Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KITA gembira proyek-proyek infrastruktur yang dibangun sebagian sudah mulai selesai dan bisa digunakan. Tahun ini kita akan merasakan dampak ekonomi dari hasil pembangunan infrastruktur yang sudah selesai dibangun itu, mulai jalan, pelabuhan, bandar udara, kereta api, waduk, irigasi, hingga embung-embung.
Masih banyak proyek yang sedang dalam proses pembangunan. Kita berharap semua bisa berjalan baik dan tidak ada kendala yang harus dihadapi. Alokasi anggaran pemerintah untuk keperluan itu sudah jelas di dalam anggaran pendapatan dan belanja negara. Yang masih kita tunggu ialah investasi yang akan dilakukan swasta.
Satu yang ingin kita ingatkan, di samping persoalan jumlah infrastruktur yang perlu kita bangun, yang tidak boleh dilupakan ialah kualitas. Bahkan, kualitas itu tidak hanya pada hasilnya, tetapi juga yang tidak kalah penting ialah kualitas dalam proses pembangunan. Empat kali sudah setidaknya kita mendengar kabar adanya kecelakaan dalam proyek pembangunan infrastruktur.
Satu di Jawa Timur ketika balok beton jembatan jatuh dan menimpa pekerja hingga tewas. Kemudian kita mendengar dinding beton proyek mass rapid transit di Jakarta jatuh menimpa sepeda motor. Kemudian balok beton di sekitar Jalan Antasari Jakarta ambruk tertabrak truk proyek.
Pekan lalu, grinder light rail train di Rawamangun, Jakarta, roboh. Kecermatan dalam bekerja menjadi sesuatu yang penting dilakukan. Semua harus dilakukan secara saksama agar tidak menimbulkan korban. Apalagi, proyek infrastruktur berkaitan dengan beban yang berat sehingga kesalahan sedikit saja bisa berakibat fatal.
Proses kerja yang baik akan berdampak pada hasil yang baik. Kita bukan sekadar ingin membangun infrastruktur, melainkan juga infrastruktur yang berkualitas. Tanpa hasil pembangunan yang berkualitas, kita akan menghadapi dua kerugian sekaligus. Pertama, biaya perawatan yang lebih mahal.
Kedua, biaya logistik yang tidak menjadi lebih murah. Kita perlu belajar dari pembangunan Tol Cipularang. Kualitas yang buruk dari infrastruktur yang kita bangun itu membuat perjalanan Jakarta menuju Bandung menjadi tidak nyaman karena jalan bergelombang. Belum lagi perawatan yang harus setiap saat dilakukan.
Semua itu bukan hanya merugikan pengguna tol, melainkan juga pihak pengelola yang harus terus-menerus mengeluarkan biaya perbaikan. Hal yang sama kita rasakan di tol lingkar luar dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Jagorawi. Mulai di kawasan Ciledug sampai kawasan Ampera, tidak pernah ada hari tanpa perbaikan.
Itu terjadi pada kedua arah jalan. Bongkar dan lapis jalan setiap hari terjadi. Ironisnya, cara pemberitahuan perbaikan jalan dilakukan secara asal-asalan. Baru menjelang mendekati tempat perbaikan, kita tahu ada tanda jalan menyempit di kiri atau kanan jalan. Akibatnya, setiap malam ada kemacetan luar biasa menuju tempat perbaikan jalan tersebut.
Sering kita bertanya, mengapa kita tidak pernah mau belajar membangun infrastruktur secara benar? Mengapa proyek yang sudah dengan susah payah kita bangun dan menghabiskan ribuan triliun rupiah dikerjakan secara asal-asalan? Apakah tidak bisa para insinyur kita menghasilkan infrastruktur yang berkualitas?
Bayangkan Tol Jagorawi yang selesai dibangun pada 1978 bisa masih mulus terbentang sampai sekarang. Tol pertama milik kita itu dibangun kontraktor asal Korea Selatan. Sementara itu, dua jalur tambahan di sebelahnya yang kita bangun sendiri selalu bergelombang dan tidak bisa dilalui dengan mulus.
Kita tentu tidak bisa mengatakan kontraktor Korea lebih menguasai know-how pembangunan jalan. Sebabnya, kalau kita pergi ke negara tetangga, seperti Singapura atau Malaysia, kualitas jalan yang mereka miliki pun jauh lebih baik daripada kita. Bahkan, nontol di Kuantan, Malaysia, misalnya, bisa mulus dan tidak berlubang sama sekali di tengah jalan.
Kita perlu memperbaiki diri karena kalau tidak, kerja keras kita akan menjadi sia-sia. Jangan lupa tidak lama lagi kita akan menjadi tuan rumah Asian Games XVIII. Setidaknya orang dari 45 negara Asia akan melihat Indonesia dan merasakan infrastruktur yang kita bangun ini. Jangan sampai mereka memandang sebelah mata karena kita tidak mampu menghasilkan pembangunan yang berkualitas.
Kita tidak ingin itu sampai terjadi, yaitu berbagai infrastruktur yang kita bangun menjadi tontonan buruk. Ketika perhelatan Asian Games sedang kita lakukan, bangunan infrastruktur di tengah Jakarta itu ambruk saat sedang dipakai. Keinginan untuk memamerkan LRT produk anak bangsa justru berubah menjadi musibah.
Karena itu, kita harus bekerja lebih bersungguh-sungguh. Kita percaya para insinyur teknik Indonesia sudah menguasai teknologi. Banyak insinyur kita yang bekerja di luar negeri dan mampu menghasilkan karya yang membanggakan. Persoalan kita bukan terletak pada kemampuan individu, melainkan pembangunan sistem.
Kita memerlukan sistem yang memungkinkan orang bisa bekerja baik dan benar. Sistem itu menghargai mereka yang bekerja baik dan benar, bukan memberikan jalan kepada mereka yang hanya merugikan negara.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved