Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
"SELAMA masih ada bulu tangkis, Indonesia selalu punya potensi untuk terus diharumkan." Kalimat ini sesungguhnya terinspirasi Ketua Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila Yudi Latif yang pernah mengatakan, selama masih ada musik dangdut, Indonesia akan tetap bersatu.
Atau kata Ketua Umum Suporter Timnas Indonesia Ignatius Indro, selama ada sepak bola Indonesia, bangsa ini tetap bersama. Lihatlah timnas bola kita dari beragam puak, agama, dan budaya. Begitu pula penontonnya. Namun, ketika Indonesia berlaga, kebersamaan seketika meruntuhkan aneka perbedaan.
Namun, bulu tangkis telah terbukti berkali-kali mengharumkan negeri ini. Bahkan, di Olimpiade hanya olahraga ini yang mampu membuat Indonesia Raya berkumandang dan Merah Putih berkibar paling tinggi hingga enam kali sejak Susy Susanti dan Alan Budi Kusuma merebut medali emas di Barcelona, Spanyol, pada 1992.
Sementara itu, sepak bola, dengan kecintaan penontonnya yang luar biasa, masih berat perjalanannya, di level Asia Tenggara sekalipun. Ajang Indonesia Master 2018 yang berakhir Ahad lalu ialah contoh yang paling nyata. Indonesia menempatkan empat wakil di final. Dua merebut juara, yakni tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting dan ganda putra Kevin Sanjaya Sukamulyo/Marcus Fernaldi Gideon.
Ginting mengempaskan pemain Jepang, Kazumasa Sakai, dua gim langsung. Adapun Kevin/Marcus menghentikan ambisi pasangan Tiongkok, Li Junhui/Liu Yuchen, dalam tiga gim. Taiwan, Jepang, dan Tiongkok masing-masing berbagai satu gelar, yakni tunggal putri (Tai Zhu Ying), ganda putri (Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi), dan ganda campuran (Zheng Siwei/Huang Yaqiong).
Itulah yang membuat Istora Senayan di Kompleks Stadion Gelora Bung Karno gegap gempita. Mereka terpuaskan meski ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan ganda putri Greysia Polii/Apriani Rahayu gagal. Para pemain dunia mana pun mafhum dan kagum, betapa publik Indonesia selalu bergelora semangatnya setiap para pahlawan bulu tangkisnya berlaga.
Itu sebabnya, Istora Senayan selalu menjadi kerinduan para bintang bulu tangkis dunia mana pun. Di tengah udara politik yang berdebu, yang mempertontonkan laku elite berebut kekuasaan dengan segala cara, bulu tangkis lagi-lagi menjadi oasis. Jika elite politik terus mengotori langit Indonesia dengan korupsi silih berganti, bulu tangkis justru yang 'membersihkannya' dengan juara berkali-kali.
Wajar--dan memang seharusnya--jika Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menonton langsung babak final mengapresiasi tinggi-tinggi para pengharum bangsa itu. Anthony Sinisuka Ginting, 21 tahun, jelas harapan baru di tunggal putra. Sejak Taufik Hidayat gantung raket, tunggal putra terasa redup sinarnya.
Ginting, peringkat 18 dunia, di ajang ini mengalahkan pemain elite asal Tiongkok, Chen Long, yang juga peringkat enam dunia. Selain Chen Long, Chou Tien Chen asal Taiwan, peringkat lima dunia, juga diempaskan Ginting. Tahun lalu, pemain pelatnas PBSI ini juara Korea Terbuka setelah mengalahkan rekan senegaranya, Jonatan Christie.
Lewat televisi saya beberapa kali menonton Ginting berlaga, terutama di Indonesia Master 2018. Meski masih muda usia, ia terlihat komplet sebagai atlet. Dari teknik bermain, fisik, hingga mental menghadapi lawan, memperlihatkan ia memang layak juara. Di semifinal, Chen Long, 29 tahun, pun dibuat pontang-panting.
Peraih medali emas Olimpiade 2016 Rio De Janeiro, Brasil, itu seperti kehabisan segala upaya untuk mengimbangi Ginting. Smes-smes tajam dan pukulan silang Ginting memang kerap membuat lawan-lawannya sulit meraih angka melebihi dirinya. Ia seperti tak pernah kehabisan energi untuk mengejar kok ke mana pun lawan mengarahkan.
Ekspresi wajahnya yang tenang ketika penonton justru kerap tegang saat ia dalam situasi tertinggal, juga kelebihan lain. Kata-katanya runut dan terukur setiap menjawab pertanyaan pers, menjadikan pemain muda ini mengundang banyak simpati. "Saya tak terlalu memikirkan menggebu-gebu buru-buru masuk top 10. Saya coba yang terbaik saja setiap pertandingan. Dengan capaian ini saya harap tunggal putra Indonesia lebih termotivasi untuk berprestasi ke depan," ujar sang juara.
Ginting benar. Tunggal putra harus bangkit dari prestasinya yang meredup jika dibandingkan dengan ganda putra dan ganda campuran. Jika para penggemar bulu tangkis terasa nikmat menyaksikan ketenangan dan kematangan Ginting, di ganda putra pasangan Kevin/Marcus memuaskan penonton dengan permainannya yang ekpresif, bahkan kadang provokatif, terutama Kevin.
Pasangan berjuluk the Minions ini selalu menjadi penantian penonton karena permainan mereka yang cepat dan atraktif. Meskipun sepanjang 2017 mereka mengantongi tujuh gelar juara berlevel superseries/premier, Kevin/Marcus selalu haus kemenangan. Pasangan yang terbentuk pada 2015 itu seperti tak pernah peduli siapa lawan-lawan mereka.
Keduanya hanya ingin mengalahkan. Ginting dan Kevin/Marcus tak berhenti di sini. Pastilah kita berharap anak-anak muda itu terus menorehkan prestasi tinggi-tinggi. Pembuktian di ajang Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang (Agustus-September) ialah salah satu yang kita tunggu dengan penuh harapan.
Bulu tangkis sepertinya masih menjadi pengharum bangsa, oasis, yang belum tergantikan. Ini berbanding terbalik dengan para politikus yang sepertinya punya 'hobi' mencemari negeri dengan korupsi silih berganti. Juga mereka yang berkuasa dengan menghalalkan segala cara.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved