Gaduh

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
27/12/2017 05:31
Gaduh
(ROMMY PUJIANTO)

TIDAK terasa 2017 akan segera berakhir. Hal yang paling kita rasakan sepanjang tahun ini adalah kegaduhan. Apa pun yang dibicarakan selalu berakhir dengan pro dan kontra yang tajam. Akibatnya, banyak energi kita terbuang sia-sia. Padahal, banyak hal bisa kita kerjakan untuk memperbaiki kehidupan kita bersama.

Bayangkan, tahun ini kita mendapatkan peringkat ‘layak investasi’ dari semua lembaga pemeringkat dunia. Bahkan pekan lalu Fitch menaikkan lagi peringkat kita dari BB menjadi BBB. Ini seharusnya menjadi modal kita untuk menarik lebih banyak investasi masuk ke negeri kita.

Namun, karena lebih suka membuat kegaduhan, kita melepas semua peluang emas itu. Para pengusaha tetap saja bersikap ‘wait and see’. Sampai-sampai Presiden Joko Widodo bertanya heran, “Apa lagi sih yang ditunggu itu? Apa lagi yang mau dilihat itu?” Persoalan terletak pada cara pendekatan yang kita lakukan.

Kita bisa mengambil contoh pembelian aset besar yang terjadi pada 2017. Tahun ini ada dua divestasi besar yang dilakukan perusahaan raksasa AS. Pertama, pelepasan aset pembangkit panas bumi yang dikelola Chevron. Kedua ialah persetujuan yang diberikan Freeport McMoran untuk memberi kesempatan Indonesia memiliki 51% saham di PT Freeport Indonesia.

Dalam kasus yang pertama, pelepasan aset Chevron berlangsung lancar dan nyaris tidak ada kegaduhan yang terjadi. Star Energy milik pengusaha Prajogo Pangestu mengambil alih dua aset Chevron yang ada Gunung Darajat Garut dan Gunung Salak Bogor serta satu pembangkit panas bumi yang ada di Filipina.

Star Energy membeli aset perusahaan raksasa energi dunia itu senilai US$2,3 miliar. Pengambilalihan aset Chevron oleh pengusaha Indonesia dengan mengungguli dua perusahaan raksasa Jepang sangatlah luar biasa. Ternyata pengusaha Indonesia mampu berdiri sejajar dengan perusahaan kelas dunia dan dipercaya untuk bisa membeli aset milik perusahaan AS.

Saat penandatanganan kontrak pembelian di Singapura, Presdir Chevron John S Watson mengapresiasi langkah Star Energy yang dinilainya mampu memenuhi semua komitmen tepat waktu. Hal yang berbeda terjadi dalam pembelian PT Freeport Indonesia. Pertemuan antara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, serta pimpinan Freeport McMoran Richard Adkerson pada awalnya sebenarnya membuka lembaran baru.

Pihak Freeport untuk pertama kalinya memberi persetujuan untuk melepas saham dan menjadikan Indonesia sebagai pemegang saham mayoritas. Langkah pengambilalihan kemudian dirancang dengan menunjuk PT Inalum sebagai pemegang saham mayoritas Indonesia. Bahkan untuk memperkuat PT Inalum, Kementerian Badan Usaha Milik Negara membentuk perusahaan induk pertambangan.

PT Aneka Tambang, PT Bukit Asam, dan PT Timah dimasukkan ke perusahaan induk dengan PT Inalum sebagai motornya. Sebagai ketua tim negosiasi, Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Teguh Pamudji sudah menempuh jalan yang benar. Untuk mendapatkan 51% saham PT Freeport Indonesia, mereka pertama mengakuisisi 40% participating interest milik Rio Tinto.

Pihak Freeport sudah menyetujui participating interest itu bisa dikonversi menjadi saham. Selanjutnya, pemerintah Indonesia tinggal membeli sekitar 6% saham Freeport McMoran sebagai tambahan untuk menggenapi 51% saham yang kita inginkan. Selanjutnya, pemerintah seharusnya menjelaskan kepada publik langkah yang mereka lakukan itu.

Pihak Freeport pun pekan lalu sudah hadir di Jakarta untuk menandatangani kesepakatan yang sudah pernah disetujui. Namun, entah mengapa, pemerintah tidak mengeksekusi rencananya dan membiarkan keputusan kembali mengambang. Apa akibat yang terjadi? Kegaduhan baru muncul kembali.

Beberapa pengamat melempar isu divestasi PT Freeport batal dilakukan. Seperti biasa isu itu memancing berbagai macam reaksi. Pihak Freeport akhirnya kembali ke negaranya tanpa kepastian. Pemerintah sendiri hanya menggunakan posisi ‘bertahan dengan double cover’ atas berbagai isu yang terjadi.

Ketidakjelasan ini membuat kegiatan bisnis menjadi terhambat. Ribuan karyawan Freeport di Timika kembali bekerja di tengah ketidakpastian. Bahkan dari kacamata investor dunia, ini menunjukkan ketidakjelasan dalam berbisnis di Indonesia. Seakan tidak ada keselarasan antara ucapan dan tindakan dari para pengambil keputusan di Indonesia.

Padahal, tidaklah mungkin kita terus seperti burung unta yang membenamkan kepala ke dalam pasir. Pada akhirnya keputusan harus diambil. Kalaupun ada biaya yang harus dibayar, itu merupakan bagian dari risiko bisnis karena kita memang menginginkan pengambilalihan PT Freeport Indonesia.

Semakin lama kita membiarkan persoalan ini menggantung, semakin panjang persepsi buruk yang harus kita terima. Tidak usah heran apabila banyak investor enggan menanamkan modal mereka di Indonesia, sebab keputusan itu bukan hanya lama, melainkan juga penuh dengan ketidakpastian.

Kalau kita cepat mengambil keputusan, berbagai isu yang tidak perlu bisa dihindarkan. Seperti yang dilakukan Star Energy, kini operasi pengelolaan panas bumi sudah mereka pegang sepenuhnya. Selanjutnya, tinggal kecerdikan Star Energy untuk bisa membuat aset itu memberi manfaat optimal bagi perusahaan. Freeport pun masih menyimpan potensi yang besar. Buktinya sampai November lalu, menurut Dirjen Anggaran Askolani, dividen yang disetorkan ke negara sebesar Rp1,4 triliun. Itu untuk kepemilikan saham sekitar 9,36%.



Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima