Resesi

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
27/6/2015 00:00
Resesi
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/SENO)
SEBUAH kenyataan, kita sedang menghadapi resesi. Pertumbuhan ekonomi melambat setidaknya dalam tiga kuartal terakhir. Nilai tukar rupiah terdepresiasi 7,7% sepanjang tahun ini. Indeks harga saham gabungan tertekan 5,7%, sementara imbal hasil surat utang negara naik 1% menjadi 8,7%.

Keadaan yang memburuk di sisi makro tecermin juga di sisi mikro. Bisnis berbagai sektor lesu. Bahkan, untuk pertama kalinya penjualan rokok turun. Dalam kondisi seperti itu, pemutusan hubungan kerja tak terhindarkan. Beberapa perusahaan sudah merasionalisasi karyawan. Kemiskinan kian menekan kehidupan masyarakat. Di beberapa daerah kelaparan terjadi.

Semua ini harus membuat pemerintah sadar, keadaan sudah tidak biasa-biasa lagi. Harus ada langkah nyata mencegah terjadinya pemburukan. Yang paling utama ialah menghentikan persepsi bahwa kondisi ke depan akan semakin memburuk. Untuk itu perlu ada big bang, langkah yang bisa dilihat dan dirasakan masyarakat bahwa pemerintah sedang bekerja. Namun, bukan kebijakan charity yang tidak membuat masyarakat produktif. Tidak bisa kondisi saat ini diselesaikan hanya dengan bagi-bagi kartu.

Pemerintah harus cepat mengeksekusi kebijakan yang sudah dirancang. Penghapusan pajak penjualan barang mewah, misalnya, harus segera dijalankan agar menggerakkan sektor riil. Stimulus moneter dari Bank Indonesia jangan hanya berhenti pada konsep. Pasti akan ada time lag dari kebijakan yang diambil. Kalau pemerintah masih ragu dengan kebijakan yang ditempuh, time lag akan kian panjang. Padahal, harapan bagi perbaikan ekonomi terletak di semester II. Puasa, Lebaran, dan tahun baru diharapkan bisa menggairahkan ekonomi yang sedang melesu.

Ada satu pandangan menarik yang disampaikan Direktur Eksekutif Prasetya Mulya, Djisman Simanjuntak, yakni pentingnya mendorong investasi. Namun, bukan investasi baru karena membutuhkan waktu lama, tetapi reinvestasi dari perusahaan yang sudah ada di Indonesia Kita kerap silau melihat sinar di luar, lupa kepada mutiara yang ada di depan kita. Padahal, di sektor otomotif, misalnya, Toyota, Daihatsu, Honda, Suzuki sudah memutuskan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi mereka.

Di kolom ini, Rabu (24/6), saya menyampaikan soal PT Freeport Indonesia yang mau menanamkan modal US$15 miliar. Investasi Rp200 triliun itu sama dengan anggaran pembangunan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Apalagi, investasinya datang dari modal yang mereka bawa dari luar, bukan menggunakan dana yang ada di bank dalam negeri.

Tugas pemerintah menegosiasikan kepentingan nasional agar kontrak itu menguntungkan Indonesia. Namun, keputusan harus segera diambil agar muncul kepercayaan bahwa kita bersahabat terhadap investasi dan masih ada perusahaan asing yang mau menanamkan modal. Ini akan memberi sinyal positif kepada pengusaha luar bahwa Indonesia masih menjadi tempat menarik untuk berinvestasi.

Saya mendapat keluhan dari seorang pengusaha yang memiliki kerja sama dengan pengusaha Tiongkok. Bagaimana pengusaha Tiongkok begitu antusias menyambut undangan Presiden Joko Widodo berinvestasi di Indonesia. Namun, mereka kini bingung karena ketidakjelasan prosedur berinvestasi. Presiden Jokowi perlu memenuhi janji seperti ketika berbicara kepada para pengusaha yang menghadiri Konferensi Asia Afrika, "If you have any problem, please call me." Sekarang saatnya membuktikan itu.

Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima