Berbahagialah, Danarto

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
13/4/2018 05:30
Berbahagialah, Danarto
()

KABAR duka itu saya terima ketika berada di Banyumas, Jawa Tengah, Selasa malam silam: seniman Danarto berpulang setelah ditabrak sepeda motor di kawasan UIN Ciputat. Lelayu itu segera menyebar di media sosial hanya beberapa saat setelah ia mengembuskan napas penghabisan.

Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji'uun (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jua kami kembali). Jasad sang seniman yang karya-karyanya mendapat apresiasi banyak pengamat sastra ini, dimakamkan di kota kelahirannya, Sragen. Di samping pusara sang ibunda.

"Semua yang berasal dari-Nya, akan kembali juga kepada-Nya. Selamat jalan, Danarto, sampai jumpa di Sana. Semoga jalanmu dimudahkan-Nya. Amin," tulis penyair Sapardi Djoko Damono, yang juga guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, di akun Twitter-nya.

Saya segera teringat cerita buruk Achmad Wahib. Intelektual muda, pemikir dan pembaharu Islam, yang juga meninggal dunia ditabrak sepeda motor di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat, pada 1973. Usia Wahib waktu itu 30 tahun, calon reporter Majalah Tempo, kini Danarto 77 tahun.

Usia keduanya terpaut dua tahun, Wahib lebih muda. Keduanya bergulat dengan dunia penulisan. Sastrawan Goenawan Mohammad, dengan mengutip sajak Kahlil Gibran, memberikan secara khusus kepada almarhum, "Seperti sungai dan laut akhirnya satu, juga hidup dan kematian."

Ia pun kemudian melanjutkan sekilas perkenalannya dengan seniman kelahiran Sragen, 27 Juni 1940 itu. "Danarto, yang saya kenal sejak 1963, bermula sebagai perupa yang karyanya memesona: adegan dan sosok ganjil yang digambar dengan halus. Pada 1967 tiba-tiba menulis cerita (Godlob) dengan tokoh magis mirip dari mimpi--sebelum Realisme Magis, sebelum Garcia Marquez," tulis Goenawan.

Marquez ialah sastrawan kenamaan Amerika Latin yang banyak penggemarnya di Indonesia. Danarto yang kerap dilekatkan dengan karya-karya sufistik memandang kematian dengan bahagia. Kematian sebagai 'jalan pulang'. Pulang memenuhi panggilan-Nya, sang empunya hidup.

"Ternyata kematian itu membahagiakan. Sungguh di luar dugaan. Kematian itu tidak terbatas. Luas bagai cakrawala. Mengapa harus ditangisi? Jelas ini salah tafsir," tulis Danarto dalam cerita pendek Jantung Hati.

Bukan kali ini saja mendiang ditabrak sepeda motor. Beberapa waktu yang lalu, kata cerpenis Seno Gumira Adjidarma, Danarto pernah mengalami hal serupa meski tak begitu parah. Namun, alih-alih ia marah, malah sang seniman ini yang memberinya uang kepada si penabrak.

Siapa pun yang mengenal almarhum, ia memang sosok altruis; terlalu baik kepada siapa pun di tengah keterbatasannya. Danarto kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta. Pada 1968 cerita pendeknya Rintrik mendapat Hadiah Sastra dari majalah Horison.

Ia bergabung dengan Teater Sardono, yang melawat ke Eropa Barat dan Asia, 1974. Di samping berpameran Kanvas Kosong (1973), Danarto juga berpameran puisi Konkret (1978). Sebagai pelukis ia pernah mengadakan pameran di beberapa kota.

Ia juga pernah menjadi penata artistik dalam pentas Oedipus yang disutradarai Rendra. Ia juga pernah aktif di Sanggar Bambu pimpinan pelukis Sunarto Pr, dan ikut mendirikan Sanggar Bambu Jakarta. Pada 1979-1985 bekerja di majalah Zaman, dan pada 1976 mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, AS.

Pada 1983 menghadiri Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda. Danarto menulis novel Asmaraloka (1999), naskah drama Obrok Owok-Owok, Ebrek Ewek-Ewek (1976), Bel Geduwel Beh (1976). Sementara kumpulan cerpennya dibukukan dalam Godlob (1975), Adam Makrifat (1982), Berhala (1987), Gergasi (1993), dan Setangkai Melati di Sayap Jibril (2001).

Pengalamannya ke Tanah Suci dibukukan dalam Orang Jawa Naik Haji (1984). "Strukturnya (karya-karya Danarto) jadi sangat unik. saya tidak mengatakan longgar. Yang menjadikan cerita pendek Danarto berharga bukan ceritanya seperti apa, atau tokohnya seperti apa, tapi suasana yang dibangun oleh cerita pendek itu belum pernah ada di dalam cerita pendek Indonesia sebelumnya," kata Sapardi Djoko Damono.

Seorang seniman berpulang dan pasti tak akan kembali lagi. Ia tak tergantikan. Sebab, eksistensi seniman karena karyanya, bukan dengan surat keputusan dan sumpah jabatan. Berbeda dengan pejabat mati, misalnya camat, bupati, gubernur, anggota dewan, bahkan presiden.

Ia akan segera digantikan dengan melantik pejabat yang baru. Seniman tak serupa itu. Kita berharap ia bahagia di 'dunia baru', alam yang abadi, seperti keinginannya. Kita berduka karena Danarto tak berkarya lagi. Kita berduka karena ia menjadi contoh kebajikan di tengah kehidupan dan hubungan sosial yang kian meregang-menjauh.

Danarto bergaul dengan manusia lintas kultur dan lintas iman. Karena itu, kita kehilangan, ketika kini kita tengah dibelah oleh politik dan aneka kepentingan yang meluruhkan persaudaraan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima