Ekspor

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
03/2/2018 05:05
Ekspor
(ANTARA)

SEJAK awal 1980, Presiden Soeharto menyadari bahwa tidak mungkin Indonesia hanya mengandalkan pada ekspor minyak dan gas.

Karena itulah, pemerintah mendorong ekspor nonmigas.

Memang awalnya hanya komoditas sumber daya alam yang diandalkan, tetapi kemudian kita membangun industri manufaktur.

Perhatian bagi tumbuhnya industri manufaktur memang luar biasa.

Investasi yang kita lakukan pada masa itu bisa mencapai 32% dari produk domestik bruto.

Indonesia kemudian dikenal sebagai negara yang unggul dalam produk kayu lapis, pulp, tekstil, dan juga sepatu.

Tidak mengherankan apabila Indonesia kemudian dijuluki sebagai negara industri baru.

Kita pun bisa melihat ekspor nonmigas melampaui ekspor migas.

Penerimaan devisa tidak lagi bertumpu kepada migas karena energi lebih banyak dipakai untuk menopang industri dalam negeri.

Secara sadar kita berupaya untuk memberi nilai tambah terhadap sumber daya alam yang kita miliki.

Sayang semua bangunan itu goyah ketika krisis ekonomi melanda Asia Timur pada 1997.

Apalagi untuk Indonesia, krisis ekonomi itu diikuti dengan krisis politik dan sosial. Krisis multidimensi menyebabkan perekonomian Indonesia terpuruk dan tumbuh negatif sampai minus 14% pada 1999.

Setelah era reformasi kita mencoba untuk bangkit kembali.

Namun, pembangunan industri tidak segencar kita lakukan seperti di zaman Orde Baru.

Bahkan ketika terjadi booming komoditas pada 2011, kita tidak memanfaatkannya untuk membangun industri yang kukuh.

Kita puas dengan menjual komoditas dalam bentuk mentah.

Kalau sekarang Presiden Joko Widodo mengeluhkan soal rendahnya ekspor kita, itu tidak pernah akan bisa terjawab tanpa ada arah pembangunan industri yang jelas.

Dengan pertumbuhan investasi industri yang tahun lalu di bawah 7%, produk apa yang akan kita ekspor?

Vietnam yang ekspornya lebih dari US$170 miliar bukan terjadi dalam semalam.

Dalam 10 tahun terakhir mereka gencar untuk menarik investasi.

Bahkan industri yang ditinggalkan Indonesia seperti tekstil dan sepatu diberi karpet merah oleh mereka.

Kemudahan investasi yang bukan sekadar janji-janji membuat perusahaan seperti Samsung menjadikan Vietnam sebagai basis produksi dan sumbangannya terhadap ekspor mereka mencapai US$50 miliar.

Presiden menyebut juga Thailand sebagai negara yang ekspornya jauh lebih baik daripada kita.

Semua itu bisa terjadi karena 'Negeri Gajah Putih' itu sejak lama sudah menetapkan diri sebagai 'Detroit-nya ASEAN'.

Perusahaan otomotif Jepang sudah puluhan tahun menjadikan Thailand sebagai basis produksi untuk memanfaatkan Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Jadi, kalau Presiden mengharapkan ekspor Indonesia melejit, kita harus berani melakukan kebijakan industrialisasi seperti dilakukan Presiden Soeharto dulu.

Itu harus dimulai dengan menarik investasi secara sungguh-sungguh.

Kita juga harus berani menetapkan industri mana yang benar-benar akan dijadikan kekuatan agar investasinya jelas.

Ada data menarik disampaikan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong pada Rapat Koordinasi Kementerian Perdagangan.

Investasi terbesar kita ternyata bukan datang dari road show yang dilakukan BKPM ke seluruh dunia.

Hampir 40% investasi itu dari reinvestasi perusahaan-perusahaan yang sudah beroperasi di Indonesia.

Sayangnya, kita sering tidak memperlakukan investor lama sebagai investor yang loyal.

Kita justru sering bersikap hostile karena menganggap mereka sudah banyak mendapat keuntungan dari Indonesia dan kurang memberi kepada negara ini.

Sudah banyak investor yang kemudian meninggalkan Indonesia dan ironisnya memindahkan investasi mereka ke negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Berulang kali kita sampaikan, kita harus menentukan arah pembangunan yang lebih jelas.

Kita pun harus lebih jelas menempatkan peran dunia usaha baik dalam negeri maupun luar negeri dalam menopang pembangunan nasional.

Sepanjang kita menempatkan dunia usaha sebagai 'musuh', jangan harap akan masuk investasi seperti yang diharapkan.

Tanpa ada investasi, jangan pernah bermimpi untuk bisa menggenjot ekspor.

Sebenarnya kita juga jangan terlalu menggantungkan pada ekspor.

Dengan 262 juta penduduk dan lebih 150 juta kelas menengah, pasar Indonesia merupakan pasar yang luar biasa.

Kelas menengah kita 40 kali lebih besar daripada Singapura. Hanya saja, kita sering tidak melihatnya.

Kuman di seberang lautan memang mudah tampak, sementara gajah di depan mata tidak terlihat.

Mantan Wakil Presiden Boediono sejak lama mengingatkan agar kita memperkuat ekonomi domestik.

Apabila integrasi ekonomi dalam negeri bisa kita bangun, kita akan mempunyai kekuatan luar biasa.

Dengan kekuatan itu, kita akan bisa membangun efisiensi yang lebih baik dan dengan itu lebih mudah masuk pasar ekspor.

Tiongkok bisa menjadi kekuatan luar biasa karena mereka pertama-tama memanfaatkan pasar dalam negeri yang mencapai 1,5 miliar jiwa.

Ibaratnya ekspor yang mereka lakukan hanya melempar kelebihan produksi dalam negeri.

Tidak usah heran apabila harga produk buatan mereka membanjiri dunia karena harganya jauh di bawah harga produk negara lain.

Memang butuh kecerdikan untuk menjadi negara besar.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima