Laten Menetek

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
29/6/2015 00:00
Laten Menetek
(Grafis/SENO)
SUATU hari dalam penerbangan Jakarta-Yogyakarta, saya terkesiap membaca 'Pembahasan SBMPTN 2015' yang dimuat koran Kedaulatan Rakyat (Rabu Kliwon, 10/6). Terkesiap, karena bahasan jawaban atas tes kemampuan dasar sosial dan humaniora (kode soal: 742) berisi pokok pikiran 'mengagetkan'. Saya mengalami semacam present shock, bukan future shock.

Bahasan itu berbunyi, "Salah satu fungsi laten lembaga pendidikan adalah menunda perkawinan dan memperpanjang ketergantungan pada orangtua." Bahasan itu merupakan bahasan atas jawaban D, soal No 35. Bahasan itu diproduksi sebuah lembaga bimbingan belajar. Soalnya tidak ditampilkan. Namun dapat diduga soal merupakan pilihan berganda.

Disebutkan dalam bahasan itu bahwa salah satu fungsi laten lembaga pendidikan ialah menunda perkawinan dan memperpanjang ketergantungan pada orangtua. Untuk pokok pikiran pertama, bahasan kiranya dapat diterima, baik oleh pikiran kuno, terlebih berwawasan modern. Sekalipun tidak diniatkan atau direncanakan mengirim anak ke lembaga pendidikan untuk menunda perkawinan, di tengah masyarakat terdengar kuat orangtua menolak hasrat pinang-meminang dengan alasan anak masih bersekolah.

Dalam perkara itu, kiranya lembaga pendidikan sukses melaksanakan fungsi laten. Spekulatif tanpa statistik resmi dapat dikatakan bahwa semasa di lembaga pendidikan, yang kawin rasanya sangat sedikit ketimbang yang tidak kawin. Pokok pikiran lainnya menurut bahasan itu ialah memperpanjang ketergantungan pada orangtua. Pokok pikiran itulah yang membuat saya terkesiap.

Saking tidak percaya pada apa yang tertera di koran, saya spontan menunjukkannya kepada rekan yang duduk di sebelah. Responsnya pun tak kalah spontan dan mengejutkan, "Maunya anak seumur hidup tergantung orangtua." Pernyataan itu mengandung protes keras. Pertanyaannya, adakah orangtua diam-diam mengirim anaknya ke lembaga pendidikan untuk memperpanjang ketergantungan pada orangtua?

Jika ada, layaklah yang bersangkutan gratis dikonsultasikan ke ahli kesehatan jiwa. Sebagai orang yang merasa waras dalam memandang fungsi laten maupun manifes lembaga pendidikan, saya mencoba menilik 'jebakan logika' dalam bahasan itu. Bukankah menunda perkawinan dapat memperpanjang ketergantungan pada orangtua?

Dapat, tapi tidak dengan sendirinya, tidak pula semuanya. Yang sudah kawin, beranak, masih di lembaga pendidikan pun ada yang masih bergantung pada orangtua.  Sebaliknya, ada yang belum kawin, masih duduk di bangku lembaga pendidikan, tapi sudah mandiri, itulah yang diharapkan dan dipujikan. Jadi, keberatan paling pokok bukan perkara terantuk lubang logika, melainkan perihal paling substansial yang sangat mengejutkan bahwa diam-diam atau tersembunyi lembaga pendidikan tidak berfungsi membuat anak mandiri, sebaliknya malah laten berfungsi memperpanjang ketergantungan pada orangtua.

Bila demikian halnya, diam-diam lembaga pendidikan telah menuai keberhasilan. Hal itu terbukti, bertahun-tahun lepas dari lembaga pendidikan banyak yang tetap belum kawin dan tetap pula bergantung pada orangtua. Karena itu tak usah heran, karena 'menyusu' pada orangtua rupanya memang fungsi laten lembaga pendidikan.

Kata 'laten' (latent: tersembunyi, terpendam, diam-diam, di bawah permukaan) seakan menyelamatkan bahasan itu karena membuat pokok pikiran dalam bahasan itu selintas diterima pikiran sehat. Padahal, meminjam jargon di zaman otoriter, justru bahaya laten terbesar lembaga pendidikan bila laten berfungsi memperpanjang ketergantungan pada orangtua.

Pakar dan otoritas pendidikan sebaiknya memeriksa ulang bahaya laten yang eksis dalam fungsi laten lembaga pendidikan. Terus terang, saya ngeri membayangkan lembaga pendidikan laten berhasil membuat anak bangsa seumur hidup laten 'menetek' pada orangtua.


Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.