Kartini Kini

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
24/4/2018 05:30
Kartini Kini
()

DI grup Whatsapp sekolah kami, ada banyak unggahan yang berkaitan dengan Hari Kartini. Ada meme Kartini 'asli' yang rajin menulis dan Kartini sekarang yang asyik bermain gadget. Ada kiriman penggesek biola yang memainkan lagu Ibu Kita Kartini, ada berita RA Kartini belajar agama Islam pada Kiai Sholeh Darat yang juga guru pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari.

Juga ada kiriman foto aneka kegiatan kartinian dengan berbagai aksi dari berbagai daerah, dari balita yang duduk di PAUD hingga yang berkategori nenek-nenek. Namun, yang segera mengundang diskusi ialah unggahan gambar hitam putih RA Kartini yang berkacamata dan berhijab.

Di bawah gambar itu tertulis 'Foto RA Kartini ketika menjadi santri Kyai Saleh Darat. Tidak memakai konde dan berkebaya. Foto RA Kartini yang berkode dan berkebaya versi Belanda akan terus dikeluarkan oleh kaum sekuler agar RA Kartini tetap dikenang sebagai perempuan yang tak mau berjilbab'.

Saya tahu foto itu pernah muncul tiga tahun lalu. Ada semangat ingin 'mengislamkan' Kartini yang kita tahu selama ini tampil dengan sosok perempuan Jawa yang berkebaya dan berkonde. Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 dan meninggal 17 September 1904.

Agak sulit mencari realitas perempuan berhijab di tahun-tahun itu, terlebih RA Kartini yang dari keluarga bangsawan Jawa. Saya membaca tulisan-tulisan RA Kartini, baik yang dibukukan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang (2018, edisi Baru) maupun Kartini, Surat-Surat kepada Ny RM Abendanon Madri dan Suaminya (2000, cetakan ketiga), memang ada beberapa kali ia bicara agama (Islam), tetapi rasanya mustahil Kartini berhijab.

Saya membaca ia belajar agama kepada Kiai Sholeh Darat, tetapi belum sampai Kartini berhijab. Ia memang punya renungan agama lumayan dalam, tetapi mengklaim gambar dengan 'identitas Islam' tanpa kebenaran fakta historis, ini mengingkari fakta sesungguhnya.

Setelah mengaji pada Kiai Sholeh Darat, Kartini memang kerap berbicara tentang Islam dalam surat-suratnya. Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, 21 Juli 1902, ia menulis, 'Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah.

Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai'. Dalam surat ke Ny Abendanon, 1 Agustus 1903, Kartini menulis, 'Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah'. Kebaya dan konde memang bagian dari busana Indonesia, Jawa khususnya.

Di zaman itu, tentu pakaian serupa di kalangan keluarga ningrat pastilah teramat biasa. Tak usahlah fakta itu diingkari, diganti sesuai dengan persepsi pengunggahnya; Kartini berhijab. Manipulasi gambar seperti itu tentu juga memanipulasi sejarah. Tak baik juga buat Islam.

Sejarawan Harsya W Bachtiar memang pernah menolak pengultusan RA Kartini lewat artikel berjudul 'Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita' yang kemudian dimuat dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4). 'Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda.

Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya', tulis Harsja. Gugatan terhadap Kartini yang datang kemudian umumnya bertolak dari tulisan Harsja. Intinya ada perempuan lain selain Kartini yang layak dijadikan tokoh dilihat dari perjuangannya.

Namun, benarkah foto yang berkebaya dan berkonde versi Belanda akan terus dikeluarkan kaum sekuler agar RA Kartini tetap dikenang sebagai perempuan yang tak mau berjilbab? Saya kira ini sulit dicari kebenaran faktanya.

Menurut Harsya, selain Kartini ada dua wanita hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan dari Aceh (1644-1675). Ia dikenal sebagai sosok yang aktif mengembangkan ilmu pengetahuan, menguasai bahasa asing seperti Arab, Persia, Spanyol, dan Urdu. Di masa itu pun ilmu dan kesusastraan berkembang pesat.

Lahirlah karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf. Kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. la ahli pemerintahan dan kesusastraan yang menulis ihtisar La-Galigo yang berisi 7.000 halaman. BF Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang berisi lebih dari 7.000 halaman folio.

Pada 1908 wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, pendidikan modern pertama yang dibuka untuk murid pria dan wanita. Menurut Harsya pula bahwa Cristiaan Snouck Hurgronje, penasihat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong JH Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama, dan Kerajinan, memberikan perhatian pada tiga bersaudara: Kartini, Roekmini, dan Kardinah.

Kartini pun kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP), tokoh sosialisme HH van Kol dan penganjur 'Haluan Etika' C.Th van Deventer.

Kepada merekalah surat-surat Kartini juga dua adiknya kemudian ditujukan. Kartini wafat di usia 25 tahun. Surat-surat itu ditulis 1899-1904. Enam tahun kemudian Abendadnon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbit terjemahan dalam bahasa Melayu, Habis Gelap Terbitlah Terang (1922).

Rasanya menghabiskan energi setiap tahun, Kartini terus menjadi kontroversi. Ada kecenderungan pula perdebatan itu menjurus primordial. Mesti ada kajian dari para ahli dengan tingkat objektivitas tinggi dan kearifan kita untuk mengambil inspirasi dari tokoh perempuan mana pun tanpa harus saling menegasi dan mengecilkan.

 

 



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima