Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
APAKAH aparatur negara suka diawasi kinerjanya? Bila tidak suka, apakah mereka suka mengawasinya sendiri? Biarlah fakta yang bikin marah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menjawabnya.
Kamis (2/7) pekan lalu, seusai menilik kelayakan jalan pantura yang meng hubungkan Lasem (Jateng)-Tuban (Jatim), Ganjar melakukan inspeksi mendadak di jembatan timbang Sarang, Rembang. Di situ Gubernur melihat CCTV pemantau kinerja petugas menghadap ke tembok.
"Kamera CCTV hidup ndak itu? Kok, menghadap tembok?" katanya seperti dikutip Suara Merdeka, Jumat (3/7). Ternyata alat pemantau kinerja itu bukan hanya tidak difungsikan dengan cara dihadapkan ke tembok, melainkan juga barang itu memang sudah tewas. Ketika ditanya kapan mati dan siapa bertanggung jawab memperbaikinya, tidak ada yang bisa menjawab.
Gubernur kemudian memeriksa semua CCTV. Empat tidak berfungsi. Satu menghadap ke aspal. Hanya satu yang berfungsi, terletak di atas komputer pendataan. Kenyataan buruk itu membuat Gubernur marah. Kasus CCTV jemba-tan timbang Sarang, Rembang, menunjukkan tiga kemungkinan.
Pertama, buruknya kultur perawatan. Aset negara tidak terpelihara, dibiarkan tewas. Bahkan, tidak diketahui siapa yang bertanggung jawab.
Buruknya perawatan aset negara kayaknya bukan semata terjadi pada CCTV di kantor jembatan timbang Sarang, Rembang, melainkan dapat diduga terjadi di mana-mana di negeri ini.
Kalau saja petinggi negara melakukan sidak serupa terhadap semua instansi pemerintah yang menggunakan CCTV, jangan-jangan banyak CCTV hanya tampaknya saja terpasang gagah, padahal sudah tidak berfungsi. Gagah, tapi tewas.
Contoh lain, kecelakaan Hercules C-130 layak ditengarai juga karena jeleknya perawatan alat utama sistem persenjataan. Yang tewas tidak hanya pesawatnya yang bobrok, tapi juga lebih 100 manusia. Betapa mengerikan dan menyedihkan akibat buruknya kultur perawatan.
Kedua, aparatur negara naga-naganya tidak suka diawasi kinerjanya, termasuk bila diri sendiri yang melakukannya. Buktinya, CCTV ada yang dibikin menghadap tembok, ada yang menghadap aspal. Dikira tembok dan aspal yang bekerja, bukan orang. Yang jelas terjadi pembiaran agar alat pemantau kinerja rusak, tidak berfungsi sehingga kinerja siapa pun tak terpantau, termasuk hadir tidak hadirnya pimpinan di kantor.
Ketiga, dalam rangka dikabulkannya anggaran, pengadaan CCTV di jembatan timbang mungkin diajukan dengan alasan elok untuk tujuan bagus, yaitu memantau kelakuan aparat agar tidak melakukan pungutan liar terhadap kendaraan yang kelebihan beban.
Elok banget untuk menegakkan pemerintahan yang bersih. Namun, itu cuma akal-akalan. Setelah anggaran cair, CCTV terpasang, dihadapkan ke tembok, ke aspal sehingga praktik pungutan liar terus berlanjut.
Tiga kemungkinan itu semuanya berisi pikiran negatif. Kiranya timbullah pikiran positif, belajar dari kasus jembatan timbang Sarang sehingga tidak ada lagi CCTV di kantor pemerintah yang tewas dan menghadap ke tembok. Lebih dari itu, kiranya aparatur negara bukan makhluk bermuka 'tembok' yang tiada malu sekalipun kinerjanya malu-maluin seperti terpantau di CCTV.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved