Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
DPR tergolong lembaga negara yang gemar mengubah undang-undang tentang dirinya sendiri. Sekurang-kurangnya ada dua hal yang menonjol. Pertama, hal itu mengekspresikan dirinya yang selfish. Kedua, menunjukkan dirinya yang mentang-mentang.
Diri yang selfish itu sudah tentu mengenai bagi-bagi jabatan pemimpin DPR. Dalam perkara ini, yang sekarang berlaku dalam UU MD3 ialah produk impuls pemaksimuman dan pemuasan yang dikemas dalam bahasa yang mengaburkan hasil kompetisi dalam pemilu. Bahwa pimpinan DPR dipilih dari dan oleh anggota DPR dalam satu paket yang bersifat tetap.
Ketentuan 'Dalam satu paket yang bersifat tetap' itu mengakibatkan tidak penting dan tidak dihargai partai yang meraih suara terbanyak dalam pemilu. Di restoran junk food ada pahe (paket hemat), di jajaran pemimpin DPR ada patet (paket tetap), hasil persekongkolan menyantet partai pemenang pemilu.
Dalam satu paket terjadilah penjumlahan perolehan kursi partai-partai yang bersekongkol sedemikian rupa sehingga hasilnya lebih besar daripada perolehan kursi partai pemenang pemilu. Sesungguhnya itu pengeroyokan menggunakan aritmetika dan celakanya Mahkamah Konstitusi merestuinya.
Pemaksimuman dan pemuasaan untuk menguasai kursi pemimpin DPR itu terus menjadi pertarungan yang tiada henti, tapi sejauh ini tetap pengeroyok dan penyantet yang menang. Kini DPR kembali membicarakan perubahan susunan pemimpin DPR itu dengan cara mengendurkan penyantetan, yaitu menambah jumlah pemimpin DPR.
Pimpinan DPR terdiri atas satu ketua dan empat wakil ketua. Jumlah itu ingin dibengkakkan, berupa penambahan Wakil Ketua DPR. Berapa? Tidak cukup satu, tetapi dua Wakil Ketua DPR. Yang terjadi bagi-bagi jabatan pemimpin DPR, pertanda selfish banget. Bahkan juga terbit air liur mereka untuk menambah dua Wakil Ketua MPR.
Padahal, apa kerja mereka? Yang pasti cuma lima tahun sekali MPR melantik presiden dan wakil presiden hasil pemilihan umum. Perubahan UU MD3 juga mengandung pikiran menjadikan DPR sebagai lembaga negara yang mentang-mentang berkuasa. Hal itu ditunjukkan terhadap orang yang menolak hadir atas panggilan DPR dan terhadap orang yang mengkritik DPR.
DPR akan membuat Polri wajib memanggil paksa orang yang tidak mengindahkan panggilan DPR tanpa alasan. Kata 'wajib' itu membuat Polri terpaksa untuk memanggil paksa. Terpaksa, kalau tidak dilaksanakan, Polri melanggar UU MD3. Terpikir pula DPR melalui Mahkamah Kehormatan Dewan untuk menyeret secara pidana orang yang dinilai merendahkan kehormatan DPR atau anggota DPR.
Sebuah pikiran mentang-mentang berkuasa, yang dapat seenaknya menafsirkan sebuah kritik sebagai merendahkan kehormatan DPR atau anggota DPR. Demikianlah DPR hendak menjaga wibawa dan kehormatan mereka dengan bantuan Polri dan pemidanaan. Betul-betul perbuatan kerdil dengan cara menakut-nakuti.
Terus terang saya tidak paham bagaimana kekerdilan itu dapat menjaga kehormatan (Pernyataan ini berisi kritik yang bisa membuat Mahkamah Kehormatan DPR melaporkan penulis ke Bareskrim karena dinilai merendahkan kehormatan DPR). Revisi UU MD3 dengan konten selfish dan mentang-mentang berkuasa justru dapat berakibat pemaksimuman ketidakpuasan publik kepada DPR.
Mengherankan bahwa DPR hasil Pemilu 2009 (yang melahirkan UU MD3) dan DPR hasil Pemilu 2014 (yang sedang merevisi UU MD3) tiada berbeda dalam melihat diri sendiri sebagai produk demokrasi. Tidak lahir pemahaman yang jujur kenapa kehormatan dan wibawa DPR merosot.
Apakah Pemilu 2019 bisa berbeda? Bisakah pemilu serentak itu menghasilkan lebih banyak politikus yang berkemampuan memulihkan kehormatan dan wibawa DPR? Itu tantangan yang bikin pemilu mendatang kian seksi.
Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.
FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.
KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.
PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future
USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.
BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.
PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.
KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,
ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.
TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.
FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.
'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.
VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved