Anak Emak Berpulang

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
26/1/2018 05:31
Anak Emak Berpulang
(Ist)

EPILOG buku Emak (2010) menarasikan kebahagiaan sangat. Emak penunjuk jalan hidup menuju dunia ilmu dan memberi dukungan moral menekuni dunia kreatif. Emak yang selalu menceritakan dongeng atau riwayat berbagai nabi dan rasul. Ia kerap memetik kecapi seraya melantunkan aneka senandung.

Satu-satunya dari emak yang membuat sang penulisnya (Daoed Joesoef) bersedih ialah karena Emak berpulang menuju dunia yang abadi dan pasti tak akan kembali. Ketika berita duka tiba, Daoed tengah bersiap menempuh rangkaian ujian doktor di Prancis. Inilah mimpi yang menjadi kenyataan.

Jika berhasil menempuh program akademik tertinggi itu, Daoed akan menjadi orang Indonesia pertama bergelar doktor melalui program bergengsi ini, Doctorat de 1 'Universite'. Daoed meraih dua gelar doktor ilmu keuangan internasional dan hubungan internasional (1967) serta ilmu ekonomi (1973) di Universite de Paris I, Pantheon-Sorbonne, Prancis.

"Maka, berita kepergian emak ke alam baka, memenuhi panggilan Allah SWT yang selama ini disembahnya lima kali sehari dalam sembahyang lima waktu, sungguh mengejutkan aku, Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." (hlm 289) Namun, Selasa lalu, anak emak pun dipanggil ke hadirat-Nya.

Ratap pilu itu pastilah dialami istri Daoed (Sri Sulastri), putri semata wayang (Sri Sulaksmi Damayanti), menantu (Bambang Pharmasetiawan), dua cucu, dan seorang cicit. Emak yang terbit pertama pada 2003 ialah kisah sejati Daoed Joesoef, anak pasangan orangtua yang bersahaja di Sumatra Utara.

Namun, ia tak hanya menyelesaikan gelar tertinggi di kampus prestisius itu. Ia kemudian dipercaya menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan (1978-1983) dalam Kabinet Pembangunan III. Alangkah bangganya anak emak! Daoed, kelahiran Medan, 8 Agustus 1926, ialah menteri yang diingat mahasiswa kala itu sebagai pejabat yang memberangus kebebasan kampus.

Ia memang 'arsitek' program Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus (NKK/BKK). Dengan program itu senat mahasiswa dan dewan mahasiswa dibubarkan. Aktivitas politik pun dilarang di seluruh kampus. Yang membandel dipecat. Di awal 2000, ketika saya mewawancarai Daoed di rumahnya, Jalan Bangka VII Dalam No 14, Jakarta Selatan, tak lupa saya tanyakan juga perihal NKK/BKK itu.

"Kalau saya tidak menerapkan program itu, NKK/BKK, Pak Harto bisa terancam. Saya menyelamatkan Pak Harto. Saya juga ingin menyelamatkan mutu perguruan tinggi. Masak kampus disibukkan oleh politik. Kapan belajar menjadi ilmuwan yang berkualitas. Kalau sudah pandai mau berpolitik, silakan saja di luar," katanya.

Sesungguhnya waktu itu saya mewawancarai sosok yang punya banyak predikat cendekiawan, pendidik, ekonom, dan seniman ini untuk penulisan buku biografi Soemitro Djojohadikusumo, Jejak Langkah Begawan Pejuang, (2000), dengan ketua tim penulis Aristides Katoppo. Sumitro ialah pendiri Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Daoed salah satu lulusan fakultas ini yang pernah pula memimpin fakultas.

Ia juga salah satu tokoh pendiri CSIS (Centre for Strategic and International Studies), sebuah lembaga think tank yang banyak dimanfaatkan Orde Baru. Sebagai ekonom, di masa Soekarno pada 1953, ia pernah pula ditawari kursi Gubernur Bank Indonesia. Ia menolak dan tetap memilih menjadi pendidik.

Namun, ketika dipanggil Presiden Soeharto pada 1978 untuk menjadi menteri pendidikan, ia bersedia. Ia pun menyodorkan konsep pembangunan ekonomi nasional, pertahanan keamanan, dan pembangunan pendidikan. Baginya, pendidikan adalah investasi masa depan. Karena itu, pendidikan harus memberi cukup ilmu.

Ia pun mendorong setiap individu menjadi pribadi yang berpikir mandiri. Daoed ketika mahasiswa kerap diajak Wakil Presiden Bung Hatta pergi ke daerah-daerah. Ia memang pengagum Hatta yang disebutnya pemimpin besar dengan visi prospektif dan profetis. Dalam buku Rekam Jejak Anak Tiga Zaman (2017) ia menulis 'adalah kecelakaan sejarah Indonesia tidak pernah memercayakan kepada Hatta untuk menjadi presiden, sosok yang punya pikiran cemerlang'.

Baginya Hatta ialah guru sepanjang hayat. Kepada Hatta pula konsep tentang pendidikan ia ceritakan. Daoed telah berpulang ke alam yang abadi, menyusul sang emak yang amat dicintainya. Setidaknya ada tiga hal yang diingat banyak kalangan selama ia menjadi mendikbud. Selain memberlakukan NKK/BKK, ia mengubah tahun ajaran baru yang semula Januari menjadi Juli.

Risikonya ada penambahan waktu satu semester sebagai penyesuaian. Ia juga menerapkan kebijakan bulan Ramadan tetap sekolah yang sebelumnya libur. Tiga hal itu masih berlaku hingga kini. Ada yang mengkritik ia anti-Islam. Sebaliknya, Daoed justru ingin memuliakan Islam. "Ramadan itu bulan penuh ibadah, dan belajar ialah bagian dari ibadah," katanya.

Ada pula yang menyebut Daoed menteri pendidikan terbaik setelah Ki Hadjar Dewantara. Ia datang dengan pikiran. Ia paham apa kata Johann Wolfgang von Gothe, "Tidak ada yang begitu mengerikan seperti kegiatan tanpa wawasan." Betul kata Wapres Jusuf Kalla, Daoed ialah pemikir andal pendidikan.

Tulisan-tulisan yang memberi pencerahan bagi bangsa ini tentang ekonomi, pendidikan, kebudayaan, hubungan internasional, dan filsafat tetap hadir hingga menjelang maut. Buku Rekam Jejak Anak Tiga Zaman diluncurkan pada 2017, ketika usianya genap 90 tahun. "Bagiku menulis adalah hidup itu sendiri. Menulis menjadi asupan par excellence bagi hidup. Elan vital yang bikin iri mereka yang lebih muda."

Bisa jadi, akan lebih banyak lagi butir kebajikan yang terlihat setelah kematian sosok sederhana ini. Selamat menuju alam keabadian, Pak Daoed.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima