Rupiah

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
03/3/2018 05:15
Rupiah
(ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

NILAI tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Kamis lalu nilai tukar rupiah bahkan sempat menembus 13.800 per dolar AS, pelemahan terdalam sepanjang 20 tahun terakhir. Bank Indonesia segera melakukan intervensi untuk mencegah pelemahan yang semakin dalam.

Secara teknis pelemahan itu merupakan akibat dari penguatan ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat. Lepas dari kebijakan politik yang penuh kontroversi, di bidang ekonomi Presiden Donald Trump memang membuat perekonomian negaranya mulai bangkit kembali.

Revisi undang-undang perpajakan yang menurunkan pajak korporasi dari 35% menjadi 20% serta pajak perorangan dari 39,6% menjadi 35% membuat perekonomian negara itu kembali bergairah. Namun, juga ada faktor psikologis yang membuat nilai tukar rupiah tertekan. Apa itu?

Kondisi perekonomian nasional yang belum menunjukkan gairah. Data penyaluran kredit hingga Januari baru tumbuh 7% (year on year). Nilai perdagangan di awal tahun juga mengalami defisit. Di sisi lain, kita melihat pemerintah begitu menggebu untuk menarik pajak.

Isu yang sekarang sedang ramai diperbincangkan di media sosial antara lain soal kewenangan Direktorat Jenderal Pajak untuk menarik pajak dari wajib pajak yang dianggap kurang bayar setelah melihat pola konsumsi dari pemakaian kartu kredit.

Pemerintah boleh merasa banyak potensi pajak yang belum bisa ditarik oleh negara. Akan tetapi, cara-cara yang diterapkan seperti sekarang bukan membuat negara akan bisa mencapai penerimaan yang lebih besar, melainkan justru sebaliknya karena akan membuat ekonomi yang sedang melesu akan semakin lesu lagi.

Tahun lalu kita bisa melihat bagaimana perekonomian tidak tumbuh optimal seperti yang diharapkan. Salah satu penyebabnya ialah ketakutan yang dirasakan masyarakat untuk berbelanja. Mereka memilih untuk menahan belanja karena semua warga dianggap sebagai pihak yang mau mengemplang pajak.

Sektor properti yang menjadi penghela pertumbuhan ekonomi di semua negara, dalam beberapa tahun terakhir boleh dikatakan mati suri. Saat Rembuk Nasional Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi-JK, Ketua Umum Realestat Indonesia Soelaeman Soemawinata mengatakan industri properti di Indonesia sekarang hanya tinggal 20% dari potensinya.

Bagaimana orang mau membeli properti ketika akan bertransaksi ditanya lebih dulu asal uang yang dipakai? Hal yang sama terjadi di industri otomotif. Angka penjualan mobil tahun lalu boleh dikatakan stagnan. Industri otomotif masih bisa bertahan karena ekspor mereka yang membaik.

Namun, hambatan bukan tidak kecil karena Vietnam, misalnya, akhir tahun lalu mulai mempersulit impor otomotif dari Indonesia. Industri andalan Indonesia yang mampu membuka lapangan kerja dan menghasilkan devisa besar seperti kelapa sawit masih terus menghadapi hambatan perdagangan.

Tuduhan dumping tak hanya datang dari Uni Eropa, tetapi sekarang juga dari AS. Pemerintah Washington bahkan secara sepihak menerapkan bea masuk tambahan ratusan persen terhadap biodiesel asal Indonesia sehingga tidak memungkinkan lagi kita mengekspor ke sana.

Sayangnya, di dalam negeri pun kondisi tidak berpihak kepada dunia usaha. Kebijakan B-20 untuk biodiesel tidak berjalan mulus seperti yang seharusnya. Para pelaku industri biodiesel ibarat dijepit dari luar dan dari dalam. Untuk jangka panjang, kondisi ini pasti tidak akan menguntungkan bagi perkembangan industri kelapa sawit.

Sekarang tentunya tinggal berpulang kepada pemerintah, pendekatan mana yang akan dipilih untuk membangun negara ini. Apakah pemerintah akan mendahulukan kepentingannya sendiri yakni mengutamakan penerimaan negara tanpa peduli kepada nasib dunia usaha dan masyarakatnya?

Ataukah pendekatan seperti yang dilakukan Presiden Trump, dengan negara berkorban terlebih dahulu untuk menggairahkan perekonomian dalam negeri, baru kemudian memetik manfaatnya? Seharusnya pemerintah memilih pendekatan yang kedua. Pemerintah menggerakkan terlebih dahulu perekonomian nasional yang sedang tidak bergairah ini.

Sudah sejak tahun lalu kita merasakan, bahkan untuk industri barang konsumsi sekalipun pertumbuhan jauh di bawah. Pertumbuhan industri barang konsumsi sempat hanya tumbuh 2,7%, padahal biasanya selalu tumbuh di atas 15%.

Presiden Trump untuk merevisi undang-undang perpajakannya berani kehilangan potensi penerimaan negara sampai US$1,5 triliun atau sekitar Rp20.700 triliun. Meski demikian, ia yakin ketika perekonomian AS sudah kembali bergerak, negara akan mendapatkan penerimaan pajak yang bisa mengompensasi potensi kehilangan penerimaan itu.

Di tengah ketidakpastian yang kita rasakan sekarang ini, orang akhirnya lebih banyak melakukan spekulasi. Salah satu yang sering dipakai untuk melakukan spekulasi ialah pasar uang. Kita sudah mulai merasakan akibatnya, yakni dengan melemahnya nilai tukar rupiah, meski secara fundamental perekonomian Indonesia masih baik.

Kita perlu berhati-hati terhadap pelemahan ini karena ketergantungan kita terhadap impor sangatlah tinggi. Kalau kita negara eksportir, pelemahan nilai tukar justru akan meningkatkan daya saing. Namun, karena kita adalah negara importir, rakyatlah yang harus menanggung beban biaya hidup yang menjadi lebih mahal.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.