2018

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
30/12/2017 05:31
2018
(thinkstock)

TAHUN Baru 2018 segera menjelang. Harapan kita semua tahun baru membawa sesuatu yang lebih baik untuk kehidupan kita bersama. Tahun baru menjadi momentum bagi kita untuk meraih prestasi yang lebih baik. Kita sama-sama belajar dari pengalaman 2017, untuk kita lanjutkan apa yang sudah baik dan kita tinggalkan hal yang tidak baik.

Kita pantas menatap tahun baru dengan penuh optimisme. Negeri ini memiliki potensi yang besar untuk bisa menyejahterakan rakyatnya. Asal saja tidak ada salah langkah dalam mengambil langkah. Pengalaman 2017 harus menjadi pembelajaran di saat empat bulan pertama yang begitu baik terhapus oleh kebijakan yang memurukkan semuanya.

Kita perlu membangun sikap saling percaya. Jangan kita terus terjebak dalam sikap saling curiga. Tidak mungkin kita akan bisa membangun kalau semua dilihat dari kacamata teori konspirasi. Seakan ada agenda yang merugikan dalam setiap langkah yang hendak dilakukan.

Sinergi tiga sektor, pemerintah, dunia usaha, dan lembaga swadaya masyarakat, merupakan sebuah keharusan. Tentu bukan berarti tidak boleh ada saling koreksi di antara ketiganya. Namun, koreksi itu harus ditujukan untuk perbaikan, bukan sekadar saling menyalahkan.

Pemerintah, misalnya, membutuhkan penerimaan pajak untuk membiayai pembangunan. Akan tetapi, dalam upaya mengejar target penerimaan, janganlah dunia usaha dan masyarakat selalu dilihat sebagai 'penjahat' yang menghindar dari pembayaran pajak, kemudian dengan serta-merta mengejar pajak sambil mengancam untuk memidanakan.

Keinginan untuk membuat tatanan yang lebih baik tidak bisa dilakukan dengan seketika, seperti peraturan direktur jenderal pajak yang dikeluarkan akhir November lalu yang mengharuskan dunia usaha menggunakan faktur elektronik untuk setiap transaksi perdagangan. Siapa yang melanggar peraturan akan dikenai denda pajak sebesar 2%.

Bagi pihak pabrikan dan grosir, mereka tidak kesulitan dengan peraturan seperti itu. Namun, bagi pedagang eceran, peraturan itu tidak bisa tiba-tiba mereka ikuti. Karena rantai tata niaga saling terkait satu dengan yang lain, kemandekan di satu rantai merusak seluruh tatanan.

Kita lihat bagaimana industri tekstil bertumbangan karena produk mereka tidak bisa disalurkan ke konsumen dan menumpuk di pabrik. Untung Dirjen Pajak yang baru, Robert Pakpahan, cepat menyadari kondisi yang tidak menguntungkan ini. Ia segera mengeluarkan surat edaran untuk menunda pelaksanaan peraturan tersebut.

Target pajak tidak mungkin akan bisa dicapai kalau kegiatan bisnisnya tidak berjalan dengan baik. Hal lain yang perlu menjadi perhatian di tahun baru ialah perlunya menjadikan dunia usaha sebagai mitra. Presiden Bank Dunia Kim Jim-yong ketika berkunjung ke Indonesia mengingatkan pemerintah agar melibatkan dunia usaha dalam membangun infrastruktur.

Sayangnya, kita menangkap pesan itu dengan mendikotomikan antara badan usaha milik negara dan swasta. Padahal, yang ingin disampaikan, swasta nasional dan BUMN ialah dua kekuatan yang seharusnya saling melengkapi.

Seperti sekarang, dengan memerintahkan BUMN untuk membangun infrastruktur, memang pembangunan bisa dilakukan dengan cepat. Namun, risikonya, modal BUMN habis terpakai.

Ketika butuh tambahan dana, mereka melirik bank BUMN untuk mengucurkan kredit. Ketika sumber dana yang terbatas habis dipakai untuk pembangunan infrastruktur, pendanaan untuk sektor produktif yang lain menjadi tidak kebagian. Sekarang ini dengan menempatkan semua telur di dalam satu keranjang, risiko menjadi terlalu besar.

Kalau swasta bisa ikut dilibatkan, bukan hanya risiko bisa dibagi, potensi untuk terjadinya geliat ekonomi pun bisa semakin besar. Apalagi jika kontraktor di daerah bisa diajak serta, efek menetes ke bawah akan lebih dirasakan karena proyek infrastruktur bisa lebih dibuat padat karya.

Kalau ingin pertumbuhan ekonomi lebih baik pada 2018, kita harus berani memberi ruang lebih besar kepada swasta. Kita perlu belajar kepada negara-negara seperti India dan Turki yang bisa tumbuh tinggi pada kuartal III lalu. Bahkan Amerika Serikat makin pulih dari krisis dan diperkirakan bisa tumbuh 3% pada 2017.

Kuncinya ialah memberi ruang gerak kepada swasta untuk berkontribusi lebih signifikan kepada pembangunan ekonomi. Kita sering setengah hati memberi peran kepada swasta. Bahkan kadang kita tidak percaya kepada swasta. Lihat saja cara penanganan ketika krisis sedang terjadi.

Pemerintah justru memilih langkah pengetatan dan kontraksi ekonomi. Ketika krisis ekonomi menerpa Indonesia pada 1998, tingkat suku bunga bahkan dinaikkan sampai 80%. Tidak usah heran apabila dunia usaha lalu bertumbangan. Bandingkan dengan krisis mahahebat yang menimpa AS pada 2008.

Pemerintah Washington tidak hanya mengelontorkan dana penyelamatan sampai US$700 miliar, tetapi dilakukan pelonggaran ekonomi pula agar dunia usaha bisa kembali bangkit.

Hampir 10 tahun tingkat suku bunga di AS berada pada kisaran 0%-1,5%. Kalau sekarang perekonomian AS mulai pulih, itu disebabkan swasta diberi ruang gerak untuk bangkit dari krisis.

Sekarang ketika kita sedang berupaya untuk bangkit, kecurigaan pada masa lalu masih saja tinggi. Mantan Wakil Presiden Boediono dimintai keterangan lebih dari 6 jam oleh KPK untuk kasus yang terjadi pada 2002.

Kalau terus melihat kaca spion dan mencari kambing hitam, lalu kapan kita akan mulai membangun? Semoga tahun baru membawa kita pada hidup dengan sikap saling percaya, bukan terus saja curiga.



Berita Lainnya
  • Harapan dan Kepastian

    27/4/2026 05:00

    "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat.  

  • JK di Tengah Bara

    23/4/2026 05:00

    JUSUF Kalla (JK) marah betul. Wajahnya tampak tegang ketika menggelar jumpa pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).

  • Paradoks Perdamaian

    22/4/2026 05:00

    'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

  • Haji dan Hajah

    21/4/2026 05:00

    MULAI Rabu besok, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci.

  • Mata Media Amerika

    20/4/2026 05:00

    SIAPA yang awal mula menarasikan bahwa Iran-lah pemenang perang melawan Amerika Serikat dan Israel? Yang pasti bukan hanya pejabat Teheran.

  • Delusi Kemahakuasaan

    16/4/2026 05:00

    ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar.

  • Cancel Culture buat Koruptor

    15/4/2026 05:00

    KORUPSI lagi, korupsi lagi. OTT (operasi tangkap tangan) lagi, OTT lagi. Apa enggak enek mendengar berita soal pengungkapan korupsi yang terus-terusan muncul?

  • Jalan Buntu

    14/4/2026 05:00

    MENGAPA Amerika Serikat sangat bernafsu 'mengendalikan' Selat Hormuz hingga hal itu jadi penghalang kesepakatan dengan Iran?

  • Di Tengah Dua Api

    13/4/2026 05:00

    Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.

  • Jalan Ketiga tanpa Amerika

    09/4/2026 05:00

    ADA yang berubah dari arah angin geopolitik dunia. Ia tak lagi bertiup tunggal dari Amerika ke seluruh penjuru bumi.

  • Dalam Ancaman Godzilla

    08/4/2026 05:00

    DI jagat sinema, kita mengenal Godzilla sebagai monster raksasa yang muncul dari kedalaman samudra.

  • Parit Modern

    07/4/2026 05:00

    LANGKAH Iran di Selat Hormuz bukan sekadar manuver militer atau diplomasi biasa.

  • Zaman Batu

    06/4/2026 05:00

    RETORIKA keras nan aneh kembali meluncur dari Gedung Putih. Donald Trump, dalam pidatonya Jumat (3/4), tanpa tedeng aling-aling mengancam Iran.

  • Retak di Meja Halalbihalal

    02/4/2026 05:00

    HALALBIHALAL semestinya menyejukkan dan maaf-maafan. Namun, tidak di Lebak. Di kabupaten di Provinsi Banten itu, panggung halalbihalal justru menjadi etalase konflik.

  • Gotong Royong Energi

    01/4/2026 05:00

    ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel terbukti bukan sekadar tontonan geopolitik di layar kaca.

  • Trump dalam Kepungan

    31/3/2026 05:00

    PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.