George Soros dan Jack Ma

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
29/1/2018 05:05
George Soros dan Jack Ma
(AFP)

BANYAK tokoh berbicara di World Economic Forum yang berlangsung di Davos, Swiss, pekan lalu, tetapi sedikit tokoh yang narasinya kuat mencuat ke publik dunia.

Dua dari yang sedikit itu ialah George Soros dan Jack Ma.

Soros mengkritik Donald Trump, presidennya, yang dinilainya menjadi otoriter dan tengah membawa AS ke dalam perang nuklir.

Sebagai pendukung Hillary Clinton, kritik Soros perihal Trump itu kiranya perkara lumrah.

Yang baru ialah investor miliarder itu berbicara sangat keras tentang media sosial, Facebook dan Google.

Kedua media sosial itu dinilainya sebagai ancaman terhadap masa depan. Demi mendapat pasar raksasa, demikian Soros, bukan masalah bagi perusahaan media sosial itu bekerja sama dengan negara otoriter Tiongkok, yang selama ini melarang mereka.

Bukan persoalan, sekalipun web itu menjadi platform totaliter.

"Yang bahkan Aldous Huxley atau George Orwell tidak dapat mengimajinasikannya," kata Soros.

Aldous Leonard Huxley ialah penulis, novelis, filosof Inggris yang menghasilkan 50 buku, antara lain novel Brave New World, tentang masa depan distopia alias antiutopia.

Itulah masyarakat yang mengalami kemunduran besar-besaran berupa dehumanisasi, pemerintahan totaliter, kehancuran lingkungan.

George Orwell, novelis, esais, jurnalis juga asal Inggris, dalam karyanya 1984 pun melukiskan suatu masyarakat masa depan distopia.

Betapa dahsyat kerusakan masa depan yang kedua penulis besar itu imajinasikan.

Namun, menurut Soros, kerusakan masa depan karena media sosial, jauh melampaui.

Karena itu, Soros berpendapat agar dibuat peraturan yang ketat untuk mengendalikan media sosial, khususnya Facebook yang merupakan platform penyebar ujaran kebencian.

"Davos ialah tempat yang baik untuk mengumumkan hari kematian mereka," kata Soros.

Jack Ma, pendiri dan pemilik Alibaba, perusahaan raksasa Tiongkok di bidang e-commerce tentu saja tidak seperti Soros yang mengkhawatirkan masa depan berupa masyarakat distopia gara-gara media sosial yang berbasiskan kemajuan teknologi informasi.

Ia mengkhawatirkan masa depan anak-anak kita bila terus diajar dengan cara sekarang.

Viral yang menyebarluaskan presentasinya di Davos itu diawali dengan data tentang robot yang bersumber dari McKinsey Global Institute.

Bahwa pada 2030, sebanyak 800 juta tenaga kerja hilang digantikan robot.

Jack Ma bilang, anak-anak kita tidak dapat bersaing dengan mesin jika mereka tetap diajar dengan cara sekarang, yang telah berumur 200 tahun.

Tantangan kita terbesar, "Pendidikan harus berubah," katanya.

Untuk menghadapi masa depan, anak-anak kita harus diberi soft skills, yaitu nilai-nilai, keyakinan, berpikir bebas, kerja sama tim, serta peduli kepada sesama.

Semua itu dapat dicapai melalui olahraga, musik, dan melukis.

Seni membedakan manusia dengan mesin, demikian Jack Ma.

Dua tokoh itu bicara tentang masa depan yang tidak jauh, yang menurut Jack Ma urusan 30 tahun ke depan.

Bukan mengada-ada mengatakan bentuk lain kemunduran masyarakat distopia itu bisa datang lebih cepat di tengah masyarakat plural, seperti negeri ini, bila ujaran kebencian lewat media sosial itu gagal kita patahkan.

Harian Kompas memberitakan bahwa dalam urusan pendidikan kita masih berkutat perihal sertifikasi guru.

Sekitar 1,32 juta guru dalam jabatan yang belum diikutkan sertifikasi pemerintah.

Selain itu, secara nasional kita kelebihan guru untuk jenjang pendidikan anak usia dini hingga menengah.

Akibatnya, banyak sarjana pendidikan terancam menganggur. Mereka justru harus diberi kemampuan tambahan agar tidak terpateri pada karier sebagai guru.

Kira-kira apa kata Jack Ma? Maaf, guru-guru itu sedang dibuat bersaing dengan mesin di masa depan.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima