Hercules

03/7/2015 00:00
Hercules
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)

INI duka amat mendalam. Tragedi Hercules C-130 nomor A-1310, di Medan, tak hanya menewaskan lebih dari seratus penumpang, yang sebagian besar warga sipil, tetapi terjadi di bulan Ramadan. (Tentu saja tragedi serupa itu tak bisa memilih bulan). Itu sebabnya, suasana duka jadi berlipat-lipat. Terlebih lagi setelah kita tahu pesawat buatan Amerika Serikat yang dipiloti Kapten (Pnb) Sandy Permana ternyata sudah amat uzur, 51 tahun.

Publik tak tahu sampai batas usia berapa pesawat terbang bisa terus menjelajah dirgantara. Akan tetapi, akal sehat kita mengatakan Hercules berusia lebih setengah abad pastilah masuk kategori amat renta. Faktanya, dari 23 Hercules, hanya 10 pesawat yang layak operasi.

Akal sehat kita juga bicara, pastilah suku cadang pesawat tak mudah didapat.Benar saja, ada dugaan, pesawat itu bermasalah pada mesin karena memakai suku cadang palsu. Tentu diurus dengan dukumen palsu pula. Ini dugaan menurut seorang narasumber. Saya berharap ini tak benar!

Spekulasi lain lagi, kenapa begitu banyak warga sipil naik pesawat militer? Jawaban yang semula sedikit bisa diterima ialah dari Wakil Presiden Jusuf Kalla. Menurut Kalla, tak ada yang dilanggar. Hal biasa pesawat militer membantu warga sipil ketika bencana dan untuk tempat-tempat yang sulit dijangkau seperti Natuna. Akan tetapi, jawaban Kalla jadi mentah setelah ada pengakuan dari keluarga korban yang harus membayar Rp900 ribu untuk penerbangan Medan-Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Tanjungpinang jelas bukan lokus yang sulit.

Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna juga membantah adanya komersialisasi pesawat militer. "Kalau ada, saya pecat komandannya." Jawaban yang enak didengar dan bijak mestinya, "Kita tunggu hasil investigasi yang akan segera dilakukan.

"Karena kalau jujur, investigasi bisa saja menghasilkan sesuatu yang tidak kita duga. Saya menangkap jawaban KSAU agak panik karenanya agak reaktif, sedangkan jawaban Kalla jelas membela KSAU, juga terlalu menyederhanakan persoalan. Bahwa tak soal pesawat militer mengangkut sipil, termasuk jika harus membayar.

Sejujurnya, kita bangsa yang selalu heboh setelah kejadian (post factum). Bukan sibuk mengantisipasi sebelum. Kini semua bersuara tentang peremajaan pesawat. "Tak boleh lagi beli pesawat bekas. Kalau beli, harus baru dan mengutamakan industri dalam negeri.

Ini harus menjadi tragedi terakhir," kata seorang anggota DPR. Namun, tragedi itu terjadi justru ketika para politikus tengah minta dana partai ditingkatkan dan dengan semangat 45 pula DPR memaksa dana aspirasi setiap anggota Rp20 miliar.

Mari kita lihat risalah tragedi Hercules yang dipuji punya banyak kelebihan ini. Sejak 1985 telah enam kali musibah Hercules terjadi. Tragedi pada 1991 di Condet menewaskan 135 orang dan di Magetan, Jawa Timur, 101 orang. Artinya, sudah berkali-kali dan korban tak sedikit, tetapi manajemen antisipasi tak kunjung direalisasikan dengan bukti. Terlalu sayang begitu banyak warga negara dikorbankan. Mestinya sudah lama pesawat-pesawat tua dikandangkan.

Presiden Jokowi sudah meminta secepatnya dilakukan perombakan manajemen pertahanan dan memastikan tidak ada lagi musibah dalam penggunaan alat utama sistem persenjataan kita. Saya setuju Presiden. Namun, saya juga khawatir ini akan sama nasibnya dengan kehendak-kehendak lain setelah tragedi terjadi. Sebab, seperti itulah selama ini kita menyikapi musibah. Selalu menggebu pada mulanya, tapi alpa kemudian.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima