Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
EPILOG buku Emak (2010) menarasikan kebahagiaan sangat. Emak penunjuk jalan hidup menuju dunia ilmu dan memberi dukungan moral menekuni dunia kreatif. Emak yang selalu menceritakan dongeng atau riwayat berbagai nabi dan rasul. Ia kerap memetik kecapi seraya melantunkan aneka senandung.
Satu-satunya dari emak yang membuat sang penulisnya (Daoed Joesoef) bersedih ialah karena Emak berpulang menuju dunia yang abadi dan pasti tak akan kembali. Ketika berita duka tiba, Daoed tengah bersiap menempuh rangkaian ujian doktor di Prancis. Inilah mimpi yang menjadi kenyataan.
Jika berhasil menempuh program akademik tertinggi itu, Daoed akan menjadi orang Indonesia pertama bergelar doktor melalui program bergengsi ini, Doctorat de 1 'Universite'. Daoed meraih dua gelar doktor ilmu keuangan internasional dan hubungan internasional (1967) serta ilmu ekonomi (1973) di Universite de Paris I, Pantheon-Sorbonne, Prancis.
"Maka, berita kepergian emak ke alam baka, memenuhi panggilan Allah SWT yang selama ini disembahnya lima kali sehari dalam sembahyang lima waktu, sungguh mengejutkan aku, Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." (hlm 289) Namun, Selasa lalu, anak emak pun dipanggil ke hadirat-Nya.
Ratap pilu itu pastilah dialami istri Daoed (Sri Sulastri), putri semata wayang (Sri Sulaksmi Damayanti), menantu (Bambang Pharmasetiawan), dua cucu, dan seorang cicit. Emak yang terbit pertama pada 2003 ialah kisah sejati Daoed Joesoef, anak pasangan orangtua yang bersahaja di Sumatra Utara.
Namun, ia tak hanya menyelesaikan gelar tertinggi di kampus prestisius itu. Ia kemudian dipercaya menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan (1978-1983) dalam Kabinet Pembangunan III. Alangkah bangganya anak emak! Daoed, kelahiran Medan, 8 Agustus 1926, ialah menteri yang diingat mahasiswa kala itu sebagai pejabat yang memberangus kebebasan kampus.
Ia memang 'arsitek' program Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus (NKK/BKK). Dengan program itu senat mahasiswa dan dewan mahasiswa dibubarkan. Aktivitas politik pun dilarang di seluruh kampus. Yang membandel dipecat. Di awal 2000, ketika saya mewawancarai Daoed di rumahnya, Jalan Bangka VII Dalam No 14, Jakarta Selatan, tak lupa saya tanyakan juga perihal NKK/BKK itu.
"Kalau saya tidak menerapkan program itu, NKK/BKK, Pak Harto bisa terancam. Saya menyelamatkan Pak Harto. Saya juga ingin menyelamatkan mutu perguruan tinggi. Masak kampus disibukkan oleh politik. Kapan belajar menjadi ilmuwan yang berkualitas. Kalau sudah pandai mau berpolitik, silakan saja di luar," katanya.
Sesungguhnya waktu itu saya mewawancarai sosok yang punya banyak predikat cendekiawan, pendidik, ekonom, dan seniman ini untuk penulisan buku biografi Soemitro Djojohadikusumo, Jejak Langkah Begawan Pejuang, (2000), dengan ketua tim penulis Aristides Katoppo. Sumitro ialah pendiri Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Daoed salah satu lulusan fakultas ini yang pernah pula memimpin fakultas.
Ia juga salah satu tokoh pendiri CSIS (Centre for Strategic and International Studies), sebuah lembaga think tank yang banyak dimanfaatkan Orde Baru. Sebagai ekonom, di masa Soekarno pada 1953, ia pernah pula ditawari kursi Gubernur Bank Indonesia. Ia menolak dan tetap memilih menjadi pendidik.
Namun, ketika dipanggil Presiden Soeharto pada 1978 untuk menjadi menteri pendidikan, ia bersedia. Ia pun menyodorkan konsep pembangunan ekonomi nasional, pertahanan keamanan, dan pembangunan pendidikan. Baginya, pendidikan adalah investasi masa depan. Karena itu, pendidikan harus memberi cukup ilmu.
Ia pun mendorong setiap individu menjadi pribadi yang berpikir mandiri. Daoed ketika mahasiswa kerap diajak Wakil Presiden Bung Hatta pergi ke daerah-daerah. Ia memang pengagum Hatta yang disebutnya pemimpin besar dengan visi prospektif dan profetis. Dalam buku Rekam Jejak Anak Tiga Zaman (2017) ia menulis 'adalah kecelakaan sejarah Indonesia tidak pernah memercayakan kepada Hatta untuk menjadi presiden, sosok yang punya pikiran cemerlang'.
Baginya Hatta ialah guru sepanjang hayat. Kepada Hatta pula konsep tentang pendidikan ia ceritakan. Daoed telah berpulang ke alam yang abadi, menyusul sang emak yang amat dicintainya. Setidaknya ada tiga hal yang diingat banyak kalangan selama ia menjadi mendikbud. Selain memberlakukan NKK/BKK, ia mengubah tahun ajaran baru yang semula Januari menjadi Juli.
Risikonya ada penambahan waktu satu semester sebagai penyesuaian. Ia juga menerapkan kebijakan bulan Ramadan tetap sekolah yang sebelumnya libur. Tiga hal itu masih berlaku hingga kini. Ada yang mengkritik ia anti-Islam. Sebaliknya, Daoed justru ingin memuliakan Islam. "Ramadan itu bulan penuh ibadah, dan belajar ialah bagian dari ibadah," katanya.
Ada pula yang menyebut Daoed menteri pendidikan terbaik setelah Ki Hadjar Dewantara. Ia datang dengan pikiran. Ia paham apa kata Johann Wolfgang von Gothe, "Tidak ada yang begitu mengerikan seperti kegiatan tanpa wawasan." Betul kata Wapres Jusuf Kalla, Daoed ialah pemikir andal pendidikan.
Tulisan-tulisan yang memberi pencerahan bagi bangsa ini tentang ekonomi, pendidikan, kebudayaan, hubungan internasional, dan filsafat tetap hadir hingga menjelang maut. Buku Rekam Jejak Anak Tiga Zaman diluncurkan pada 2017, ketika usianya genap 90 tahun. "Bagiku menulis adalah hidup itu sendiri. Menulis menjadi asupan par excellence bagi hidup. Elan vital yang bikin iri mereka yang lebih muda."
Bisa jadi, akan lebih banyak lagi butir kebajikan yang terlihat setelah kematian sosok sederhana ini. Selamat menuju alam keabadian, Pak Daoed.
"Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.
JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.
SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.
ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.
KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?
MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?
ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.
DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.
LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.
RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.
HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.
ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved