Kualitas

Suyopratomo Dewan Redaksi Media Group
31/1/2018 05:31
Kualitas
(ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

KITA gembira proyek-proyek infrastruktur yang dibangun sebagian sudah mulai selesai dan bisa digunakan. Tahun ini kita akan merasakan dampak ekonomi dari hasil pembangunan infrastruktur yang sudah selesai dibangun itu, mulai jalan, pelabuhan, bandar udara, kereta api, waduk, irigasi, hingga embung-embung.

Masih banyak proyek yang sedang dalam proses pembangunan. Kita berharap semua bisa berjalan baik dan tidak ada kendala yang harus dihadapi. Alokasi anggaran pemerintah untuk keperluan itu sudah jelas di dalam anggaran pendapatan dan belanja negara. Yang masih kita tunggu ialah investasi yang akan dilakukan swasta.

Satu yang ingin kita ingatkan, di samping persoalan jumlah infrastruktur yang perlu kita bangun, yang tidak boleh dilupakan ialah kualitas. Bahkan, kualitas itu tidak hanya pada hasilnya, tetapi juga yang tidak kalah penting ialah kualitas dalam proses pembangunan. Empat kali sudah setidaknya kita mendengar kabar adanya kecelakaan dalam proyek pembangunan infrastruktur.

Satu di Jawa Timur ketika balok beton jembatan jatuh dan menimpa pekerja hingga tewas. Kemudian kita mendengar dinding beton proyek mass rapid transit di Jakarta jatuh menimpa sepeda motor. Kemudian balok beton di sekitar Jalan Antasari Jakarta ambruk tertabrak truk proyek.

Pekan lalu, grinder light rail train di Rawamangun, Jakarta, roboh. Kecermatan dalam bekerja menjadi sesuatu yang penting dilakukan. Semua harus dilakukan secara saksama agar tidak menimbulkan korban. Apalagi, proyek infrastruktur berkaitan dengan beban yang berat sehingga kesalahan sedikit saja bisa berakibat fatal.

Proses kerja yang baik akan berdampak pada hasil yang baik. Kita bukan sekadar ingin membangun infrastruktur, melainkan juga infrastruktur yang berkualitas. Tanpa hasil pembangunan yang berkualitas, kita akan menghadapi dua kerugian sekaligus. Pertama, biaya perawatan yang lebih mahal.

Kedua, biaya logistik yang tidak menjadi lebih murah. Kita perlu belajar dari pembangunan Tol Cipularang. Kualitas yang buruk dari infrastruktur yang kita bangun itu membuat perjalanan Jakarta menuju Bandung menjadi tidak nyaman karena jalan bergelombang. Belum lagi perawatan yang harus setiap saat dilakukan.

Semua itu bukan hanya merugikan pengguna tol, melainkan juga pihak pengelola yang harus terus-menerus mengeluarkan biaya perbaikan. Hal yang sama kita rasakan di tol lingkar luar dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Jagorawi. Mulai di kawasan Ciledug sampai kawasan Ampera, tidak pernah ada hari tanpa perbaikan.

Itu terjadi pada kedua arah jalan. Bongkar dan lapis jalan setiap hari terjadi. Ironisnya, cara pemberitahuan perbaikan jalan dilakukan secara asal-asalan. Baru menjelang mendekati tempat perbaikan, kita tahu ada tanda jalan menyempit di kiri atau kanan jalan. Akibatnya, setiap malam ada kemacetan luar biasa menuju tempat perbaikan jalan tersebut.

Sering kita bertanya, mengapa kita tidak pernah mau belajar membangun infrastruktur secara benar? Mengapa proyek yang sudah dengan susah payah kita bangun dan menghabiskan ribuan triliun rupiah dikerjakan secara asal-asalan? Apakah tidak bisa para insinyur kita menghasilkan infrastruktur yang berkualitas?

Bayangkan Tol Jagorawi yang selesai dibangun pada 1978 bisa masih mulus terbentang sampai sekarang. Tol pertama milik kita itu dibangun kontraktor asal Korea Selatan. Sementara itu, dua jalur tambahan di sebelahnya yang kita bangun sendiri selalu bergelombang dan tidak bisa dilalui dengan mulus.

Kita tentu tidak bisa mengatakan kontraktor Korea lebih menguasai know-how pembangunan jalan. Sebabnya, kalau kita pergi ke negara tetangga, seperti Singapura atau Malaysia, kualitas jalan yang mereka miliki pun jauh lebih baik daripada kita. Bahkan, nontol di Kuantan, Malaysia, misalnya, bisa mulus dan tidak berlubang sama sekali di tengah jalan.

Kita perlu memperbaiki diri karena kalau tidak, kerja keras kita akan menjadi sia-sia. Jangan lupa tidak lama lagi kita akan menjadi tuan rumah Asian Games XVIII. Setidaknya orang dari 45 negara Asia akan melihat Indonesia dan merasakan infrastruktur yang kita bangun ini. Jangan sampai mereka memandang sebelah mata karena kita tidak mampu menghasilkan pembangunan yang berkualitas.

Kita tidak ingin itu sampai terjadi, yaitu berbagai infrastruktur yang kita bangun menjadi tontonan buruk. Ketika perhelatan Asian Games sedang kita lakukan, bangunan infrastruktur di tengah Jakarta itu ambruk saat sedang dipakai. Keinginan untuk memamerkan LRT produk anak bangsa justru berubah menjadi musibah.

Karena itu, kita harus bekerja lebih bersungguh-sungguh. Kita percaya para insinyur teknik Indonesia sudah menguasai teknologi. Banyak insinyur kita yang bekerja di luar negeri dan mampu menghasilkan karya yang membanggakan. Persoalan kita bukan terletak pada kemampuan individu, melainkan pembangunan sistem.

Kita memerlukan sistem yang memungkinkan orang bisa bekerja baik dan benar. Sistem itu menghargai mereka yang bekerja baik dan benar, bukan memberikan jalan kepada mereka yang hanya merugikan negara.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima