Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MEREKA bekerja dalam sepi. Mereka menanggalkan eksistensi dan aktualisasi diri sendiri. Karena itu, mereka selalu menjauh dari panggung yang berpotensi memunculkan publikasi. Itulah bedanya dengan para selebritas, yang menjadikan panggung sebagai penahbisan eksistensi.
Syarat kerja mereka pun menuntut kecepatan dan keakuratan (velox et excatus). Syarat serupa itu memang muskil dilakukan mereka yang jumud otak dan tak terkendali emosinya.
Mereka mesti cerdas, penuh nyali, dan tenang lakunya. Itulah pekerjaan para jasus, penelik, atau yang populer kita sebut intelijen.
Bagi orang ramai, jasus cerita yang hanya enak didengar, dibaca, ditonton, tapi bukan untuk dimasuki. Ia hanya cocok untuk orang-orang aneh. Orang-orang yang rela kepentingan pribadinya habis dilucuti.
Tengok saja motonya, 'Kalau pergi dianggap mati, kalau hilang tak dicari, kalau sukses tak dipuji, tapi jika gagal dicaci maki'. Bekas praktisi intelijen Supono Soegirman pun menulis buku Intelijen: Profesi Unik Orang-Orang Aneh (2012). Judul yang menyuratkan pengakuan keanehan para jasus itu.
Kita tahu betapa pentingnya kerja para jasus bagi negara. Ia pedoman atau penunjuk jalan. Jika para jasus berhasil dalam bekerja, berarti separuh AGHT (ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan) negara telah ditanggulangi.
Akan tetapi, kita juga mengingat cerita jasus yang kelabu. Pertama, keterlibatan opsus (operasi khusus) dalam Malari pada 1974 yang menimbulkan trauma itu. Rivalitas Jenderal Soemitro versus Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardani mengorbankan Jakarta menjadi chaos.
Dalam buku Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 1974 (1998), Soemitro bicara, "Inilah bukti intelijen negara disalahgunakan untuk kepentingan pribadi (Ali Moertopo)."
Kedua, operasi intelijen di penghujung Orde Baru, penculikan aktivis. Kegagalan operasi itu membongkar semua yang dilakukan Tim Mawar dari Kopassus. Itu juga cerita tentang rivalitas dan ambisi kekuasaan.
Kita sadar sebagai negara besar, Indonesia butuh lembaga intelijen kuat dan andal. Namun, bawah sadar kita masih diselimuti trauma kasus-kasus lama. Karena itu, tantangan Sutiyoso sebagai calon Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) pilihan Presiden Jokowi, juga telah mendapat restu seluruh fraksi di DPR, jadi serius.
Pertama, kian complicated-nya AGHT dunia global yang tak lagi simetris, tetapi asimetris, abstrak, bahkan absurd. Ia membutuhkan intelijen dengan organisasi, SDM, dan teknologi, dengan keandalan tinggi.
Kedua, merebut kepercayaan publik. Pandangan publik yang traumatik akan menjadi kendala serius bagi kerja BIN. Karena itu, setelah dilantik nanti, selain melakukan pembenahan institusi dan sumber daya manusia, bekas Gubernur DKI Jakarta itu mesti kerap dialog dengan banyak pihak.
Setidaknya, upaya itu bertujuan mengobati hati yang luka. Trauma yang tak disembuhkan akan menjadi kendala serius BIN.
Di samping itu, kita masih menganggap ancaman terbesar negeri ini bukanlah dari mana-mana. Dari dalam sendiri, yakni korupsi yang masih amat tinggi dan tak percaya pada kemampuan diri sendiri. Itulah mala terbesar kita.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved