Cantrang

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
24/1/2018 05:31
Cantrang
(ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)

KITA hargai sikap Presiden Joko Widodo menerima perwakilan nelayan pantai utara Jawa di Istana Negara untuk membahas isu panas, yaitu masalah cantrang. Presiden mengajak Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti untuk sama-sama mencari jalan keluar terbaik dari persoalan yang selama ini menimbulkan syak wasangka.

Hasil pertemuan itu baik karena menguntungkan kedua pihak tanpa perlu ada yang harus kehilangan muka. Pertemuan itu menyepakati perpanjangan transisi penggunaan cantrang, sampai seluruh nelayan bisa mengganti cantrang yang dipergunakan dengan jaring yang lebih ramah terhadap lingkungan.

Kementerian Kelautan dan Perikanan akan membantu untuk memfasilitasi nelayan mendapatkan kredit untuk mengganti jaring yang mereka pakai. Selama masa perpanjangan transisi, diminta untuk tidak ada penambahan kapal baru yang menggunakan cantrang dan tidak ada upaya mengubah ukuran kapal menjadi lebih kecil, padahal kapal itu ukurannya lebih besar.

Tiga pendekatan pembangunan perikanan memang harus dibuat sejalan beriringan. Pertama, bagaimana laut Indonesia dimanfaatkan nelayan Indonesia dan tidak lagi dicuri kapal asing sehingga kedaulatan wilayah bisa ditegakkan. Kedua, bagaimana penangkapan ikan di laut tidak dilakukan secara berlebihan sehingga keberlanjutannya bisa dijaga.

Ketiga, bagaimana laut ini bisa memberi kesejahteraan kepada rakyat, khususnya para nelayan kita. Sejak awal kita mengingatkan pemerintah untuk menangani isu cantrang dengan pendekatan win-win solution. Ibaratnya, bagaimana kita bisa menarik rambut tanpa harus membuat tepungnya berantakan.

Di sini dibutuhkan langkah cerdas dan bijak agar jangan sampai ada pihak yang merasa dirugikan. Salah satu yang sejak awal kita usulkan ialah pemerintah membeli cantrang milik nelayan agar bisa menjadi modal mereka untuk membeli jaring yang baru. Tentu pemerintah harus menyediakan anggaran untuk itu.

Namun, biaya yang harus disediakan sepadan dengan dampak politik yang diakibatkan ketika nelayan banyak yang tidak bisa melaut dan akhirnya berunjuk rasa karena kebijakannya dianggap tidak berpihak kepada mereka. Kita bersyukur pemerintah menyadari bahwa tugas utama mereka ialah melindungi segenap kehidupan rakyat.

Nelayan merupakan pihak yang paling tertinggal dalam tingkat kesejahteraan. Kelompok masyarakat yang paling miskin di Republik ini umumnya ialah nelayan. Tidak ada seorang pun yang akan keberatan apabila pemerintah mengangkat kehidupan mereka. Kita tentu tidak menyangkal, banyak nelayan hidup berkecukupan.

Terutama para pemilik kapal ikan, hidupnya pasti jauh lebih baik. Namun, jumlah mereka tetap lebih sedikit jika dibandingkan dengan rata-rata nelayan yang lain. Kita harus memperhatikan jumlah nelayan yang hidupnya berkekurangan karena itulah yang membuat rata-rata pendapatan per kapita kita berada di bawah.

Tugas kita bersama untuk membangun semangat kebersamaan dalam memacu pembangunan di negeri ini. Untuk itu, harus diciptakan sikap saling mengerti, saling percaya, dan saling menghormati. Kita harus tinggalkan kebiasaan untuk berprasangka buruk dan melihat kelemahan dari orang lain.

Kita pasti akan cepat maju kalau energi ini dipakai untuk hal-hal yang positif. Setiap orang pasti tidak sempurna dan memiliki kekurangan. Janganlah kekurangannya yang dieksploitasi. Kalau ada kekurangan, lebih baik diingatkan untuk diperbaiki dan sebisa mungkin dibantu untuk menutupi kelemahan itu.

Laut merupakan kekuatan dari bangsa ini karena dua pertiga wilayah Indonesia ialah perairan. Dengan jumlah penduduk yang semakin bertambah, wilayah daratan semakin terbatas untuk memenuhi kebutuhan hidup seluruh warga bangsa. Untuk itulah, kita harus berpaling ke laut dan mengoptimalkan kekuatan negara ini untuk menyejahterakan kehidupan bangsa.

Untuk bisa memanfaatkan kekuatan laut tidak hanya dibutuhkan keberanian, tetapi juga kecerdasan. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi sebuah keharusan karena tidak cukup lagi kita mengandalkan intuisi semata. Kita harus melihat bangsa Jepang, Tiongkok, Thailand, dan bahkan Vietnam yang lebih berani untuk mengarungi samudra.

Sudah terlalu lama kita membelakangi laut. Kita tidak pernah sungguh-sungguh mengeksploitasi kekayaan yang ada di dalam laut. Bahkan bertahun-tahun kita membiarkan kekayaan laut kita dieksploitasi bangsa lain. Mereka menjarah isi laut kita untuk menghidupi rakyat di negara mereka.

Kita tidak mungkin akan bisa memanfaatkan laut yang ada di dalam wilayah negeri ini kalau kita hanya berkelahi sendiri. Kita tidak pernah bisa bersepakat untuk merumuskan cara mengeksploitasi kekayaan laut secara berkelanjutan. Padahal, ikan-ikan itu harus ditangkap untuk bisa dimanfaatkan dan cara menangkapnya bukan dengan mulut, melainkan dengan kerja.

Semoga pertemuan Presiden dengan nelayan menjadi momentum untuk membangun sektor perikanan dan memanfaatkan laut kita. Selanjutnya ada langkah strategis yang dirumuskan dan diterima semua pihak, bukan lagi debat kusir yang tidak ada ujungnya. Kita berharap ada jadwal yang pasti tentang penyelesaian isu cantrang sehingga semua bisa kembali ke laut untuk bekerja dan membangun kesejahteraan seluruh bangsa.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima