Investasi dan Ekspor

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
10/1/2018 05:31
Investasi dan Ekspor
(thinkstock)

DALAM sidang kabinet pertama 2018, Presiden Joko Widodo menekankan pentingnya kita mendorong lebih pesat lagi investasi dan ekspor. Kapasitas yang kita miliki untuk bisa menarik investasi begitu besar, tetapi yang benar-benar terealisasi masih jauh di bawahnya. Ibarat manusia, Presiden menggambarkan Indonesia sebagai orang yang sehat dengan kolesterol rendah, jantung bagus, paru-paru baik, dan tidak ada darah tinggi.

Anehnya, orang yang begitu sehat ini tidak mampu berlari. Sebenarnya, hal ini bukanlah hal baru. Sejak reformasi, kita kebingungan mengapa investasi tidak pernah tumbuh signifikan di Indonesia. Investasi yang masuk jauh di bawah Tiongkok, India, dan bahkan juga Vietnam.

Padahal dari sisi politik kita jauh lebih demokratis. Dari sisi potensi, sumber daya alam yang kita miliki jauh lebih melimpah. Jumlah kelas menengah dan daya beli juga besar. Apalagi sejak tahun lalu, lembaga pemeringkat dunia seperti S&P dan Fitch memasukkan Indonesia ke kelompok negara layak investasi.

Akar persoalannya terletak pada sikap kita melihat pengusaha. Yang namanya pengusaha hanya dilihat dari sisi negatifnya. Pengusaha hanya dilihat sebagai orang yang sekadar mencari untung. Pada zaman kolonial Belanda, pengusaha bahkan dianggap sebagai pihak yang bisa diperas sehingga kemudian balik memeras rakyat.

Sikap itu berimbas dalam cara melihat kinerja pengusaha. Ketika ada pengusaha menjadi besar, kita mudah curiga. Bahkan ketika mereka mendapatkan untung, kita melihat sebagai sebuah kesalahan. Padahal ketika pengusaha itu untung, pajak yang disetorkan semakin besar dan bahkan dari keuntungan itu mereka bisa semakin memperbesar usahanya.

Sebaliknya, ketika pengusaha mengalami kerugian, kita justru merasa senang. Bahkan tidak jarang ketika ada pengusaha merugi, dicari kesalahan bahwa kerugian itu disengaja. Tidak jarang yang dituduh sebagai rekayasa untuk mengemplang kredit. Padahal yang namanya pengusaha itu adalah profesi.

Ketika seseorang memutuskan menjadi pengusaha, seumur hidup ia akan menjadi pengusaha. Mereka berupaya membesarkan usaha agar bisa bertahan lama bahkan hingga ke generasi selanjutnya. Tidak ada pengusaha yang mau bertahan setahun atau dua tahun. Yang seperti itu bukanlah pengusaha.

Mereka hanyalah petualang yang memang tujuannya lain. Yang dilakukan hanya spekulasi sekadar untuk mencari keuntungan sesaat. Kalau Presiden sekarang ingin meningkatkan investasi, yang pertama harus dilakukan ialah bagaimana memperlakukan pengusaha sebagai profesi terhormat.

Kemudahan berusaha itu bukan hanya diucapkan atau hanya dilihat dari daftar peringkat Bank Dunia, melainkan juga benar-benar bisa nyata di lapangan. Vietnam yang baru selesai perang pada 1975 bisa maju pesat karena mereka terbuka kepada pengusaha. Rakyat

Vietnam tidak pernah melihat ke belakang sehingga pengusaha asal AS ataupun Prancis yang pernah berperang dengan mereka tetap disambut dengan tangan terbuka. Mulai dari tingkat bupati, mereka melayani para investor dan benar-benar memberikan berbagai kemudahan. Direksi PT Semen Indonesia yang menanamkan modalnya di Thang Long bisa merasakan bagaimana iklim usaha di sana.

Bandingkan dengan investasi mereka di Rembang yang tidak bisa dioperasikan meski pabrik sudah selesai dibangun. Kalau kepada BUMN saja sikap kita seperti itu, tidak usah heran terhadap pengusaha asing sikap kita pun kemudian cenderung hostile. Lihat bagaimana cara kita mengakhiri kontrak dengan investor asing seperti kasus Blok Mahakam atau PT Freeport Indonesia.

Kita menempatkan pengambilalihan sebagai kalah-menang, bukan pendekatan menang-menang agar investor mau menanamkan lagi modalnya di tempat lain. Dalam pertemuan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dengan para pemangku kepentingan Senin lalu di Jakarta disampaikan masukan bagaimana pemerintah sebaiknya bersikap agar dunia usaha mau meningkatkan investasi. Beberapa peraturan perizinan dan perpajakan harus memudahkan dan tidak menempatkan pengusaha sebagai pihak yang hanya dicari-cari kelemahannya.

Kita apresiasi sikap Menkeu yang terbuka atas masukan. Sampai disepakati agar penerimaan pajak tidak sampai mengganggu kegiatan ekonomi. Pajak dan bea cukai justru akan membantu agar perekonomian bisa berjalan lebih kencang. Saatnya kita membangun sikap saling percaya.

Tanggung jawab pembangunan dan memajukan kehidupan bangsa merupakan tugas kita bersama. Semua harus terbuka dan tidak boleh mencari untung sendiri. Kita sepakat menghukum mereka yang mencoba merugikan, tetapi mengapresiasi mereka yang berbuat baik untuk negeri ini.

Kalau kita bisa konsisten menjalankan prinsip itu, bukan mustahil kita bisa meningkatkan investasi. Kalau investasi bisa membaik, pasti ekspor pun akan meningkat seperti kita harapkan. Dari sanalah kita berharap kemajuan itu bisa menyejahterakan seluruh rakyat.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.