Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SEORANG menteri dengan bangga menyampaikan kinerja kementeriannya.
Salah satu yang ditonjolkan ialah kontribusi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang bisa disetorkan kepada negara.
Sepertinya sebuah prestasi besar bisa mengutip uang dari masyarakat yang bukan berasal dari pajak.
Di tengah upaya meningkatkan penerimaan negara, kementerian dan lembaga seakan berlomba untuk ikut berkontribusi.
Seakan yang paling besar bisa menyumbangkan PNBP merupakan yang paling berhasil.
Apakah PNBP merupakan sebuah prestasi yang pantas dibanggakan?
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan kebijakan PNBP sudah berjalan lebih dari 10 tahun.
PNBP bukan merupakan ranah yang dipakai untuk meningkatkan penerimaan negara.
PNBP dibuat agar badan layanan umum mempunyai pendapatan yang memungkinkan kualitas fasilitas yang mereka kelola bisa terus dipertahankan keandalannya.
Penjelasan Menkeu menjadi menarik karena kita menangkap ada yang salah kaprah dalam pelaksanaan.
Seakan PNBP merupakan kewajiban dari kementerian ataupun lembaga untuk berkontribusi kepada penerimaan negara.
Padahal bukan itu esensi yang terkandung di dalam perancangan PNBP.
Kesalahkaprahan ini menyebabkan tujuan besar bernegara akhirnya terkorbankan. Contoh paling nyata dalam pembinaan olahraga.
Tujuan pembinaan olahraga ialah melahirkan pemuda yang sehat badannya sehingga terbentuk pemuda yang juga sehat jiwanya, mens sana in corpore sano.
Ketika kemudian pemuda Indonesia itu berprestasi di kancah internasional, maka ia ikut mengharumkan nama Indonesia.
Presiden Soekarno tidak tanggung-tanggung untuk membangun bangsa ini.
Bung Karno membangun sarana dan prasarana yang megah untuk membentuk pemuda Indonesia yang berkarakter.
Ia pindahkan warga yang ada di sekitar Gelora Senayan ke kawasan Tebet, dan kawasan Gelora diubah menjadi Gelanggang Olahraga Bung Karno.
Harapannya dari tempat itu muncul putra-putra terbaik yang bisa mengharumkan nama baik Indonesia.
Sungguh ironis bahwa sekarang tempat itu hanya dijadikan ajang untuk memperoleh PNBP.
Induk-induk olahraga yang akan menyelenggarakan kejuaraan nasional harus membayar sewa penggunaan stadion.
Kalau cabang olahraga itu sudah profesional, tidak salah apabila mereka diminta untuk membayar.
Akan tetapi, untuk cabang-cabang amatir yang hanya berorientasi pada pembentukan karakter bangsa, tidak masuk akal kalau mereka harus membayar mahal.
Salah satunya ialah atletik. Ketika Mei mendatang akan menyelenggarakan kejurnas, mereka harus membayar sewa Stadion Madya sampai Rp1,4 miliar.
Padahal di Indonesia atletik merupakan cabang yang tidak terlalu diminati.
Persatuan Atletik Seluruh Indonesia harus mengundang anak-anak sekolah agar mau datang ke stadion untuk meramaikan jalannya perlombaan.
Memang kita tidak tutup mata bahwa Gelora Bung Karno membutuhkan dana untuk pemeliharaan kompleks olahraga.
Namun, seharusnya mereka menggunakan penerimaan yang didapat dari menyewakan lahan yang dipakai untuk hotel dan kompleks perbelanjaan di sekitar Gelora Bung Karno untuk menutup kebutuhan biaya pemeliharaan.
Sudah banyak fasilitas Gelora yang dialihfungsikan.
Sekarang di kawasan itu sudah berdiri Hotel Mulia, Hotel Fairmont, Hotel Sultan, pusat perbelanjaan Plaza Senayan, Ratu Plaza, FX, Senayan City, Senayan Trade Center, sampai Perkantoran Ratu Plaza.
Pendapatan dari penyewaan itulah yang seharusnya dipakai untuk membiayai pemeliharaan Gelora Bung Karno.
Bukan untuk disetorkan sebagai penerimaan negara dan kemudian membebani lagi induk olahraga yang sudah berjuang membiayai pembinaan para atlet.
Di tengah persiapan menghadapi Asian Games XVIII, saatnya pemerintah mengkaji ulang pelaksanaan dari kebijakan PNBP.
Apalagi Menkeu sudah mengatakan PNBP bukan ranah untuk meningkatkan penerimaan negara.
Jangan sampai kita salah dalam menjalankan kebijakan.
Negara hadir bukan hanya untuk membebani rakyat. Negara juga berperan membangun warganya.
Pajak dan PNBP seharusnya dikembalikan kepada rakyat untuk kegiatan bermanfaat.
Keberhasilan pembangunan itu tidak cukup hanya dilihat dalam bentuk fisik, tetapi yang tidak kalah penting ialah pembentukan manusia Indonesia.
Sudah terlalu lama kita terpaku sekadar membangun dari sisi ekonomi. Kita melupakan membangun manusia.
Tidak usah heran apabila kita kemudian tertinggal dari bangsa-bangsa lain.
Kita kekurangan manusia-manusia unggul yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Orientasi berlebihan kepada materi telah memurukkan kita semua.
Praktik korupsi semakin menjadi-jadi karena kita terlalu mendewakan yang namanya materi.
Kita menganggap orang yang berhasil itu adalah orang yang kaya raya.
Akibatnya, kita menjadi bangsa yang menghalalkan segala cara untuk meraih kekayaan.
Negara harus hadir untuk membalikkan persepsi keliru ini.
Negara seharusnya mengapresiasi mereka yang mau berbuat untuk negeri, apalagi yang berperan ikut membangun karakter bangsa ini.
Bukan malah membebani mereka yang sudah mau berkorban waktu, tenaga, pikiran, juga materi untuk membentuk manusia unggul termasuk di bidang olahraga.
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved