Pandai Memelihara

MI/Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
04/7/2015 00:00
Pandai Memelihara
(Grafis/SENO)
SEKITAR 2005 saya pernah diajak pendiri Kompas Jakob Oetama untuk bertemu ekonom senior Prof Widjojo Nitisastro. Setelah pensiun sebagai menteri, Prof Widjojo masih aktif berkantor di salah satu ruangan di Kementerian Keuangan di Lapangan Banteng. Pembicaraan tentu saja berkaitan dengan ekonomi dan pembangunan nasional. Saya menanyakan latar belakang kebijakan yang diambil pemerintah ketika kita menikmati bonanza minyak 1974. Prof Widjojo yang ketika itu menjabat sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengatakan arahan yang diberikan Presiden Soeharto agar windfall profit dipergunakan untuk pembangunan infrastruktur perhubungan, pendidikan, dan kesehatan.

Itulah yang membuat pemerintah lalu membangun Trans-Sumatra, Jawa, dan Trans-Sulawesi. Pemerintah ketika itu juga sibuk membangun SD inpres dan pusat kesehatan masyarakat. Hampir di seluruh Indonesia dibangun infrastruktur pendidikan dan kesehatan. Ketika hendak membangun SD inpres dan puskesmas, Prof Widjojo mengaku sempat bertanya lagi kepada Presiden Soeharto. Apakah yang akan dibangun gedung yang kukuh  dengan konsekuensi biaya mahal dan jumlah
yang dibangun terbatas ataukah bangunan dengan spesifi kasi yang lebih rendah, tetapi bisa dibangun di seluruh Indonesia? Presiden Soeharto memilih yang kedua, tetapi dengan syarat disiapkan anggaran untuk pemeliharaan dan pembangunan kembali.

Anggaran pembangunan yang disusun Bappenas selalu menetapkan biaya pemeliharaan. Bahkan setiap 10 tahun dianggarkan kembali biaya pembangunan infrastruktur pendidikan dan kesehatan karena bangunan yang ada diperhitungkan sudah tidak layak dipergunakan. Seharusnya anggaran pembangunan kembali SD inpres dan puskesmas disisihkan pada tahun anggaran 1984, 1994, 2004, dan seterusnya. Sayang setelah reformasi 1998, kita lupa menganggarkan kembali pembangunan infrastruktur itu sehingga banyak bangunan roboh.

Kesadaran menyiapkan anggaran pemeliharaan menjadi kelemahan kita semua. Kita pandai membeli dan membangun, tetapi tidak pandai merawat barang. Akibatnya, banyak properti kita rusak sebelum waktunya. Sekarang kita sedang berduka menyusul jatuhnya pesawat Hercules C-130 milik TNI-AU. Belum lagi penyelidikan dilakukan, kita sudah memvonis, penyebabnya pesawat yang tua. Bahkan Presiden Joko Widodo memerintahkan untuk merombak manajemen pengadaan alat utama sistem persenjataan TNI. Padahal, jatuhnya pesawat tidak ada kaitannya dengan baru atau lama.

Pesawat Airbus 400 Military baru pernah juga jatuh. Jatuhnya pesawat lebih berkaitan dengan pemeliharaan dan juga keterampilan pilot yang menerbangkannya. Angkatan Udara AS sampai saat ini masih menggunakan Hercules C-130. Bahkan banyak pesawat yang mereka pakai masih sejak pembuatan pertama 1954. Namun, mereka pandai merawatnya. Pihak produsen pesawat Lockheed Martin masih menyediakan suku cadang yang diperlukan bagi pesawat yang sudah lebih 60 tahun dipergunakan. Persoalan pada kita kembali, apakah Bappenas menganggarkan biaya pemeliharaan dari alutsista yang kita miliki?


Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima