Bahasa

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
26/6/2015 00:00
Bahasa
()
"SEPERTI ada upaya sengaja kini bahasa Indonesia seperti dipinggirkan. Nama-nama perumahan, apartemen, pusat perbelanjaan bertaburan dengan nama-nama asing. Alasan para pengusaha, nama asing lebih menjual dalam dunia dagang. Ini kan gak benar."

Laksamana TNI (Purn) Slamet Soebijanto-lah yang mengungkapkan kegundahan itu. "Ini fenomena yang sungguh menghina bahasa Indonesia yang berjasa besar mempersatukan bangsa ini," kritik Kepala Staf TNI Angkatan Laut (2005-2007) itu dalam sebuah obrolan, pekan silam.

Saya setuju sang laksamana. Saya tak akan menyebut contoh produk dari para pengembang yang terjangkit 'penyakit' senomania karena terlalu banyak. Tak hanya wilayah Jabodetabek, tapi juga di kota-kota lain. Bahkan, permakaman, tempat bersemayam jasad para mendiang kaum berada, juga bernama asing.

Padahal, UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara tegas melarang. Pasal 36 Ayat 3 menyebut, 'Bahasa Indonesia wajib digunakan untuk nama bangunan atau gedung, jalan, apartemen atau permukiman, perkantoran, kompleks perdagangan, merek dagang, lembaga usaha, lembaha pendidikan, oraganisasi yang dimiliki oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia'.

Ayat 4 membolehkan memakai bahasa daerah atau asing, tapi jika memiliki nilai sejarah, budaya, adat istiadat, dan/atau keagamaan. Namun, bila dicermati, berbagai merek dagang dengan bahasa asing itu tak ada kaitannya sama sekali dengan semua itu. Ini ideologi konsumerisme yang tengah diciptakan para saudagar yang semata-mata mencari untung dan tak memikirkan kekayaan kultural negeri dan bangsa mereka sendiri.

Mereka tengah mempromosikan bahasa asing (Inggris) lebih berkelas bagi kaum berada. Mereka tak saja tengah meraup keuntungan, tetapi juga tengah menciptakan status, kelas, dan jarak dengan rakyat Indonesia pada umumnya. Bahwa mereka lebih eksklusif! Tentu saja lebih individualistis.

Itu tak terbatas pada dunia niaga. Apa yang ditulis Norimitsu Onishi di New York Times lima tahun lalu, "As English Spreads, Indonesians Fear for Their Language" itulah realitas dan ironi kita. Sebuah artikel yang menceritakan tiga anak Paulina Sugiarto di Jakarta yang amat fasih berbahasa Inggris, tapi tak cakap berbahasa Indonesia. Sang ibu yang pernah mengenyam pendidikan di Australia dan Amerika, tak mengajarkan bahasa Indonesia.

Keluarga Pualina hanyalah salah satu contoh. Betapa banyak kasus serupa itu. Kita sepakat bahasa Inggris amat penting. Namun, meminggirkan bahasa Indonesia sama juga menghancurkan identitas keindonesiaan.

Seorang Barat dalam sebuah acara di The Habibie Center pernah menyatakan kekagumannya pada bahasa Indonesia. "Banyak spekulasi ketika Indonesia krisis setelah pergantian rezim dari Soeharto, negeri ini akan pecah. Saya kira yang berjasa besar Indonesia tetap bersatu karena bangsa ini punya Bahasa Indonesia. Ini mengagumkan."

"Bahasa adalah pakaian bagi pikiran," kata penyair Inggris abad 18 Samuel Johnson. "Jika pikiran merusak bahasa, bahasa juga dapat merusak pikiran," lanjut sastrawan George Orwell.

Bagi saya, perusakan/peminggiran bahasa Indonesia sama dengan upaya pelapukan bidang-bidang lain yang selama ini terjadi di negeri ini. Sebelum semuanya rusak dan hancur, pemerintahan Jokowi, dengan Nawa Citanya, punya tugas besar menertibkan para perusak itu.

Berita Lainnya
  • Resonansi dari Pati

    09/8/2025 05:00

    Pemimpin dianggap berhasil bila ia mampu memainkan peran sebagai pelayan bagi rakyat.

  • Semakin Dilarang semakin Berkibar

    08/8/2025 05:00

    FENOMENA bendera Jolly Roger yang diambil dari anime One Piece sungguh menarik dan kiranya layak dijadikan kajian.

  • Menerungku Silfester

    07/8/2025 05:00

    KATANYA di negeri ini setiap warga negara sama kedudukannya di depan hukum.

  • Harapan dalam Angka

    06/8/2025 05:00

    PEOPLE use all available information to form rational expectations about the future 

  • Ampun Dah

    05/8/2025 05:00

    USIA 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia sebentar lagi kita rayakan. Sebagian besar rakyat Indonesia menyambutnya dengan sukacita.

  • Amnesti tanpa Amnesia

    04/8/2025 05:00

    BISIK-BISIK tentang orang kuat di pasar gelap peradilan semakin santer.  

  • Abolisi, Amnesti, Rekonsiliasi

    02/8/2025 05:00

    PENGUASA juga manusia. Karena itu, watak kemanusiaan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu.

  • Belajar dari Vietnam

    01/8/2025 05:00

    KEKALAHAN tim nasional U-23 dari Vietnam pada laga final Piala AFF U-23 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta,

  • Insinuasi Jokowi

    31/7/2025 05:00

    ENGKAU yang berinsinuasi, engkau yang sibuk mengklarifikasi. Kau yang melempar tuduhan, kau pula yang repot melakukan bantahan.

  • Masih Rojali-Rohana

    30/7/2025 05:00

    TULISAN saya di rubrik Podium edisi Sabtu, 26 Juli 2025, berjudul Rojali-Rohana, memantik sejumlah tanya dari beberapa kawan dan kerabat.

  • Gurita Serakahnomics

    29/7/2025 05:00

    FENOMENA keserakahan dalam menjarah sumber daya ekonomi atau hajat hidup orang banyak sebenarnya bukan perkara baru di Tanah Air.

  • Destinasi Wisata Proyek Mangkrak

    28/7/2025 05:00

    JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.

  • Rojali-Rohana

    26/7/2025 05:00

    SAYA tak bermaksud pesimistis tentang soal yang satu ini. Saya cuma ingin bersikap realistis.

  • Superman Sungguhan

    25/7/2025 05:00

    'Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan'.

  • Tom Lembong

    24/7/2025 05:00

    VONIS untuk Thomas Trikasih Lembong dalam kasus korupsi importasi gula disikapi secara berbeda.

  • Tamparan Sahdan

    23/7/2025 05:00

    BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima