Beras

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
17/1/2018 05:32
Beras
(ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin)

BERAS bagi Indonesia bukan hanya masalah ekonomi, melainkan juga politik. Kalau sudah berurusan dengan komoditas yang satu ini, apa pun bisa dikemas menjadi isu. Ketika membiarkan harga beras tidak terkendali, pemerintah dianggap tidak peduli kepada rakyat. Sebaliknya, ketika mengambil langkah untuk mengendalikannya, pemerintah dianggap tidak pro kepada petani.

Kita bisa lihat semua itu sekarang ini. Sejak Desember lalu kita mengetahui inflasi meningkat tajam dan itu terutama disumbangkan sektor makanan. Inflasi 0,71% pada Desember, sebesar 0,46% berasal dari makanan, khususnya beras. Banjir di beberapa sentra produksi memengaruhi pasokan ke pasar sehingga membuat harga melambung tinggi.

Tidak usah heran apabila awal Januari kita melihat harga beras mulai meningkat tajam. Kenaikannya bahkan boleh dikatakan sangat signifikan karena di atas 10%. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN), harga rata-rata beras kualitas medium I di Jakarta, misalnya, telah mencapai Rp13.600 per kilogram atau melewati batas harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp9.450 per kilogram.

Operasi pasar yang dilakukan ternyata tidak mampu meredam kenaikan harga. Hanya di daerah sentra produksi yang pasokannya mampu tersedia, sementara di banyak daerah lain pasokannya jauh di bawah kebutuhan. Itulah yang membuat rapat di Kantor Wakil Presiden memutuskan untuk melakukan impor beras jenis premium sebanyak 500 ribu ton.

Hal yang harus menjadi perhatian kita bukanlah persoalan impor beras. Langkah itu hanyalah jawaban sementara atas persoalan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. Pemerintah tidak punya pilihan lain kecuali meredam gejolak harga dengan membanjiri pasokan beras. Yang jauh lebih penting ialah bagaimana membuat produksi beras itu bukan hanya sekadar data di atas kertas, melainkan memang sungguh-sungguh terjadi.

Yang pertama, kita harus mengubah cara produksi padi. Tidak bisa terus kita mengandalkan pola yang sudah berjalan turun-temurun yakni hanya mengandalkan panen rendeng dan panen gadu. Kita harus memulai untuk menerapkan teknologi dalam budi daya padi agar memungkinkan panen itu bisa dilakukan setiap saat.

Tugas para penelitilah untuk bisa merealisasikan semua itu. Kita harus bisa melakukan cara seperti yang dilakukan ilmuwan pertanian Israel. Bagaimana mereka bisa mengembangkan budi daya yang memungkinkan mereka bisa melakukan panen pertanian sepanjang tahun sehingga mampu mencapai swasembada pangan.

Pertanian kita umumnya masih dikelola secara tradisional. Nyaris tidak ada terobosan besar yang dibuat. Tidak usah heran apabila produktivitas pertanian kita tidak pernah bisa meningkat tajam. Apalagi untuk tanaman padi, alih fungsi lahannya terjadi besar-besaran. Kita sering bingung kalau ada pejabat yang mengatakan produksi padi kita meningkat apalagi disebut bisa swasembada.

Tidak usah heran apabila Ombudsman Republik Indonesia menyebut ada mala-administrasi dalam data produksi beras nasional. Istilah swasembada beras dikatakan menyesatkan karena kemudian membuat perencanaan stok pangan nasional menjadi keliru dibuat. Apa yang terjadi sekarang ini merupakan akibat dari kekeliruan itu.

Kita harus membuat perubahan besar apabila tidak mau terus terjerumus kepada arah kebijakan yang keliru. Dimulai dengan memperbaiki data jumlah petani dan luasan lahan yang ada. Di era teknologi informasi seperti sekarang sudah saatnya kita menghitung luasan dengan menggunakan global positioning satellite. Tidak bisa lagi dikira-kira dengan pandangan mata seorang mantri pertanian.

Data petani dan luasan lahan penting untuk menghitung sarana produksi pertanian yang dibutuhkan, kredit yang perlu disediakan, subsidi yang akan diberikan, serta infrastruktur dasar yang harus dibangun pemerintah. Bahkan, dari sana bisa diperkirakan jumlah produksi yang akan dihasilkan sehingga kita tahu langkah kontingensi yang harus dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat.

Sektor pertanian Thailand dan Vietnam bisa lebih maju dari kita karena cara pengelolaannya sudah jauh lebih modern. Mereka memasukkan teknologi untuk menopang pengembangan budi daya pertanian. Apalagi pemerintah mendukung penuh pembangunan pertanian mereka. Hampir semua produk pertanian mereka mempunyai produktivitas yang tinggi.

Apakah kita bisa melakukan itu? Pasti bisa kalau pertanian tidak hanya dilihat sebagai kegiatan politik sebab pertanian adalah kegiatan ekonomi yang memerlukan sentuhan-sentuhan inovasi. Tidak bisa lagi pertanian dikelola secara business as usual.

Apalagi kita sedang menghadapi perubahan iklim yang ekstrem sehingga menuntut kecerdasan lebih untuk bisa menjawab tantangan baru.

Kita membutuhkan pemikir yang visioner agar muncul ide yang out of the box. Visi itu harus diimplementasikan agar menjadi aksi nyata yang menghasilkan. Bahkan, implementasinya mesti dilakukan secara konsisten dan dilakukan pendampingan agar menjadi tindakan yang benar di lapangan.

Kita diingatkan bahwa tanaman adalah makhluk ciptaan Tuhan yang membutuhkan sentuhan hati. Ketika kita melakukan dengan sepenuh hati, hasilnya akan di luar dugaan. Mendiang Presiden Soeharto dan Raja Thailand Bhumibol Adulyajed merupakan contoh pemimpin yang menggunakan juga kekuatan hati dalam membangun pertanian, dan mereka berhasil meningkatkan produksi serta kesejahteraan petani.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima