CCTV

06/7/2015 00:00
CCTV
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

APAKAH aparatur negara suka diawasi kinerjanya? Bila tidak suka, apakah mereka suka mengawasinya sendiri? Biarlah fakta yang bikin marah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menjawabnya.

Kamis (2/7) pekan lalu, seusai menilik kelayakan jalan pantura yang meng hubungkan Lasem (Jateng)-Tuban (Jatim), Ganjar melakukan inspeksi mendadak di jembatan timbang Sarang, Rembang. Di situ Gubernur melihat CCTV pemantau kinerja petugas menghadap ke tembok.

"Kamera CCTV hidup ndak itu? Kok, menghadap tembok?" katanya seperti dikutip Suara Merdeka, Jumat (3/7). Ternyata alat pemantau kinerja itu bukan hanya tidak difungsikan dengan cara dihadapkan ke tembok, melainkan juga barang itu memang sudah tewas. Ketika ditanya kapan mati dan siapa bertanggung jawab memperbaikinya, tidak ada yang bisa menjawab.

Gubernur kemudian memeriksa semua CCTV. Empat tidak berfungsi. Satu menghadap ke aspal. Hanya satu yang berfungsi, terletak di atas komputer pendataan. Kenyataan buruk itu membuat Gubernur marah. Kasus CCTV jemba-tan timbang Sarang, Rembang, menunjukkan tiga kemungkinan.

Pertama, buruknya kultur perawatan. Aset negara tidak terpelihara, dibiarkan tewas. Bahkan, tidak diketahui siapa yang bertanggung jawab.

Buruknya perawatan aset negara kayaknya bukan semata terjadi pada CCTV di kantor jembatan timbang Sarang, Rembang, melainkan dapat diduga terjadi di mana-mana di negeri ini.

Kalau saja petinggi negara melakukan sidak serupa terhadap semua instansi pemerintah yang menggunakan CCTV, jangan-jangan banyak CCTV hanya tampaknya saja terpasang gagah, padahal sudah tidak berfungsi. Gagah, tapi tewas.

Contoh lain, kecelakaan Hercules C-130 layak ditengarai juga karena jeleknya perawatan alat utama sistem persenjataan. Yang tewas tidak hanya pesawatnya yang bobrok, tapi juga lebih 100 manusia. Betapa mengerikan dan menyedihkan akibat buruknya kultur perawatan.

Kedua, aparatur negara naga-naganya tidak suka diawasi kinerjanya, termasuk bila diri sendiri yang melakukannya. Buktinya, CCTV ada yang dibikin menghadap tembok, ada yang menghadap aspal. Dikira tembok dan aspal yang bekerja, bukan orang. Yang jelas terjadi pembiaran agar alat pemantau kinerja rusak, tidak berfungsi sehingga kinerja siapa pun tak terpantau, termasuk hadir tidak hadirnya pimpinan di kantor.

Ketiga, dalam rangka dikabulkannya anggaran, pengadaan CCTV di jembatan timbang mungkin diajukan dengan alasan elok untuk tujuan bagus, yaitu memantau kelakuan aparat agar tidak melakukan pungutan liar terhadap kendaraan yang kelebihan beban.

Elok banget untuk menegakkan pemerintahan yang bersih. Namun, itu cuma akal-akalan. Setelah anggaran cair, CCTV terpasang, dihadapkan ke tembok, ke aspal sehingga praktik pungutan liar terus berlanjut.

Tiga kemungkinan itu semuanya berisi pikiran negatif. Kiranya timbullah pikiran positif, belajar dari kasus jembatan timbang Sarang sehingga tidak ada lagi CCTV di kantor pemerintah yang tewas dan menghadap ke tembok. Lebih dari itu, kiranya aparatur negara bukan makhluk bermuka 'tembok' yang tiada malu sekalipun kinerjanya malu-maluin seperti terpantau di CCTV.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima