Aquaculture

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
28/3/2018 05:30
Aquaculture
()

INDONESIA sejak dulu dikenal sebagai negara yang diberi sumber daya alam melimpah. Mengapa semua itu tidak membuat rakyat sejahtera? Itu terjadi karena kita tidak pandai memanfaatkannya secara benar.

Kita tidak pernah mengembangkan riset yang baik untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Bukan hanya riset untuk sumber daya alam yang ada di darat, melainkan juga di perairan. Jangan lupa dua per tiga wilayah Indonesia itu perairan.

Seperti halnya di darat, kita cenderung hanya mau mengeksploitasi sumber daya yang ada di perairan. Untuk sektor perikanan, misalnya, kita hanya meramaikan perikanan tangkap. Budi daya perikanan yang juga merupakan kekuatan jarang dibicarakan.

Kalau kita bandingkan dengan bangsa Tiongkok dalam pengembangan budi daya perikanan, kita pantas menjadi kecil hati. Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah kagum melihat bagaimana riset budi daya perikanan, baik untuk air tawar maupun air laut, dilakukan negeri itu.

Pada pertengahan 1980, pernah dikembangkan aquaculture untuk udang di Lampung. Kawasan pesisir di sekitar Tulangbawang diubah menjadi tambak udang dengan memanfaatkan air laut bersih yang ada di provinsi tersebut. Setelah aquaculture milik Israel, itulah budi daya udang terbesar yang pernah ada di dunia.

Karena alam yang mendukung, budi daya udang berkembang dengan baik. Ribuan petani tambak menikmati hasil budi daya udang tersebut yang ekspornya bisa lebih dari US$300 juta per tahun. Sayang tambak udang Dipasena itu terseret oleh krisis keuangan yang melanda Asia Timur pada 1997.

Kita tidak bermaksud menangisi krisis keuangannya. Yang kita sayangkan, mengapa budi daya udang itu tidak dilanjutkan karena terbukti hasilnya baik dan mampu memberikan manfaat kepada ribuan petambak yang terlibat di dalamnya.

Salah satu penyakit kita sebagai bangsa ialah terlalu mudah kita terbawa emosi. Kita selalu membawa masalah menjadi persoalan pribadi. Ketika kita tidak suka secara pribadi pada seseorang, kita selalu melihat semua dari sisi negatif dan seakan tidak ada sama sekali yang dianggap baik.

Beda misalnya dengan bangsa Tiongkok. Pemimpin Tiongkok Deng Xiaoping mengajari bangsanya untuk selalu melihat ke depan. Sepanjang bisa memberikan manfaat terbaik bagi bangsanya, Deng tidak pernah bersikap apriori.

Prinsip Deng yang masih dijalankan sampai sekarang ialah, “Tidak peduli kucing itu berwarna hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus.” Itulah yang mengubah Tiongkok dari ‘Negeri Tirai Bambu’ menjadi negara yang terbuka seperti sekarang ini.

Seperti itulah juga kita apabila ingin menjadi bangsa yang maju. Kita jangan terjebak pada persoalan masa lalu dan hanya menyalahkan orang lain. Lebih baik kita belajar dari kesalahan masa lalu untuk mencegah jangan sampai terulang kembali.

Aset Dipasena sudah diambil alih oleh negara. Seharusnya aset itu diserahkan kepada pihak lain yang mampu untuk dikembangkan menjadi aset yang lebih berharga. Bahkan, kita seharusnya membangun Dipasena-Dipasena baru karena aquaculture bisa menjadi kekuatan bangsa ini.

Jangan lupa kita merupakan negara dengan pantai terpanjang kedua di dunia. Seharusnya banyak budi daya perikanan bisa kita kembangkan di wilayah Indonesia ini. Yang dibutuhkan ialah keberanian untuk memulai dan konsisten melakukannya.

Hal yang sama seharusnya kita lakukan untuk sumber daya alam yang lain. Kita punya perkebunan dengan berbagai jenis tanaman yang dulu pernah membuat Belanda menjadi kaya raya. Kita mempunyai hutan yang kalau dikelola dengan baik bukan hanya menjadi hutan lestari, melainkan juga menjadi andalan untuk mendukung pembangunan ekonomi.

Lagi-lagi yang kita butuhkan ialah kecerdikan. Sejauh mana kita mampu mengelola sumber daya alam itu menjadi kekuatan ekonomi negara ini. Sepanjang pendekatannya sekadar eksploitasi, tidak mengherankan apabila sumber daya alam bukan menjadi berkah bagi bangsa ini, melainkan lebih banyak menjadi kutukan.

 



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.