikro kita melihat perlambatan masih terus terjadi.

Penerimaan pajak pada kuartal I dikatakan tumbuh sekitar 14%.

Namun, banyak perusahaan yang mengalami persoalan dengan arus kas.

Hanya perusahaan berbasis sumber daya alam dan mengandalkan ekspor yang masih tumbuh, tetapi bidang lain menghadapi masalah besar.

Ketidakpercayaan terhadap kondisi perekonomian jangka pendek tecermin dari sikap para pelaku pasar modal.

Mereka mengambil posisi jual sehingga IHSG tertekan di bawah 6.000.

Orang memilih mengambil keuntungan karena ada potensi lebih baik di luar negeri, yakni semakin pulihnya perekonomian Amerika Serikat.

Dalam situasi seperti sekarang yang dibutuhkan ialah menjaga kepercayaan pasar.

Bagaimana caranya? Salah satunya, tidak mengeluarkan kebijakan yang menimbulkan ketidakpastian.

Koordinasi antarkementerian harus dikelola dengan baik agar tidak ada kebijakan satu kementerian yang berdampak buruk pada kementerian yang lain.

Ambil contoh keputusan dalam menetapkan libur Lebaran.

Jangan hanya demi menjaga agar tidak terjadi kemacetan, pemerintah lalu membuat libur bersama hampir dua pekan.

Bagi para investor, libur dua pekan jelas merupakan penyia-nyiaan peluang bisnis.

Perusahaan pasti akan banyak merugi ketika kegiatan bisnis berhenti begitu lama.

Contoh lain, keputusan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengenai aturan pengelolaan limbah tambang Freeport.

Sudah 50 tahun operasi tambang berjalan dan untuk tambang yang dilakukan pada ketinggian lebih 3.000 meter di atas permukaan laut, pembuangan tailing melalui sungai merupakan opsi yang punya risiko paling rendah.

Ketika kebijakannya diubah secara sepihak, yang terancam ialah operasi secara keseluruhan.

Memang, dari sisi lingkungan hidup, kebijakan itu terasa heroik.

Namun, bagi kepastian berusaha, hal tersebut memberikan citra yang tidak baik kepada Indonesia.

Apalagi, sedang ada upaya pengambilalihan saham oleh Indonesia.

Pesan yang muncul di benak investor dunia, Indonesia sedang melakukan hostile takeover.

Ketika persepsi itu muncul, upaya pemerintah untuk menarik investasi menjadi tidak ada manfaatnya.

Investor Singapura, misalnya, menunda pengembangan kawasan industri di Kendal, Jawa Tengah, karena merasa investor yang sudah 50 tahun saja bisa ditendang begitu saja.

Bagaimana investor baru? Inilah pekerjaan rumah yang harus dituntaskan apabila kita tidak ingin melihat rupiah dan pasar modal semakin terpuruk.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima