Racun yang Jadi Madu

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
06/4/2018 05:30
Racun yang Jadi Madu
(Ebet)

MADU dan racun dalam politik memang bisa berubah kapan saja. Demikian juga sekutu dan seteru, ia lentur belaka. Begitulah kini yang terjadi di Semenanjung Korea. Dua bangsa bersaudara yang lama berseteru itu mulai ada tanda-tanda bakal kembali bersekutu.

Maka, lagu-lagu Korea Selatan yang dulu dirasa sebagai 'racun' oleh Korea Utara, kini menjadi terasa 'madu'. Malam itu, Minggu, masyarakat dan pemimpin Korea Utara pun mereguk manisnya madu Korea Selatan yang dulu disebut racun itu.

Adalah K-Pop, Red Velvet, yang malam itu menjadi madu di negeri komunis itu. Bertempat di East Pyongyang Grand Theater, Korea Utara, Velvet memuaskan dahaga akan hiburan ribuan penonton Korea Utara. Bahkan, yang istimewa, pemimpin Korea Utara Kim Jong-un bersama istrinya, Ri Sol Ju, juga para pejabat yang duduk di belakang Jong-un, terasa amat menikmati 'madu' Korea Selatan itu.

Terlebih ketika lagu Red Flavor dan lagu yang amat populer di Semenanjung Korea dinyanyikan. "Our Wish is Univication", mereka seolah tenggelam dalam keriangan dan kebersamaan belaka. Bersama Red Velvet, kelompok musik yang terdiri atas empat perempuan cantik, tampil juga penyanyi kenamaan Korea Selatan Cho Yong-pil, Lee Sun-hee, Baek Ji Ji-young.

Malam itu, tak ada caci maki alunan musik kapitalis dan borjuis yang merasuki jiwa bangsa Korea Utara. Duduk di tribune kehormatan tampak wajah Jong-un amat ceria. Ia bahkan beberapa kali bertepuk tangan. Ia juga melambaikan tangan kepada para penyanyi di panggung.

Setelah konser selesai, pemimpin berusia 32 tahun itu menghampiri panggung dan bersalaman dengan para penyanyi. Jong-un yang mengenakan jas hitam menyalami satu-satu para penyanyi. Bahkan, ada sesi foto bersama. Sebuah pemandangan yang tentu kontras dengan sikapnya yang dulu seolah Korea Selatan sebagai musuh abadi.

"Saya terharu melihat rakyat bisa menikmati pertunjukan dan memahami seni populer Korea Selatan. Kita harus sering mengadakan pertunjukan seni budaya. Terima kasih atas kado bagi rakyat Korea Utara," puji Jong-un.

Ada banyak harapan menyeruak atas diplomasi musik pop itu untuk reunifikasi kedua Korea yang berpisah akibat perang saudara yang menewaskan jutaan jiwa pada 1950-1953. Namun, ada juga yang tetap pesimistis dan menuduh Jong-un tengah mengulur waktu soal program bom nuklir.

Yang jelas konser itu juga balasan atas dikirimnya ratusan atlet Korea Utara ke Olimpiade Musim Dingin di Korea Selatan Februari lalu. Kunjungan 'berbalas pantun' atlet-penyanyi itu memang untuk membuat suasana teduh menjelang pertemuan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan Kim Jong-un pada 27 April nanti.

Pertemuan ini juga untuk membahas pertemuan Jong-un dengan Presiden AS Donald Trump Mei nanti. Namun, apa pun pesimistisnya, setidaknya melihat kedua bangsa bersaudara lama menyimpan dendam itu, perlu diapresiasi. Ia serupa oasis juga. Bayangkan, perang selama tiga tahun itu dikabarkan menewaskan 1,3 juta penduduk sipil dan militer Korea Utara dan 3 juta penduduk sipil-militer Korea Selatan.

Perang berhenti karena gencatan senjata dan bukan diikat dan ikrar oleh semangat perdamaian bersama. Terlebih Kim Jong-un yang berkuasa sejak ayahnya, Kim Jong-il, meninggal pada 2011, tak ada tanda-tanda menurunkan tensi ketegangan dengan saudaranya di Selatan.

Diktator muda ini dikabarkan telah menghabisi siapa saja yang mengkritiknya. Salah satu yang dieksekusi mati ialah Menteri Pertahanan Hyon Yong-chol, yang juga pamannya sendiri. Ini terjadi pada April 2015. Hukuman sadis itu dilakukan itu dengan alasan Hyon tertidur dalam sebuah acara kemiliteran.

Kabar lain beredar, popularitas sang paman, yang juga sang mentor Kim, malah berkibar-kibar jika dibandingkan dengan keponakannya itu. Beberapa orang yang mengkritik eksekusi mati itu, termasuk bibinya sendiri, juga dihabisi. Karena itu, banyak yang pesismistis rencana penyatuan kedua Korea itu. Jong-un tak akan sudi. Begitu kira-kira.

"Seseorang bertanggung jawab atas nasibnya sendiri, tetapi manusia juga memiliki kemampuan untuk menghilangkannya," kata Kim Il-sung, kakek Jong-un. Kini, bisa jadi sang cucu tengah menghilangkan nasib buruk kedua bangsa agar bersatu kembali.

Bagi siapa pun yang selalu memandang ufuk masa depan dengan optimistis, tak ada yang musykil dua Korea kembali menjadi satu.

"Biar langit runtuh, selalu ada tempat untuk berlindung."  Sesulit apa pun persoalan selalu ada jalan keluarnya.  Begitu kata pepatah Korea.  Dunia menunggu jalan keluar di Semenanjung Korea.  Agar terasa madu selamanya.

 

 

 



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima