Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
INI duka amat mendalam. Tragedi Hercules C-130 nomor A-1310, di Medan, tak hanya menewaskan lebih dari seratus penumpang, yang sebagian besar warga sipil, tetapi terjadi di bulan Ramadan. (Tentu saja tragedi serupa itu tak bisa memilih bulan). Itu sebabnya, suasana duka jadi berlipat-lipat. Terlebih lagi setelah kita tahu pesawat buatan Amerika Serikat yang dipiloti Kapten (Pnb) Sandy Permana ternyata sudah amat uzur, 51 tahun.
Publik tak tahu sampai batas usia berapa pesawat terbang bisa terus menjelajah dirgantara. Akan tetapi, akal sehat kita mengatakan Hercules berusia lebih setengah abad pastilah masuk kategori amat renta. Faktanya, dari 23 Hercules, hanya 10 pesawat yang layak operasi.
Akal sehat kita juga bicara, pastilah suku cadang pesawat tak mudah didapat.Benar saja, ada dugaan, pesawat itu bermasalah pada mesin karena memakai suku cadang palsu. Tentu diurus dengan dukumen palsu pula. Ini dugaan menurut seorang narasumber. Saya berharap ini tak benar!
Spekulasi lain lagi, kenapa begitu banyak warga sipil naik pesawat militer? Jawaban yang semula sedikit bisa diterima ialah dari Wakil Presiden Jusuf Kalla. Menurut Kalla, tak ada yang dilanggar. Hal biasa pesawat militer membantu warga sipil ketika bencana dan untuk tempat-tempat yang sulit dijangkau seperti Natuna. Akan tetapi, jawaban Kalla jadi mentah setelah ada pengakuan dari keluarga korban yang harus membayar Rp900 ribu untuk penerbangan Medan-Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Tanjungpinang jelas bukan lokus yang sulit.
Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna juga membantah adanya komersialisasi pesawat militer. "Kalau ada, saya pecat komandannya." Jawaban yang enak didengar dan bijak mestinya, "Kita tunggu hasil investigasi yang akan segera dilakukan.
"Karena kalau jujur, investigasi bisa saja menghasilkan sesuatu yang tidak kita duga. Saya menangkap jawaban KSAU agak panik karenanya agak reaktif, sedangkan jawaban Kalla jelas membela KSAU, juga terlalu menyederhanakan persoalan. Bahwa tak soal pesawat militer mengangkut sipil, termasuk jika harus membayar.
Sejujurnya, kita bangsa yang selalu heboh setelah kejadian (post factum). Bukan sibuk mengantisipasi sebelum. Kini semua bersuara tentang peremajaan pesawat. "Tak boleh lagi beli pesawat bekas. Kalau beli, harus baru dan mengutamakan industri dalam negeri.
Ini harus menjadi tragedi terakhir," kata seorang anggota DPR. Namun, tragedi itu terjadi justru ketika para politikus tengah minta dana partai ditingkatkan dan dengan semangat 45 pula DPR memaksa dana aspirasi setiap anggota Rp20 miliar.
Mari kita lihat risalah tragedi Hercules yang dipuji punya banyak kelebihan ini. Sejak 1985 telah enam kali musibah Hercules terjadi. Tragedi pada 1991 di Condet menewaskan 135 orang dan di Magetan, Jawa Timur, 101 orang. Artinya, sudah berkali-kali dan korban tak sedikit, tetapi manajemen antisipasi tak kunjung direalisasikan dengan bukti. Terlalu sayang begitu banyak warga negara dikorbankan. Mestinya sudah lama pesawat-pesawat tua dikandangkan.
Presiden Jokowi sudah meminta secepatnya dilakukan perombakan manajemen pertahanan dan memastikan tidak ada lagi musibah dalam penggunaan alat utama sistem persenjataan kita. Saya setuju Presiden. Namun, saya juga khawatir ini akan sama nasibnya dengan kehendak-kehendak lain setelah tragedi terjadi. Sebab, seperti itulah selama ini kita menyikapi musibah. Selalu menggebu pada mulanya, tapi alpa kemudian.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved