Jokowi-Mahfud MD

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
09/3/2018 05:31
Jokowi-Mahfud MD
(ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

DI forum ini edisi 20 Februari lalu saya menulis Podium berjudul Jokowi-Prabowo. Yakni sebuah upaya untuk memasangkan calon Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto pada Pilpres 2019.

Selain alasan beberapa lembaga survei yang menempatkan dua tokoh itu jika disandingkan elektabiltasnya tinggi, juga demi bangsa. Agar tensi politik tak terus memanas yang bisa membakar.

Bayangkan, sejak Pilpres 2014, ditambah Pilkada Jakarta 2017, kita merasakan betapa pengap udara politik negeri ini. Masyarakat kita makin terbelah, dan tak ada tanda-tanda akan berhenti.

Energi kita terkuras hanya untuk saling memaki. Kepentingan yang satu versus kepentingan yang lain telah berseteru dengan segala cara. Hoaks yang marak tak bisa dipisahkan dari perseteruan politik tensi tinggi itu.

Itu sebabnya, menyandingkan Jokowi dengan Prabowo ialah jalan tengah, jalan damai. Ruang perjumpaan bahkan bersekutu untuk dua kubu yang keras berseteru.

Namun, para pendukungnya meminta untuk menutup pintu wacana duet itu.Menurut mereka, Prabowo kelasnya capres, bukan cawapres. Menduetkan Jokowi-Prabowo ialah bentuk kepanikan kubu Jokowi, katanya.

Baiklah, kalau begitu. Kalau pintu itu tertutup. Sudah lama sesungguhnya saya punya pikiran, pendamping Joko Widodo untuk maju Pilpres 2019 ialah Mahfud MD. Dengan segala hormat, beberapa tokoh yang kerap diunggulkan beberapa lembaga survei, menurut saya masih belum layak.

Mahfudlah menurut saya sosok yang kini paling tepat. Bahkan, nanti jika takdir membawanya ke jenjang presiden, ia sangat pantas. Kenapa Mahfud? Ia guru besar hukum tata negara yang ketika bicara hukum bisa dipahamai semua lapisan masyarakat.

Di mana pun Mahfud bicara di forum-forum yang disaksikan orang ramai, ia selalu memperlihatkan ketajaman dan kejernihannya berpikir. Bahasanya jelas, tanpa ragu, dan intonasinya meyakinkan.

Namun, kalau ia tidak tahu, ia katakan tidak tahu, termasuk memuji kelebihan pihak lawan kalau itu memang itu yang ia pahami.

Kelahiran Sampang, Madura, 13 Mei 1957 itu bukan semata pernah menjadi Menteri Pertahanan era Gus Dur, anggota DPR, Ketua Mahkamah Konstitusi (2008-20013), ia juga pakar hukum yang punya pengetahuan Islam yang luas.

Pernyataan-pernyataannya selalu lugas dan objektif. Kalau ia mendukung kebijakan pemerintah selalu dengan argumentasi yang kuat, begitu juga ketika mengkritiknya. Wajar jika ia diterima banyak kalangan.

Mencari sosok yang berada di tengah seperti Mahfud MD sungguh sulit. Ia tak ambisius, dan selalu tampil jauh dari pencitraan. Ia juga mempunyai kemampuan leadership dan pemahaman ilmu yang baik. Ia tak sekadar mempunyai keberanian bicara, tapi keberanian dengan dasar pemahaman ilmu dan pengetahuan yang kuat.

Ia pun kerap menjadi pencerah dalam banyak diskusi publik untuk membahas banyak hal yang terasa pelik. Pengetahuan hukum dan agama, juga politik, yang dimiliki Mahfud akan menjadi capres Jokowi yang teramat tepat menghadapi banyak isu yang kini tengah dimainkan, misalnya ancaman PKI, kriminalisasi ulama, peminggiran Islam.

Mahfud bisa menjadi kamus berjalan tentang hukum dan agama; dan ini penting untuk memperkuat wibawa pemerintah. Ini bisa menjadi pendamping penting Jokowi sebagai manusia pekerja dan kurang piawai bicara.

Dalam pengamatan saya, Mahfud berbicara bukan karena pretensi untuk menyenangkan atau sebaliknya, tapi karena sesuai dengan ilmu, pengetahuan, dan nuraninya. Termasuk tanggapannya soal HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang meyakini sistem kenegaraan berbentuk khilafah.

Mahfud tegas menolaknya. Menurutnya, tak ada sumber atau perintah mendirikan sebuah sistem kenegaraan berbentuk khilafah. "Tidak ada dalam sumber primer Islam seperti Alquran dan hadis yang memerintah untuk membentuk sistem negara khilafah. Kalau hasil ijtihad dari ulama tentang khilafah, memang ada," kata Mahfud dalam sebuah acara di Pamekasan, Jawa Timur, pada Agustus 2017. Pernyataan ini ia ulang di banyak kesempatan.

Mahfud menilai konsep negara dalam Islam sangat beragam. Banyak ulama di masa lampau berbeda pendapat mengenai sistem kenegaraan dalam Islam. Ia menyebut konsep khilafah ulama terdahulu yang diterapkan di sebagian jazirah Arab adalah konsep sistem negara yang sesuai dengan masanya, yang merupakan hasil ijtihad ulama sesuai masa itu.

Partai-partai mestinya mempunyai kebesaran hati dan objektivitas menilai Mahfud jika bersungguh hati mencari pemimpin terbaik. Jika ada orang politik yang merespons, "Enak saja menikmati takhta tanpa harus berkeringat", maaf, Mahfud jauh lebih berkeringat dalam menjaga Indonesia ketimbang para politisi yang hanya berburu kekuasaan.

Mahfud mempunyai neraca yang seimbang antara keislaman dan kebangsaan. Saat ini sangat kita butuhkan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima