Amburadulness

SURYOPRATOMO/Dewan Redaksi Media Group
25/2/2015 00:00
Amburadulness
(ANTARA/ALOYSIUS JAROT NUGROHO)
ISTILAH dalam judul di atas, yang diperkenalkan mantan Kepala Staf Angkutan Udara Chappy Hakim, harus kita lihat sebagai bentuk kekecewaan. Bagaimana industri penerbangan yang dibatasi regulasi yang ketat, ternyata dikelola dengan cara amburadul.

Ribuan calon penumpang Lion Air telantar sepanjang Kamis (19/2) dan Jumat lalu. Tidak ada penjelasan sama sekali dari manajemen perusahaan penerbangan itu tentang apa yang terjadi dan bagaimana nasib mereka yang hendak bepergian.

Staf Lion Air dibiarkan berjuang sendirian di lapangan. Mereka tidak tahu harus memberikan jawaban apa atas pertanyaan calon penumpang. Mereka nyaris menjadi bulan-bulanan penumpang yang kehilangan kesabaran. Tindakan tidak bertanggung jawab manajemen Lion Air merugikan juga pengelola bandar udara. Fasilitas bandara yang disewa operator penerbangan itu menjadi pelampiasan kemarahan calon penumpang. Bahkan, pada Jumat (20/2) para penumpang memblokade bandara sehingga Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta terganggu penggunaannya.

Sampai saat ini tidak jelas apa sebenarnya yang terjadi. Penjelasan manajemen Lion Air hanya mengatakan mereka telah keliru dalam penjualan tiket. Mereka tidak menyadari bahwa armada yang dimiliki tidak mencukupi untuk melayani penjualan tiket yang di luar kapasitas. Penjelasan itu sangat tidak memadai untuk bisa menjelaskan duduk perkara. Itulah bentuk keamburadulan seperti yang dikatakan Chappy Hakim. Jumlah armada sangat mudah untuk dihitung karena waktu perawatan pesawat sudah terjadwal dan tidak mungkin dilakukan tiba-tiba.

Kementerian Perhubungan tidak bisa membiarkan kejadian itu berlalu begitu saja. Harus ada audit secara menyeluruh agar bisa diambil tindakan koreksi. Tidak bisa operator penerbangan memperlakukan penumpang dengan seenaknya. Jangan lupa, kita sedang hidup di era terbuka. Kasus yang terjadi di Lion Air menjadi pemberitaan di media internasional. Semua orang mempertanyakan bagaimana sebuah perusahaan penerbangan bisa tidak memedulikan sama sekali hak konsumen.

Kita tidak bisa memungkiri Lion Air merupakan perusahaan besar. Pangsa pasar mereka disebut mencapai 43% untuk penerbangan domestik, lebih besar daripada layanan Garuda Indonesia. Sebagai perusahaan besar, Lion Air seharusnya lebih bertanggung jawab. Pemerintah tidak bisa menerapkan prinsip too big to fail. Ketika maskapai tidak memedulikan hak konsumen, pemerintah justru harus menghukum. Pembiaran terhadap kasus ini akan membuat orang berbuat seenaknya. Mereka tidak memperhatikan hak konsumen yang seharusnya dilayani sebaik mungkin.

Ketidakberdayaan untuk menegakkan aturan tidak hanya akan membuat kita dianggap sebagai negara amburadul, tapi juga menurunkan kepercayaan dunia kepada kita. Negeri ini akan dianggap sebagai negeri kacau dan tidak dipercaya sebagai negara besar yang pantas dihormati. Padahal kita berupaya menjadi masyarakat dunia. Kita sudah mencanangkan untuk bisa menarik 20 juta wisatawan dunia setiap tahun agar melihat peradaban bangsa ini. Kalau pelayanannya amburadul seperti ini, siapa yang mau berkunjung ke Indonesia?

Ada isu yang juga harus diklarifikasi, soal mismatch keuangan. Sejauh mana pembelian pesawat dalam jumlah besar dari Boeing dan Airbus bisa dibiayai oleh operasional pesawat? Jangan sampai negara mendapat cap 'amburadulness' karena korporasi juga menjalankan usaha dengan seenaknya.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.