Oasis Bulu Tangkis

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
30/1/2018 05:31
Oasis Bulu Tangkis
(thinkstock)

"SELAMA masih ada bulu tangkis, Indonesia selalu punya potensi untuk terus diharumkan." Kalimat ini sesungguhnya terinspirasi Ketua Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila Yudi Latif yang pernah mengatakan, selama masih ada musik dangdut, Indonesia akan tetap bersatu.

Atau kata Ketua Umum Suporter Timnas Indonesia Ignatius Indro, selama ada sepak bola Indonesia, bangsa ini tetap bersama. Lihatlah timnas bola kita dari beragam puak, agama, dan budaya. Begitu pula penontonnya. Namun, ketika Indonesia berlaga, kebersamaan seketika meruntuhkan aneka perbedaan.

Namun, bulu tangkis telah terbukti berkali-kali mengharumkan negeri ini. Bahkan, di Olimpiade hanya olahraga ini yang mampu membuat Indonesia Raya berkumandang dan Merah Putih berkibar paling tinggi hingga enam kali sejak Susy Susanti dan Alan Budi Kusuma merebut medali emas di Barcelona, Spanyol, pada 1992.

Sementara itu, sepak bola, dengan kecintaan penontonnya yang luar biasa, masih berat perjalanannya, di level Asia Tenggara sekalipun. Ajang Indonesia Master 2018 yang berakhir Ahad lalu ialah contoh yang paling nyata. Indonesia menempatkan empat wakil di final. Dua merebut juara, yakni tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting dan ganda putra Kevin Sanjaya Sukamulyo/Marcus Fernaldi Gideon.

Ginting mengempaskan pemain Jepang, Kazumasa Sakai, dua gim langsung. Adapun Kevin/Marcus menghentikan ambisi pasangan Tiongkok, Li Junhui/Liu Yuchen, dalam tiga gim. Taiwan, Jepang, dan Tiongkok masing-masing berbagai satu gelar, yakni tunggal putri (Tai Zhu Ying), ganda putri (Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi), dan ganda campuran (Zheng Siwei/Huang Yaqiong).

Itulah yang membuat Istora Senayan di Kompleks Stadion Gelora Bung Karno gegap gempita. Mereka terpuaskan meski ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan ganda putri Greysia Polii/Apriani Rahayu gagal. Para pemain dunia mana pun mafhum dan kagum, betapa publik Indonesia selalu bergelora semangatnya setiap para pahlawan bulu tangkisnya berlaga.

Itu sebabnya, Istora Senayan selalu menjadi kerinduan para bintang bulu tangkis dunia mana pun. Di tengah udara politik yang berdebu, yang mempertontonkan laku elite berebut kekuasaan dengan segala cara, bulu tangkis lagi-lagi menjadi oasis. Jika elite politik terus mengotori langit Indonesia dengan korupsi silih berganti, bulu tangkis justru yang 'membersihkannya' dengan juara berkali-kali.

Wajar--dan memang seharusnya--jika Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menonton langsung babak final mengapresiasi tinggi-tinggi para pengharum bangsa itu. Anthony Sinisuka Ginting, 21 tahun, jelas harapan baru di tunggal putra. Sejak Taufik Hidayat gantung raket, tunggal putra terasa redup sinarnya.

Ginting, peringkat 18 dunia, di ajang ini mengalahkan pemain elite asal Tiongkok, Chen Long, yang juga peringkat enam dunia. Selain Chen Long, Chou Tien Chen asal Taiwan, peringkat lima dunia, juga diempaskan Ginting. Tahun lalu, pemain pelatnas PBSI ini juara Korea Terbuka setelah mengalahkan rekan senegaranya, Jonatan Christie.

Lewat televisi saya beberapa kali menonton Ginting berlaga, terutama di Indonesia Master 2018. Meski masih muda usia, ia terlihat komplet sebagai atlet. Dari teknik bermain, fisik, hingga mental menghadapi lawan, memperlihatkan ia memang layak juara. Di semifinal, Chen Long, 29 tahun, pun dibuat pontang-panting.

Peraih medali emas Olimpiade 2016 Rio De Janeiro, Brasil, itu seperti kehabisan segala upaya untuk mengimbangi Ginting. Smes-smes tajam dan pukulan silang Ginting memang kerap membuat lawan-lawannya sulit meraih angka melebihi dirinya. Ia seperti tak pernah kehabisan energi untuk mengejar kok ke mana pun lawan mengarahkan.

Ekspresi wajahnya yang tenang ketika penonton justru kerap tegang saat ia dalam situasi tertinggal, juga kelebihan lain. Kata-katanya runut dan terukur setiap menjawab pertanyaan pers, menjadikan pemain muda ini mengundang banyak simpati. "Saya tak terlalu memikirkan menggebu-gebu buru-buru masuk top 10. Saya coba yang terbaik saja setiap pertandingan. Dengan capaian ini saya harap tunggal putra Indonesia lebih termotivasi untuk berprestasi ke depan," ujar sang juara.

Ginting benar. Tunggal putra harus bangkit dari prestasinya yang meredup jika dibandingkan dengan ganda putra dan ganda campuran. Jika para penggemar bulu tangkis terasa nikmat menyaksikan ketenangan dan kematangan Ginting, di ganda putra pasangan Kevin/Marcus memuaskan penonton dengan permainannya yang ekpresif, bahkan kadang provokatif, terutama Kevin.

Pasangan berjuluk the Minions ini selalu menjadi penantian penonton karena permainan mereka yang cepat dan atraktif. Meskipun sepanjang 2017 mereka mengantongi tujuh gelar juara berlevel superseries/premier, Kevin/Marcus selalu haus kemenangan. Pasangan yang terbentuk pada 2015 itu seperti tak pernah peduli siapa lawan-lawan mereka.

Keduanya hanya ingin mengalahkan. Ginting dan Kevin/Marcus tak berhenti di sini. Pastilah kita berharap anak-anak muda itu terus menorehkan prestasi tinggi-tinggi. Pembuktian di ajang Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang (Agustus-September) ialah salah satu yang kita tunggu dengan penuh harapan.

Bulu tangkis sepertinya masih menjadi pengharum bangsa, oasis, yang belum tergantikan. Ini berbanding terbalik dengan para politikus yang sepertinya punya 'hobi' mencemari negeri dengan korupsi silih berganti. Juga mereka yang berkuasa dengan menghalalkan segala cara.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima