Menteri Terbaik

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
14/2/2018 05:31
Menteri Terbaik
(ANTARA FOTO)

MENTERI Keuangan Sri Mulyani Indrawati dikukuhkan sebagai menteri terbaik dalam Pertemuan Tingkat Tinggi Dunia di Dubai, Uni Emirat Arab. Penghargaan yang didasarkan atas penilaian Ernst & Young itu diberikan atas kemampuan Sri Mulyani mengurangi kemiskinan, mengurangi kesenjangan, membuka lapangan pekerjaan, menurunkan tingkat utang negara, menjaga cadangan devisa di atas US$50 miliar, dan meningkatkan transparansi anggaran.

Sepantasnyalah Sri Mulyani mengatakan penghargaan ini bukan diperuntukkan dirinya secara pribadi. Penghargaan ini pengakuan internasional kepada seluruh rakyat Indonesia yang telah bekerja keras untuk berkontribusi pada stabilitas perekonomian nasional. Pertemuan pemerintahan sedunia itu memang melihat kinerja Indonesia dalam lima tahun terakhir.

Sepanjang lima tahun dianggap ada konsistensi dari pemerintah Indonesia untuk membuat perekonomian bergerak naik. Sri Mulyani baru menjabat kembali sebagai menteri keuangan dua tahun terakhir dan sebelumnya jabatan ini diisi Muhammad Chatib Basri dan Bambang Permadi Brodjonegoro.

Penghargaan kepada Sri Mulyani seperti biasa segera menimbulkan pro dan kontra di dalam negeri. Banyak yang menilai, penghargaan itu sesuatu yang membanggakan karena ada anak bangsa yang mampu mengungguli menteri-menteri negara lain. Namun, tidak sedikit pula yang mencibirnya karena kinerja Sri Mulyani dianggap tidak lebih hebat daripada menteri-menteri negara lain ASEAN.

Kita memang sudah terjebak dalam saling ketidakpercayaan yang tinggi. Apalagi, kita hidup dalam kebebasan berekspresi yang luar biasa. Akibatnya, kita cenderung melihat pencapaian yang diraih seorang anak bangsa dari sisi negatif, seakan penghargaan itu sesuatu yang semu dan ada rekayasa di belakangnya.

Jangan-jangan kalau Cristiano Ronaldo itu orang Indonesia, kita pun tidak percaya akan kemampuannya bermain sepak bolanya yang hebat. Ketika Ronaldo terpilih sebagai pemain sepak bola terbaik di dunia, kita pun menganggap itu sebagai sebuah rekayasa global. Ronaldo memengaruhi semua orang untuk mendapatkan sepatu emas.

Kita terlalu mudah memersonifikasikan orang lain berperilaku seperti kita, seakan-akan tidak ada yang namanya integritas. Semua orang bisa diajak melakukan rekayasa untuk merancang sebuah agenda besar, dan itu dilakukan masyarakat global. Berulang kali kita mengajak untuk berubah apabila ingin menjadi bangsa yang besar.

Kita harus membangun sikap saling percaya sampai orang itu terbukti melakukan tindakan tercela yang tidak bisa dipercaya. Sebabnya, kalau kita terus hidup saling tidak percaya, tidak pernah akan ada orang yang berani melakukan terobosan. Padahal, orang seperti Nadiem Makarim bisa membuat Go-Jek karena melihat fenomena masyarakat menggunakan ojek.

Ia berani membuat terobosan dengan membangun sistem aplikasi yang memungkinkan konsumen bisa berkomunikasi langsung dengan tukang ojek. Dengan sistem itu, tukang ojek tidak perlu mangkal ramai-ramai seperti dulu, sementara konsumen pun mendapatkan pelayanan yang lebih terjamin dan bisa dipercaya.

Awalnya, kita melihat ada ketidakpercayaan tukang ojek kepada Go-Jek. Bahkan, pertama-tama kita melihat adanya bentrokan fisik antara anggota Go-Jek dan tukang ojek. Namun, sekarang dengan semangat saling percaya, keduanya bisa sama-sama mendapatkan keuntungan.

Bahkan, Senin lalu kita melihat bagaimana perusahaan sekelas PT Astra International mau berinvestasi sampai US$150 juta atau sekitar Rp2 triliun kepada Go-Jek. Dalam kasus penghargaan untuk Sri Mulyani, tentu lebih baik kita berbaik sangka. Kepercayaan masyarakat dunia itu kita pakai untuk mendorong anak-anak Indonesia lebih percaya diri, bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk bisa dicapai.

Anak-anak Indonesia bisa berprestasi besar di mana pun. Cara seperti itulah yang sedang dilakukan Vietnam. Negara yang pada 1975 baru selesai perang itu mencoba membangun rasa percaya diri kepada warga bangsa. Anak-anak Vietnam dipacu untuk mengecap pendidikan tinggi di dalam maupun di luar negeri.

Setiap keberhasilan yang diraih dipakai untuk mendorong anak-anak lain Vietnam demi meraih prestasi lebih tinggi lagi. Sekarang anak-anak Vietnam tidak kalah jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain ASEAN. Bahasa Inggris mereka bahkan lebih baik daripada rata-rata anak Indonesia.

Dengan itulah kita melihat bagaimana Vietnam bisa mengejar ketertinggalan dan bersiap untuk naik kelas lagi. Kita tentu tidak boleh kalah. Karena itu, kita harus meninggalkan sikap iri hati dan inward looking. Kita harus berpikiran lebih terbuka. Setiap ada keberhasilan anak bangsa ini kita pergunakan untuk mendorong anak yang lain agar mau mengikuti.

Dengan sikap positif seperti itu, niscaya kita bangkit menjadi bangsa besar. Sudah saatnya kita meninggalkan sikap inferior. Kita jangan terus membuang energi dengan berkelahi sendiri di dalam. Pesaing utama kita bukanlah sesama warga bangsa ini. Dalam era keterbukaan seperti sekarang, pesaing kita itu ada di luar.

Jangan lupa yang kita perlukan bukanlah penghargaannya, melainkan menjadikan penghargaan itu sebagai pemacu kita untuk bekerja dan berkarya lebih hebat lagi.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima