Tragedi Citarum

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
19/1/2018 05:31
Tragedi Citarum
(ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

SUNGAI Citarum yang rusak parah akibat pencemaran merupakan salah satu cermin buram kita merawat bumi. Ada pula yang mengamsalkan, ia mata air yang telah berubah menjadi air mata. Sungai bening pusat kebahagiaan penduduk yang kini telah berubah menjadi sumber penderitaan.

Citarum serupa kitab kebajikan yang lembar demi lembar kertasnya merapuh dan huruf-hurufnya tanggal. Ia tak terbaca sebab tak dirawat. Citarum ialah fakta dan paradoks yang menohok; bahwa reformasi yang ingin menata hidup kita lebih baik justru menjadi sebaliknya. Citarum dikotori kita sendiri, yang masuk kategori 'tercemar sangat berat' dan sangat berbahaya bagi kehidupan.

Lebih dari 2.500 industri besar dan sedang; separuh lebih membuang limbah di sungai ini. Sekitar 3.000 ton limbah industri setiap hari dibuang begitu saja di sungai yang sepanjang alurnya terdapat tiga waduk: Waduk Saguling, Waduk Cirata, dan Waduk Jatiluhur. Dari waduk-waduk itulah listrik berdaya tinggi dihasilkan untuk Jawa dan Bali.

Daerah aliran sungai (DAS) di sungai dengan panjang 297 km itu, yang berhulu awal di Situ Cisanti di Kabupaten Bandung dan berhilir akhir di Muara Gembong Bekasi itu, sejak 10 tahun sesungguhnya sudah mulai mendapat predikat sungai terkotor di dunia. Situs Takepart.com bahkan meletakkan Sungai Citarum pada urutan keempat daftar sungai terjorok di dunia.

Urutannya ialah Sungai Matanza-Riachuelo, Buenos Aires, Argentina; Sungai Buriganga, Dhaka, Bangladesh; Sungai Yama, New Delhi, India; dan Sungai Citarum, Jawa Barat, Indonesia. Dalam banyak publikasi berulang kali media internasional memberi predikat Citarum menjadi 'Surga yang hilang', dengan tumpukan sampah kotor yang menutup permukaan air.

Pada Desember 2008, Asian Development Bank menyetujui untuk menggelontorkan dana US$500 miliar hanya untuk membersihkan Sungai Citarum. Namun, kenyataannya pencemaran sungai ini kian tak terkendali. Sesungguhnya ada asa yang mengemuka ketika Ahmad Heryawan menjadi Gubernur Jawa Barat.

Harapan bahwa Citarum bakal mendapat perhatian serius. Jalan pikiran saya sederhana saja, gubernur ini merupakan kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS), partai yang ketika itu berslogan sebagai partai bersih. Pastilah yang kotor-kotor akan disikatnya. Pastilah Citarum tak akan dibiarkannya terus menjadi kampanye buruk Jawa Barat, kampanye buruk Indonesia.

Namun, pada periode pertama terasa belum ada upaya serius. Baru di periode kedua sang gubernur mulai bertekad serius. Lewat Program Citarum Bestari (Bersih, Sehat, Lestari, dan Indah), ia berkehendak dalam waktu kurang dari lima tahun air Citarum bisa jernih dan bisa langsung diminum. Program ini melibatkan Dinas Peternakan, Kehutanan, Perkebunan, Pemukiman dan Perumahan, Pengelola Sumber Daya Air, hingga Kementerian Pekerjaan Umum.

"Citarum itu masalah gede. Kalau kita berhasil bersihkan Citarum, akan jadi berita dunia. Bagaimana Citarum jadi sorotan dunia karena disebut sungai terkotor? Kalau berhasil kita bersihkan, jadi berita dunia juga. Kita patut optimistis," kata Heryawan ketika itu, pertengahan 2014. Sejatinya bukan soal jadi berita dunia, melainkan soal pencemaran yang mengancam sekitar 20 juta penduduk yang hidup di sepanjang DAS Citarum.

Sejak janji dan tekad Aher dibulatkan, mestinya air Citarum bisa bersih dan bisa diminum pada tahun ini, 2018, tahun penghabisan ia memimpin Jawa Barat selama dua periode. Namun, kerusakan Citarum justru kian parah. Data dari Kodam III/Siliwangi, ikan di Citarum tercemar logam berat, yang mengancam kesehatan.

Ikan air tawar dari sungai itulah yang setiap hari dikonsumsi masyarakat Jawa Barat dan Jakarta. Setelah menilik pencemaran Citarum yang kian parah itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat Anang Sudharna menggelar konferensi pers 'meluruskan' sang gubernur. Bahwa pernyataan Heryawan air Sungai Citarum bisa diminum pada 2018, 'sebagai ungkapan seorang pemimpin yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi sebagian masyarakat Jawa Barat.

Bahwa itu untuk memotivasi'. Sanggahan khas umumnya pejabat kita jika targetnya melenceng. Presiden Joko Widodo ketika di penghujung Desember berkunjung ke Bandung, juga telah mendapatkan laporan betapa rusaknya Citarum. Itu sebabnya pemerintah pusat akan merevitalisasi Citarum secara menyeluruh mulai hulu hingga ke hilir.

Jakarta tak akan membiarkan Jawa Barat sendirian. Dengan segala upaya pemerintah pusat akan memberesi Citarum. Menko Kemaritiman Luhut B Pandjaitan menegaskan pemerintah akan bergerak cepat dan bertindak tegas mengatasi Citarum yang sangat parah dan berbahaya itu.

Citarum mestinya harus menjadi contoh terakhir kebiasaan buruk kita menyelesaikan persoalan penting menunggu pemberitaan dunia. Citarum pertama-tama soal kita, bukan mereka (orang luar). Ia mengancam kehidupan khususnya warga Jawa Barat. Kita mafhum sepenuhnya dengan karakter masyarakat Jawa Barat yang religius.

Karena itu, religiositas juga penting dimiliki para calon pemimpin di provinsi ini. Inilah temuan beberapa pengamat politik menjelang Pilkada 2018. Mestinya salah satu wujud masyarakat religius ialah menjaga bumi sebagai ciptaan Tuhan dari kehancuran. Bukankah Tuhan melarang dengan tegas umatnya membuat kehancuran di muka bumi?



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima