Jasus

07/7/2015 00:00
Jasus
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

MEREKA bekerja dalam sepi. Mereka menanggalkan eksistensi dan aktualisasi diri sendiri. Karena itu, mereka selalu menjauh dari panggung yang berpotensi memunculkan publikasi. Itulah bedanya dengan para selebritas, yang menjadikan panggung sebagai penahbisan eksistensi.

Syarat kerja mereka pun menuntut kecepatan dan keakuratan (velox et excatus). Syarat serupa itu memang muskil dilakukan mereka yang jumud otak dan tak terkendali emosinya.

Mereka mesti cerdas, penuh nyali, dan tenang lakunya. Itulah pekerjaan para jasus, penelik, atau yang populer kita sebut intelijen.

Bagi orang ramai, jasus cerita yang hanya enak didengar, dibaca, ditonton, tapi bukan untuk dimasuki. Ia hanya cocok untuk orang-orang aneh. Orang-orang yang rela kepentingan pribadinya habis dilucuti.

Tengok saja motonya, 'Kalau pergi dianggap mati, kalau hilang tak dicari, kalau sukses tak dipuji, tapi jika gagal dicaci maki'. Bekas praktisi intelijen Supono Soegirman pun menulis buku Intelijen: Profesi Unik Orang-Orang Aneh (2012). Judul yang menyuratkan pengakuan keanehan para jasus itu.

Kita tahu betapa pentingnya kerja para jasus bagi negara. Ia pedoman atau penunjuk jalan. Jika para jasus berhasil dalam bekerja, berarti separuh AGHT (ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan) negara telah ditanggulangi.

Akan tetapi, kita juga mengingat cerita jasus yang kelabu. Pertama, keterlibatan opsus (operasi khusus) dalam Malari pada 1974 yang menimbulkan trauma itu. Rivalitas Jenderal Soemitro versus Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardani mengorbankan Jakarta menjadi chaos.

Dalam buku Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 1974 (1998), Soemitro bicara, "Inilah bukti intelijen negara disalahgunakan untuk kepentingan pribadi (Ali Moertopo)."

Kedua, operasi intelijen di penghujung Orde Baru, penculikan aktivis. Kegagalan operasi itu membongkar semua yang dilakukan Tim Mawar dari Kopassus. Itu juga cerita tentang rivalitas dan ambisi kekuasaan.

Kita sadar sebagai negara besar, Indonesia butuh lembaga intelijen kuat dan andal. Namun, bawah sadar kita masih diselimuti trauma kasus-kasus lama. Karena itu, tantangan Sutiyoso sebagai calon Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) pilihan Presiden Jokowi, juga telah mendapat restu seluruh fraksi di DPR, jadi serius.

Pertama, kian complicated-nya AGHT dunia global yang tak lagi simetris, tetapi asimetris, abstrak, bahkan absurd. Ia membutuhkan intelijen dengan organisasi, SDM, dan teknologi, dengan keandalan tinggi.

Kedua, merebut kepercayaan publik. Pandangan publik yang traumatik akan menjadi kendala serius bagi kerja BIN. Karena itu, setelah dilantik nanti, selain melakukan pembenahan institusi dan sumber daya manusia, bekas Gubernur DKI Jakarta itu mesti kerap dialog dengan banyak pihak.

Setidaknya, upaya itu bertujuan mengobati hati yang luka. Trauma yang tak disembuhkan akan menjadi kendala serius BIN.

Di samping itu, kita masih menganggap ancaman terbesar negeri ini bukanlah dari mana-mana. Dari dalam sendiri, yakni korupsi yang masih amat tinggi dan tak percaya pada kemampuan diri sendiri. Itulah mala terbesar kita.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima