LAIN pemimpin lain rakyat. Itulah yang terjadi di Australia dalam merespons eksekusi mati yang diputus hukum Indonesia terhadap Andrew Chan dan Myuran Sukumaran. Perdana Menteri Australia Tony Abbott berang bukan kepalang. Ia mengungkit bantuan US$17 juta (sekitar Rp13 triliun) untuk tsunami Aceh pada 2004. Namun, hasil survei menunjukkan mayo ritas (52%) rakyat Australia setuju hukuman mati.
Survei SMS Morgan Poll itu melibatkan 2.123 warga Australia, 23-27 Januari 2015, sebagaimana dikutip laman Roy Morgan Research. Sikap setuju hukuman mati terhadap dua penyelundup heroin 8,2 kg itu menyeluruh di enam negara bagian, kecuali Victoria. Beverly Neal, seorang ibu di Melbourne, mengatakan, ''Mereka (Chan dan Sukumaran) ialah penjahat yang seolah-olah dijadikan pahlawan,'' ujarnya seperti dilansir News.com.au, Sabtu (21/2).
Neal punya pengalaman getir. Sang putri tercinta, Jeniffer Neal, 17, mahasiswi jurusan bisnis, pada 1987 tewas akibat overdosis heroin. Ia yakin, jika penjahat duo Bali Nine tak tertangkap, akan banyak nyawa terenggut. Neal minta orangtua kedua penjahat itu ikhlas. ''Mereka masih bisa mengucapkan selamat tinggal, sedangkan aku tidak,'' ujarnya.
Abbott telah minta maaf atas ucapannya, tapi ketersinggungan kita telanjur naik ke ubun-ubun. Para mahasiswa, aktivis, anggota DPR, dan akademisi satu suara: Abbott merendahkan Indonesia. Bantuan tsunami soal kemanusiaan, sedangkan hukuman mati kejahatan besar yang menghancurkan kemanusiaan. Jokowi pun kukuh, tak akan memberi grasi.
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Aceh memelopori pengumpulan koin untuk membayar bantuan itu. Aksi itu merebak hingga Jakarta. ''Kita siap kembalikan dana itu dan kami meminta hukuman mati tetap dilanjutkan untuk menyelematkan generasi muda Aceh dan Indonesia,'' kata Ketua KAMMI Aceh Darlis Aziz.
'Gerakan koin' lewat media sosial dengan tagar #KoinUntukAustralia dan #KoinforAustralia plus gambar mulut Tonny Abbott diberi tanda silang merah menyulut pro-kontra di Australia. ''Anda akan mengumpulkan uang dan pejabat korup Anda akan menyimpannya,'' kicau Peter Johnson, pemilik akun @cree999.
Saya 'menikmati' kepanikan Tonny Abbott.Juga reaksi keras Presiden Brasil Dilma Rousseff yang menarik dubesnya dari Jakarta dan menolak surat kepercayaan Dubes RI untuk Brasil Toto Riyanto. Warga Brasil, Marco Archer, dihukum mati, Minggu (18/1), dan Rodrigo Gularte akan menyusul karena kejahatan narkotika.
Brasil, meski lebih keterlaluan, karena tak punya problem historis-psikologis seperti Australia yang bertetangga, tak menyulut kemarahan tinggi. Sejak dulu Indonesia-Australia kerap panas-dingin. Kala Orde Baru ada jenderal yang dengan santai bilang, ''Australia itu seperti usus buntu. Baru terasa sakit kalau masuk benda berbahaya.'' Mantan Wakil Presiden Adam Malik memperkuatnya, ''Kita baru tahu di sebelah selatan kita ada orang berkulit putih.''
Kini Australia mengusik lagi. Rakyat menjawab lewat berbagai aksi, termasuk aksi koin. Pemerintah cukup menjawab normatif. Ketika negara lain bereaksi keras karena kita menjalankan amanah konstitusi dengan teguh, artinya wibawa negara tengah ditegakkan. Para tetangga, termasuk Australia, sesungguhnya 'para penguji wibawa negara yang ampuh'. Asal kita tepat mengelolanya. Dengan hukuman mati ini, misalnya, PM Abbott terlihat sangat 'abot' (berat) menyikapinya.
JIKA melintasi Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia-Afrika, Jakarta Pusat, Anda akan menemukan tiang beton. Terdapat 90 tiang beton yang dibangun sejak 2004.
BANYAK yang bangga dengan Sahdan Arya Maulana, termasuk saya. Di usianya yang masih amat muda, 19, ia berani menolak pemberian uang yang bagi dia kurang pas untuk diterima